- Presiden Trump mengklarifikasi Sabtu (3/1/2026) bahwa AS tidak berencana serangan militer terhadap Kuba pasca operasi Venezuela.
- Washington sukses menangkap Presiden Maduro di Venezuela, memicu tuntutan sidang darurat Dewan Keamanan PBB oleh Caracas.
- Trump mengkritik keras sistem politik Kuba yang gagal, menjadikannya fokus pembahasan diplomatik tanpa intervensi senjata.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akhirnya memberikan klarifikasi mengenai langkah diplomatik dan militer Washington di kawasan Amerika Latin selanjutnya.
Setelah menghebohkan dunia dengan operasi militer di Venezuela, Trump menyatakan bahwa saat ini tidak ada agenda serangan serupa yang diarahkan ke Kuba.
Dalam sesi wawancara eksklusif bersama media The New York Post pada Sabtu (3/1/2026), Trump menjawab spekulasi mengenai kemungkinan aksi militer AS terhadap Havana.
Ia menegaskan bahwa intervensi bersenjata terhadap Kuba tidak masuk dalam rencana jangka pendek pemerintahannya.
Meski mengesampingkan opsi militer, Trump tetap melontarkan kritik pedas terhadap pemerintahan Kuba. Ia menjuluki negara cerutu tersebut sebagai "negara yang sedang gagal" (failing nation).
Menurut penilaiannya, model ekonomi dan sistem politik yang dianut Kuba terbukti tidak efektif dan justru menyengsarakan rakyatnya sendiri.
"Kuba tengah menghadapi kesulitan serius dan sistem yang diterapkan selama ini tidak membawa hasil yang diharapkan," ujar Trump, dikutip via Sputnik.
Ia menambahkan bahwa kondisi internal Kuba tetap menjadi perhatian serius Washington dan akan menjadi topik pembahasan diplomatik yang mendalam di masa depan, namun ditekankan kembali bahwa jalurnya bukanlah melalui operasi tempur.
Kronologi Serangan AS di Venezuela
Baca Juga: Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik Tidak Lama Setelah Serangan AS ke Venezuela
Pernyataan Trump ini muncul hanya beberapa saat setelah Washington mengumumkan keberhasilan operasi besar-besaran di Venezuela.
Trump mengklaim bahwa pasukan AS telah menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dan membawa mereka keluar dari wilayah Venezuela.
Laporan media setempat menyebutkan bahwa serangkaian ledakan hebat terdengar di Caracas. Operasi tingkat tinggi ini diduga kuat melibatkan unit komando elit Delta Force.
Langkah agresif AS ini seketika memicu gelombang protes diplomatik dan kekhawatiran akan stabilitas di kawasan Amerika Selatan.
Menanggapi penangkapan pemimpin mereka, Kementerian Luar Negeri Venezuela langsung bergerak cepat mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengadakan sidang darurat.
Mereka menuding Amerika Serikat telah melakukan agresi ilegal terhadap negara berdaulat.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 7 Sunscreen Tone Up Terbaik untuk Kulit Kusam sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
Terkini
-
Jejak Kelam Tenda Biru Bekasi: 8 Anak Dijual Jadi PSK, Omzet Tembus Rp1,7 Miliar
-
Nasib RUU Pemilu Digantung? Komisi II Buka-bukaan Disuruh 'Tunggu' Oleh Pimpinan DPR
-
Brankas Jumbo Ditemukan di Balik Lemari Cafe Cipete, Diduga Simpan Bukti Korupsi PLTU
-
Kolaborasi dengan China, Menkes Ungkap Ada Peluang Indonesia Produksi Vaksin DBD Berbasis mRNA
-
Dugaan Perundungan PPDS Anestesi Unsrat Diaudit, Kemenkes Target Rampung 2 Pekan
-
Demokrat Warning 'Agenda Terselubung' di RUU Pemilu, Ada Upaya Batasi Pencalonan Presiden!
-
Massa Pendukung MBG Kecewa Berat, Pimpinan BGN Ogah Temui Pendemo
-
Target Rampung Sebelum 2029, Restorasi Candi Prambanan Diprediksi Pikat Turis India
-
Polri Geledah 8 Lokasi Terkait Dugaan Korupsi dan TPPU Kasus PLN, Asabri, hingga Krakatau Steel
-
Polisi Tetapkan 7 Tersangka Pembunuh Pilot Nicholas Goselin, Ini Perannya