- Densus 88 Polri mengungkap 70 anak usia 11-18 tahun terpapar konten kekerasan ekstrem dalam grup *true crime community* di 19 provinsi.
- Mayoritas anggota grup tersebut bergabung karena mengalami perundungan atau kondisi keluarga yang tidak utuh sebagai pencarian penerimaan.
- Komunitas ini menyebar secara organik melalui konten digital seperti video dan meme, bukan merupakan organisasi terstruktur.
Suara.com - Sebuah fenomena mengkhawatirkan terungkap dari balik layar dunia digital anak-anak Indonesia. Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri membongkar keberadaan sebuah grup true crime community yang ternyata menjadi 'rumah' bagi 70 anak, di mana mereka terpapar konten kekerasan ekstrem.
Temuan ini menjadi alarm keras bagi para orang tua dan masyarakat, menunjukkan sisi gelap dari komunitas yang seringkali dianggap sekadar hobi membahas kasus-kasus kriminal.
Kenyataannya, grup ini telah menjadi wadah bagi paham berbahaya yang menyasar anak-anak rentan.
Juru Bicara Densus 88, Komisaris Besar Polisi Mayndra Eka Wardhana, memaparkan skala masalah yang ternyata sudah cukup meluas. Puluhan anak yang teridentifikasi ini tersebar di 19 provinsi di seluruh Indonesia.
"Di mana provinsi yang terbanyak, yaitu DKI Jakarta ada 15 orang, kemudian Jawa Barat 12 orang, dan Jawa Timur 11 orang. Setelah itu menyebar di beberapa daerah," katanya dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Profil usia para anggota grup ini pun semakin menambah keprihatinan. Mereka berada pada rentang usia yang sangat krusial, yakni 11 hingga 18 tahun, fase di mana pencarian jati diri sedang gencar-gencarnya terjadi.
"Didominasi oleh umur 15 tahun. Jadi, transisi antara SMP ke SMA," ucap Mayndra sebagaimana dilansir Antara.
Dari total 70 anak yang ditemukan, Densus 88 bergerak cepat dengan melakukan intervensi terhadap 67 di antaranya.
Langkah-langkah seperti asesmen psikologis, pemetaan jaringan, hingga konseling intensif dilakukan bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memutus rantai paparan ekstremisme.
Baca Juga: Banyak Anak Indonesia Terpapar Paham Neo-Nazi, Densus 88 Antiteror: Kurang Filter dari Negara
Mengapa Mereka Bergabung? Pemicunya Bikin Miris
Lebih dalam, hasil asesmen Densus 88 mengidentifikasi sejumlah luka batin dan masalah sosial yang menjadi pintu masuk bagi anak-anak ini ke dalam komunitas berbahaya tersebut.
Pemicu pertama dan yang paling umum adalah perundungan atau bullying. Mayoritas dari mereka adalah korban yang kerap diintimidasi, baik di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal, membuat mereka merasa terasing dan tidak berdaya.
Faktor kedua adalah kondisi keluarga yang tidak utuh atau broken home. Latar belakang seperti orang tua bercerai, meninggal dunia, kurangnya perhatian, hingga trauma akibat menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menjadi benang merah yang kuat.
Grup ini kemudian menawarkan apa yang tidak mereka dapatkan di rumah, yakni penerimaan dan rasa memiliki.
"Di sini (grup true crime community), mereka merasa memiliki rumah kedua karena di dalam komunitas ini, aspirasi mereka bisa didengarkan oleh rekan-rekannya, bisa terjadi interaksi, dialog, dan saling memberikan masukan untuk menyelesaikan solusinya masing-masing, tentunya dengan kekerasan-kekerasan tersebut," kata Mayndra.
Berita Terkait
-
Banyak Anak Indonesia Terpapar Paham Neo-Nazi, Densus 88 Antiteror: Kurang Filter dari Negara
-
Densus 88: Ideologi Neo Nazi dan White Supremacy Menyasar Anak Lewat Game Online!
-
Anak SD Diduga Bunuh Ibu di Medan: Kejanggalan Kasus dan Mengapa Polisi Sangat Berhati-hati
-
Han So Hee dan Jeon Jong Seo Lakukan Aksi Kriminal Penuh Risiko di Project Y
-
Jenazah Alvaro Kiano Nugroho Diserahkan Kembali ke Keluarga
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Durian Musang King dan Black Thorn Jadi Komoditas Baru Andalan Sulsel
Pilihan
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
Terkini
-
Jejak Densus 88 Kuntit Jampidsus di Cafe de'CLAN Signature: Kini Ditemukan Brankas Dolar Rp67 M!
-
Bareskrim Rampungkan Berkas Kasus Impor Handphone Ilegal, Tiga Tersangka Segera Disidang
-
Mengapa Pengembalian Amplop Belum Tentu Membebaskan Raja Juli Antoni dari Pidana?
-
Sembunyi di Balik Lemari! Polisi Sita Rp67 M dari Cafe de'CLAN yang Diduga Milik Jampidsus Febrie
-
Brankas Berisi Dolar Disita di Cafe de'CLAN, Nama Jampidsus Febrie Adriansyah Ikut Terseret
-
Dari Cafe de'CLAN Signature ke Pacific Place, Polisi Kejar Aliran Duit Korupsi PLTU hingga Asabri!
-
Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Dijaga Ketat Tentara Usai Polisi Geledah Kafe deClan Signature
-
Kasus Eksploitasi Anak 'Tenda Biru' Bukan Dipicu Postingan Viral WN Jepang
-
Kebakaran Lahan Gambut di Aceh Selatan Meluas Jadi 25 Hektare, Api Masih Menyala
-
Usai Hadiri Pemakaman Khamenei, Delegasi Indonesia Dijadwalkan Bertemu Pejabat Iran