News / Metropolitan
Senin, 05 Januari 2026 | 12:49 WIB
Ilustrasi tawuran warga di Mangagrai. (tangkap layar/ ist)
Baca 10 detik
  • Tawuran pecah di Jakarta pasca tahun baru, khususnya di Manggarai, memicu sorotan publik dan komentar pengamat sosial.
  • Pengamat menyarankan penataan fisik permukiman padat dan penyediaan aktivitas sosial positif sebagai solusi emosi warga.
  • Pemprov DKI Jakarta menyatakan mempertimbangkan masukan publik sambil menuntut partisipasi masyarakat dan penegakan hukum tegas.

Suara.com - Pecahnya tawuran di beberapa wilayah Jakarta selepas pergantian tahun mendapat sorotan publik.

Hal itu tak lepas dari gesekan antar warga di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan yang sampai terjadi dua hari berturut-turut.

Pengamat social, Rissalwan Handy Lubis, pun sempat berkomentar mengenai kondisi pemukiman padat yang memicu tingkat stres tinggi pada warga sehingga mudah tersulut emosi.

Rissalwan menilai, penataan fisik kawasan dan penyediaan aktivitas sosial yang positif mutlak diperlukan agar energi warga dapat tersalurkan dengan baik.

"Harusnya ditata lah pemukiman di situ ya, kemudian diberikan aktivitas yang positif ya secara sosial, jadi energinya tersalur gitu," kata Rissalwan saat berbincang dengan Suara.com baru-baru ini.

Usulan ini dianggap sebagai salah satu upaya memutus rantai dendam lama dan konflik turun-temurun di wilayah rawan gesekan seperti Manggarai.

Tawuran Pecah di Manggarai

Seperti dibeirtakan, tawuran yang melibatkan warga Gang Tuyul RW 04 dan warga RW 012 kembali pecah di Terowongan Manggarai, Jalan Dr. Soepomo, Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan, pada Jumat sore sekitar pukul 15.00 WIB.

Kepolisian sampai harus menggunakan gas air mata untuk membubarkan tawuran.

Baca Juga: Polisi Tembakkan Gas Air Mata Bubarkan Tawuran di Terowongan Manggarai

"Iya pakai gas air mata biar cepat bubar," kata Kasi Humas Polres Jakarta Selatan, AKBP Murodih kepada wartawan di Jakarta, Jumat.

Murodih mengatakan tujuan penggunaan gas air mata selain untuk membubarkan aksi tawuran, juga demi membuat situasi kondusif, sehingga tidak mengganggu pengguna jalan.

"Biar cepat bubar dan tidak mengganggu masyarakat pengguna jalan," ucapnya.

Pemprov DKI sendiri sudah sejak bulan November 2025 kemarin mengadakan Satgas Jaga Jakarta untuk menangani isu kerawanan sosial seperti tawuran, konflik antarwarga, hingga kriminalitas.

Load More