Suara.com - Peran Muhtadin Yanto (33) sebagai wali asrama di Asrama Putra Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 9 Kota Bandung kerap luput dari perhatian. Namun, melalui perannya, pembentukan karakter positif para siswa dapat terwujud.
"Kita beban moralnya itu, harus mendampingi anak selama di asrama, karena memang di asrama itu ya bisa dibilang tiga kali jam (pelajaran) sekolah," kata Muhtadin saat ditemui beberapa waktu lalu.
Saat ini, SRMP 9 Kota Bandung membina 47 siswa yang tinggal di dua bangunan asrama terpisah untuk putra dan putri. Masing-masing asrama berada di bawah pengawasan satu wali asrama.
Tugas wali asrama tidak hanya memastikan kebutuhan dasar siswa terpenuhi, tetapi juga mengawasi rutinitas harian mereka, mulai dari bangun pagi, mengikuti kegiatan sesuai jadwal, hingga beristirahat tepat waktu.
Mendidik siswa dengan latar belakang beragam menjadi tantangan tersendiri. Muhtadin mengakui bahwa tiga bulan pertama merupakan masa yang cukup berat, terutama dalam membentuk kebiasaan disiplin dan keteraturan.
"Ya memang buat pengondisian, tiga bulan awal lumayan repot ya pembiasaannya," ujar Muhtadin.
Selain menanamkan nilai disiplin dan kemandirian, ia juga berupaya memperbaiki perilaku siswa yang sebelumnya kurang baik. Ia pernah mendapati siswa yang berbicara kasar maupun terlibat konflik. Namun, perubahan positif mulai terlihat, termasuk kebiasaan bangun lebih awal dan mandi sebelum waktu Subuh.
"Jadi memang itu luar biasa, tapi alhamdulillah sekarang ya, semuanya berubah. Jadi sebelum Subuh sekarang udah pada mandi semua," tuturnya.
Perkembangan siswa juga tercermin dari meningkatnya kemandirian serta berkurangnya ketergantungan pada gawai. Menurutnya, upaya edukasi yang dilakukan secara bertahap bersama guru dan wali asuh sangat penting, mengingat penggunaan gadget yang berlebihan dapat memengaruhi konsentrasi dan emosi siswa.
Baca Juga: Gus Ipul Ajak ASN Kemensos Turun Ground Check DTSEN
"Kita tetap bertahap mengedukasi, karena kan tantangan generasi sekarang itu kan gadget adiktif ya. Itu mengurangi konsentrasi mereka, emosi mereka," jelasnya.
Di balik pengabdiannya, Muhtadin harus menerima kenyataan tinggal jauh dari keluarganya di Sukabumi, Jawa Barat. Ia memandang pengorbanan tersebut sebagai bagian dari kontribusinya dalam mendukung upaya pengentasan kemiskinan.
Ia meyakini program Sekolah Rakyat merupakan langkah strategis untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, pendidikan menjadi solusi jangka panjang yang lebih efektif dibandingkan sekadar pemberian bantuan sosial.
"Sekolah Rakyat harus sukses ya, karena memang dengan cara apa lagi, pengentasan kemiskinan ya, kecuali dengan generasinya itu diputus gitu," ujarnya.
Keyakinan tersebut menjadi sumber motivasi bagi Muhtadin untuk tetap bertahan menghadapi berbagai dinamika selama satu semester pelaksanaan program Sekolah Rakyat, dengan segala tantangan dan pengalaman yang menyertainya.***
Berita Terkait
-
DTSEN Rayakan Satu Tahun, Pemutakhiran Data Terus Diperkuat
-
Wamensos Agus Jabo: Siswa Sekolah Rakyat Masuk Tanpa Seleksi Akademis
-
Hari Ini, Puluhan Ribu Petugas Mulai Verifikasi Lapangan Peserta PBI-JK
-
Latih Operator Dinsos Cara Reaktivasi BPJS PBI, Kemensos Pastikan Pengajuan Bisa Sehari Selesai
-
Kemensos Pandu Operator Dinsos se-Indonesia Cara Reaktivasi PBI JK
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik
-
Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik