- Tiang monorel mangkrak di Rasuna Said dibongkar atas inisiatif Gubernur Pramono Anung pada Rabu, 14 Januari 2026.
- Sutiyoso mengenang ide transportasi makro terintegrasi (MRT, monorel, busway, waterway) mulai dirancang 2003.
- Proyek monorel dicanangkan Presiden Megawati 2004 bersama investor Tiongkok, namun terhenti setelah 2007.
Suara.com - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso ikut menghadiri kegiatan simbolis pembongkaran tiang monorel yang telah lama mangkrak di sepanjang Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.
Pembongkaran tiang-tiang yang telah menjadi besi tua tersebut dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung pada Rabu (14/1/2026).
Sutiyoso mengungkapkan rasa syukurnya atas langkah tegas yang diambil oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memberikan kepastian terhadap proyek yang terbengkalai puluhan tahun tersebut.
"Jujur saja, hari ini hati saya itu lega sekali gitu ya, dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono pada pagi hari ini," ujar Sutiyoso saat memberikan pernyataan di lokasi pembongkaran.
Lelaki yang akrab disapa Bang Yos ini kemudian mengenang kembali awal mula tercetusnya ide pembangunan moda transportasi makro di Jakarta pada tahun 2003 silam.
"Jadi cerita singkatnya begini ya, pada tahun 2003 saya mulai memikirkan bagaimana menanggulangi kemacetan Jakarta. Saya kumpulkan semua pakar-pakar transportasi dari beberapa universitas ya, untuk merancang jaringan transportasi makro ibukota. Nah, saat proses ini dilakukan yang makan waktu berbulan-bulan, tentunya karena dilakukan survei segala macam, saya studi banding ke beberapa negara ya, dan saya berhenti lama di Bogota, Ibukota Kolombia, karena situasinya sama dengan di Jakarta," kenang Sutiyoso.
Berdasarkan hasil studi tersebut, Sutiyoso memutuskan untuk membangun jaringan transportasi terintegrasi yang terdiri dari empat moda utama di ibu kota.
"Jadi akhirnya saya putuskan jaringan transportasi ibukota itu terdiri dari empat moda ya. Moda yang paling besar ada MRT bawah tanah, terus ada monorel di atas, ada busway 15 koridor di bawah, dan ada alternatif namanya waterway. Dan ini dirancang secara terintegrasi, jalurnya ada masing-masing, tetapi terintegrasi. Sehingga rakyat Jakarta dan sekitarnya dari titik mana mau ke mana, pasti dapat transportasi makro tadi," jelasnya.
Proyek monorel sendiri sebenarnya mulai dicanangkan pada tahun 2004 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri dengan dukungan investor dari luar negeri.
Baca Juga: Senyum Sumringah Pramono Kala Tiang Monorel Mangkrak di Kuningan Mulai Dibongkar
"Untuk mengejar kecepatan menanggulangi kemacetan ini, secara paralel kami bangun juga monorel gitu kan. Itu juga yang dibangun di mana itu tadi, di Bogota, juga di Manila yang saya lihat, juga di Bangkok gitu kan. Nah oleh karena itu 2004, supaya cepat bisa kami selesaikan, dicanangkan oleh Presiden Megawati. Artinya saat dicanangkan Presiden itu, berarti segala sesuatunya itu sudah ada gitu, rencananya jelas, investornya juga ada dari Cina gitu," papar Sutiyoso lagi.
Sayang selepas masa bakti Sutiyoso selesai di 2007, proyek monorel Jakarta tidak dilanjutkan oleh pewaris tongkat estafet kepemimpinan.
Ditambah lagi di 2014, Joko Widodo yang saat itu menjabat Gubernur DKI Jakarta memutuskan membuat proyek baru melalui pengadaan LRT yang kini dikenal luas masyarakat.
"Nah sejak itu lah, mangkrak total ini. Dari besi tua jadi barang seperti ini, yang merusak estetika kota gitu," keluh Sutiyoso.
Keputusan Pramono Anung untuk membongkar tiang-tiang mangkrak ini dinilai Sutiyoso sebagai langkah yang paling realistis di tengah ketidakpastian proyek.
Purnawirawan jenderal itu kini berharap tidak perlu merasa sedih lagi setiap kali melintasi kawasan Rasuna Said, dan melihat peninggalan proyeknya yang terbengkalai.
Berita Terkait
-
Senyum Sumringah Pramono Kala Tiang Monorel Mangkrak di Kuningan Mulai Dibongkar
-
Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak Rasuna Said Dimulai, Polisi Siapkan Rekayasa Lalu Lintas
-
Adhi Karya Klaim Masih Dibahas, Pemprov DKI Tetap Bongkar Tiang Monorel Rasuna Said Pekan Depan
-
Pemprov DKI Kucurkan Rp100 M, Sulap Wajah Rasuna Said Usai Tiang Monorel Lenyap
-
Bongkar Total Tiang Monorel Mangkrak Tanpa Ada Penutupan Jalan? Ini Kata Pramono
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
Pilihan
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
Terkini
-
Rismon Bantah Terima Uang Damai Kasus Ijazah Jokowi, Sebut Tuduhan Tak Masuk Akal
-
RUU PPRT Belum Tuntas usai 22 Tahun, Koalisi Minta Presiden Segera Ambil Sikap
-
Stok Bensin dan Gas LPG Aman? Simak 5 Fakta Indonesia Borong Minyak Rusia
-
Sambil Dekap Buku Jokowis White Paper, Rismon Mengaku Bisa Tidur Nyenyak usai SP3
-
YouTube Hapus Video Lego Kritik Trump, Iran Murka: Pembungkaman Ala Barat
-
Antisipasi Lonjakan ISPA, Sudinkes Jaksel Siagakan Puluhan Fasilitas Kesehatan dan Kader
-
Dunia Sibuk dengan Perang AS-Iran, Korut Diam-diam Percepat Produksi Bom Nuklir
-
Warga Terkaya Tercatat Penerima JKN Bersubsidi, Menkes Janji Benahi Data
-
AS Blokade Selat Hormuz, China-Rusia Bersatu Tekan Washington
-
Wamendagri: Penyusunan Anggaran Daerah harus Selaras dengan RKPD