- Operasi militer Amerika Serikat pada Sabtu (3/1/2026) bertujuan menangkap Presiden Nicolas Maduro, memicu kecaman dan ketegangan geopolitik.
- AS membatasi invasi skala penuh karena mobilisasi massa Venezuela yang mempersenjatai diri dan penolakan domestik di AS.
- AS beralih ke operasi "surgical strike" untuk pemenggalan kepala negara, mengindikasikan kelemahan politik imperialisme mereka.
Suara.com - Operasi militer dilakukan oleh Amerika Serikat untuk menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan istrinya Cilia Flores pada Sabtu (3/1/2026).
Intervensi Amerika Serikat terhadap Venezuela menimbulkan kecaman internasional.
Serangan rangkaian bom dan penangkapan ini menimbulkan ketegangan geopolitik, serta mengguncang Venezuela.
Amerika Serikat yang melakukan operasi penangkapan terhadap Presiden Venezuela menunjukkan rapuhnya kekuatan politik imperialisme Venezuela.
Operasi tersebut juga memunculkan ketidakstabilan politik di Venezuela, baik secara internasional maupun domestik.
“Fakta bahwa pemerintahan Trump harus melakukan operasi dengan cara ini juga merupakan bukti kelemahan politik imperialisme – di Venezuela, secara internasional, dan di dalam negeri,” tulis Direktur Eksekutif The People’s Forum dan peneliti di Tricontinental, Manolo De Los Santos, seperti dikutip dari People Dispatch pada Rabu (7/1/2026).
Alih-alih invasi skala penuh, keputusan rezim Trump untuk melaksanakan operasi ini menjadi bukti nyata kekuatan perlawanan rakyat yang terorganisir.
Dalam artikelnya, Manolo menjelaskan ada dua faktor utama yang membatasi Amerika Serikat dalam melakukan intervensi militer di Venezuela.
Faktor pertama, mobilisasi massa di Venezuela. Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menyerukan untuk memperluas Milisi Bolivarian.
Baca Juga: Aksi Solidaritas untuk Venezuela di Kedubes Amerika
Hal tersebut menyebabkan 8 juta warga mempersenjatai diri.
Tidak hanya itu, dengan militer profesional Venezuela yang tetap solid dan tidak terpecah, kondisi tersebut menciptakan ancaman bahwa setiap invasi darat akan berubah menjadi perang rakyat berkepanjangan dan memakan biaya yang besar.
“Hal ini menciptakan skenario di mana invasi darat apa pun akan berubah menjadi perang rakyat yang berkepanjangan, dengan biaya politik dan material yang tidak dapat diterima bagi Amerika Serikat,” kata Manolo.
Manolo menilai pemerintah Trump juga secara diam-diam mengakui basis dukungan kuat Chavismo dan Revolusi Bolivarian yang masih ada.
Bahkan mereka mengakui bahwa oposisi kanan Venezuela tidak memiliki dukungan cukup untuk memimpin negaranya.
Manolo juga menegaskan bahwa AS mengakui bahwa oposisi kanan Venezuela tidak memiliki dukungan cukup untuk memimpin negara.
Berita Terkait
-
Dikhianati Orang Dekat, Rahasia Jatuhnya Maduro Terungkap
-
Harga Minyak Anjlok! Pernyataan Trump Soal Minyak Venezuela Picu Kekhawatiran Surplus Global
-
Greenland Punya Tambang Melimpah, Trump Ngotot Mau Caplok Usai Serang Venezuela
-
Gedung Kedubes AS Diguncang Protes, Massa Buruh: Jangan Sampai Indonesia Jadi Sasaran Berikutnya
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
Terkini
-
Ironi Pelapor Mafia Tanah Jadi Tersangka Fitnah, Kini Minta Perlindungan LPSK
-
Bantah Main Mata, PMJ Tegaskan Kasus Andrie Yunus Tak Dihentikan Diam-diam
-
Dukung Putusan MK, Dasco Pastikan Syarat Keterwakilan Perempuan Masuk RUU Pemilu
-
Dasco Dukung Putusan MK soal Parpol Tanpa 30 persen Caleg Perempuan Bakal Gugur
-
Pemerataan Pendidikan, Anak-Anak di Daerah Terpencil Bogor Kini Punya Gedung Sekolah Dasar Baru
-
Lawan Impunitas, Nasib Kasus Air Keras Andrie Yunus Ditentukan 2 Juni
-
Kementerian PANRB dan Kemenkes Perkuat SDM Kesehatan Dukung Program Prioritas Presiden
-
Bocoran Der Spiegel: AS Berencana Pangkas Drastis Kontribusi Militer untuk NATO
-
Misteri CCTV 'Gaib' di Kasus Andrie Yunus: Muncul Saat Rilis, Lenyap di Meja Hijau
-
Fleksibilitas Kerja ASN Perkuat Budaya Kerja Profesional dan Berbasis Kinerja