- Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) memperingati HUT ke-37 di Jakarta menekankan pencegahan dan deteksi dini stroke.
- Stroke berada di urutan kedua penyebab kematian di Indonesia, dengan 70–80% penyintas mengalami disabilitas permanen.
- Yastroki mendorong keluarga menjadi garda terdepan dengan mengenali gejala dan segera menuju rumah sakit, menghindari mitos.
Suara.com - Stroke masih menjadi momok kesehatan serius di Indonesia. Diam-diam, ia merenggut nyawa, meninggalkan kecacatan permanen, dan membebani keluarga hingga negara. Di tengah ancaman itu, Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) menegaskan satu pesan penting: stroke bukan takdir, melainkan bencana kesehatan yang bisa dicegah—bahkan sejak dari dalam keluarga.
Pesan itu mengemuka dalam peringatan HUT ke-37 Yastroki yang digelar di Jakarta, Sabtu (18/1/2026). Mengusung tema “Dengan Semangat di Tahun Baru 2026, Yastroki Membangun Kolaborasi Menuju Indonesia Ramah Stroke”, Yastroki menekankan pentingnya deteksi dini dan respons cepat sebagai kunci menekan angka kematian dan kecacatan akibat stroke.
Stroke Masih Jadi Pembunuh Utama
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia, stroke menempati peringkat kedua penyebab kematian tertinggi setelah penyakit jantung. Setiap tahun, diperkirakan muncul sekitar 500.000 kasus baru, dengan 70–80 persen penyintas mengalami disabilitas permanen. Dampaknya tidak hanya medis, tetapi juga sosial dan ekonomi.
Ketua Umum Yastroki, Mayjen TNI (Purn) Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.N, MARS, MH, menyebut stroke sebagai krisis kesehatan yang harus diperlakukan layaknya bencana.
“Stroke itu bencana bagi manusia. Karena bencana, ia harus ditangani segera. Dampaknya luar biasa—bisa meninggal, bisa cacat fisik, mental, sosial, bahkan menghancurkan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Ia mencontohkan, seseorang yang sebelumnya produktif—eksekutif, pekerja, atau tulang punggung keluarga—bisa kehilangan kemampuan bekerja dalam sekejap akibat stroke.
Time Is Brain: Jangan Tunggu, Jangan Percaya Mitos
Dr. Tugas menegaskan, dalam stroke berlaku prinsip time is brain. Setiap menit keterlambatan penanganan berarti kerusakan sel otak yang tidak bisa dipulihkan.
Baca Juga: Gangguan Irama Jantung Intai Anak Muda, Teknologi Ablasi Dinilai Makin Dibutuhkan
“Mulut mencong, bicara pelo, lemah satu sisi tubuh—itu stroke. Bukan masuk angin, bukan kesambet, bukan untuk dikerok atau dipijat,” katanya kepada wartawan.
Ia menyoroti masih kuatnya mitos di masyarakat, seperti menusuk jari atau telinga agar darah keluar, memijat, hingga menunggu “sembuh sendiri”. Semua itu justru berbahaya dan membuang waktu emas.
“Kalau muncul tanda-tanda itu, satu langkah saja: segera ke rumah sakit,” katanya.
Keluarga Jadi Garda Terdepan
Memasuki usia ke-37, Yastroki menegaskan fokusnya tidak hanya pada edukasi, tetapi juga membangun kolaborasi lintas sektor. Salah satu inisiatifnya adalah mendorong lahirnya Stroke Helper di tingkat Rukun Warga (RW).
Relawan ini diharapkan mampu mengenali gejala awal stroke dan mengarahkan pasien ke Rumah Sakit Ramah Stroke yang memiliki fasilitas penanganan komprehensif.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sunscreen Menghilangkan Flek Hitam Usia 40 Tahun
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 5 Bedak Murah Mengandung SPF untuk Dipakai Sehari-hari, Mulai Rp19 Ribuan
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 50 Kode Redeem FF Terbaru 17 Januari 2026, Klaim Hadiah Gojo Gratis
Pilihan
-
Siapa Ario Damar? Tokoh Penting Palembang yang Makamnya Kini Dikritik Usai Direvitalisasi
-
Fadli Zon Kaget! Acara Serah Terima SK Keraton Solo Diserbu Protes, Mikrofon Direbut
-
Tim SAR Temukan Serpihan Pesawat ATR42-500 Berukuran Besar
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
Terkini
-
Rutin Sidak SPPG Selama Setahun, BGN Klaim Kualitas MBG Terus Membaik
-
Ada Proyek LRT di Jalan Pramuka, Rute Transjakarta dan Mikrotrans Dialihkan
-
Enam Pohon Tumbang di Jakarta Akibat Cuaca Ekstrem, Timpa Rumah dan Kabel Listrik
-
BGN Sidak Dapur MBG, Atap Sejumlah SPPG Belum Sesuai SOP
-
Banjir Jakarta Mulai Surut, Satu Ruas Jalan Masih Tergenang, Puluhan Warga Mengungsi
-
Banjir di Pekalongan, KAI Batalkan 11 Perjalanan Kereta Api dari Jakarta
-
Awal Pekan di Jakarta, BMKG Peringatkan Potensi Hujan Petir di Jaksel dan Jaktim
-
Nadiem Ngaku Tak Untung Sepeserpun, Mahfud MD: Korupsi Tak Harus Terima Uang
-
Mahfud MD Soroti Sidang Nadiem: Tidak Fair Terdakwa Belum Terima Audit BPKP
-
5 Fakta Kericuhan Keraton Surakarta, Adu Argumen Dua Kubu 'Berebut Tahta'