- JATAM menilai banjir dan longsor di Sumatra disebabkan aktivitas industri ekstraktif, bukan hanya bencana alam biasa.
- Melky Nahar menyatakan hampir seluruh wilayah Sumatra telah menjadi ruang produksi devisa yang terpapar industri.
- Aktivitas industri ekstraktif di kawasan sensitif meningkatkan potensi daya rusak dan memicu bencana berulang.
Suara.com - Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menilai rangkaian banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, khususnya Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, bukan sekadar bencana alam, melainkan bencana ekologis akibat masifnya aktivitas industri ekstraktif.
Koordinator Nasional JATAM, Melky Nahar, menyebut pemerintah sejak awal memperlakukan Sumatra sebagai ruang produksi nasional yang berimpitan langsung dengan ruang hidup masyarakat. Hampir seluruh wilayah Sumatra, menurut JATAM, telah terpapar aktivitas industri ekstraktif.
"Sumatra jadi ruang produksi devisa melalui tambang, energi, sawit, termasuk saya kira juga infrastruktur energi. Hampir seluruh wilayah tidak ada yang terbebas dari cengkraman industri ekstraktif," kata Melky dalam diskusi virtual, Jumat (16/1/2026).
JATAM mencatat tiga provinsi yang mengalami banjir dan longsor terparah sejak November memiliki irisan kuat dengan sebaran konsesi tambang, energi, sawit, dan kehutanan. Kondisi tersebut menyebabkan ruang produksi masyarakat semakin menyempit dan kerentanan terhadap bencana kian meningkat.
Dalam kondisi seperti itu, menurut Melky, Sumatra sudah rentan terhadap bencana meskipun tidak terjadi hujan ekstrem. Jenis bencana yang berpotensi terjadi juga tidak hanya banjir bandang, tetapi tanah longsor hingga gempa bumi.
"Keberadaan dan operasi dari seluruh aktivitas industri ekstraktif itu menyimpan potensi daya rusak yang dasyat, karena sebagian di antaranya justru secara sengaja masuk dan beroperasi di kawasan yang menurut kita, mestinya tidak boleh diganggung, mestinya tidak boleh disesaki oleh operasi industri ekstraktif yang bisa memicu potensi bencana lebih besar," tuturnya.
Namun, kerusakan di wilayah hulu, kawasan hutan, dan daerah aliran sungai akibat aktivitas industri membuat banjir bandang dan longsor mudah terjadi serta menyapu wilayah hilir hingga pesisir.
Menurut JATAM, negara justru melegalkan aktivitas industri di kawasan yang seharusnya dilindungi, sehingga memperbesar potensi kerusakan lingkungan dan bencana yang berulang.
"Kalau kita cek seluruh wilayah di satu pulau Sumatra ini, praktis Jakarta memperlakukan Sumatra sebagai sumber ekonomi top, tanpa memperhatikan keselamatan dan masa depan warga di satu pulau ini," kritik Melky.
Baca Juga: Prabowo Gelar Rapat Tertutup, Bahas Tambang Mineral Kritis Hingga Mobnas
Berita Terkait
-
Prabowo Gelar Rapat Tertutup, Bahas Tambang Mineral Kritis Hingga Mobnas
-
Mendagri Pimpin Rakor Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra
-
Dapat Restu ESDM, Vale Gaspol Lakukan Operasional
-
ANTAM Bantah Kabar Ledakan Tambang: Hoaks!
-
Korban Bencana Boleh Manfaatkan Kayu Hanyut, Kemenhut Juga Stop Penebangan Hutan
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
Terkini
-
Warga Teriak Minta Tolong! 9 Nyawa Lolos dari Maut saat Rumah Dinas TPU Kebon Nanas Terbakar
-
Mimpi Nikah Kandas! Pasutri WO Jaktim Penipu Rp2,6 M Ditahan usai Jerat 58 Pasangan
-
Biadab! Biksu 71 Tahun Pengurus Pohon Suci Budha Lecehkan Gadis 11 Tahun
-
Menaker: Sertifikasi Kompetensi Diberikan Gratis bagi Alumni MagangHub di 21 Balai Pelatihan Vokasi
-
Bukan Pembersihan Biasa! Butuh 6 Bulan untuk Bikin Tugu Monas Kembali Kinclong
-
Mendagri Tito Ajak PIKI Ambil Peran Strategis Wujudkan Indonesia Emas 2045
-
Jaga Stabilitas dan Pemerataan Ekonomi, Mendagri Dorong Kepala Daerah se-Sulawesi Perkuat Sinergitas
-
Cek Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen Kupang, Gus Ipul: Sudah Mendekati 75 Persen
-
Mensos Gus Ipul Ajak Kepala Daerah se-NTT Bangun Sekolah Rakyat
-
Prabowo Beri Penghormatan Terakhir untuk Jenderal Ryamizard Ryacudu di Kemhan Pagi Ini