News / Nasional
Senin, 19 Januari 2026 | 08:41 WIB
Ketua Umum Yastroki, Mayjen TNI (Purn) Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.N, MARS, MH. (Suara.com/Vania)
Baca 10 detik
  • Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) memperingati HUT ke-37 di Jakarta menekankan pencegahan dan deteksi dini stroke.
  • Stroke berada di urutan kedua penyebab kematian di Indonesia, dengan 70–80% penyintas mengalami disabilitas permanen.
  • Yastroki mendorong keluarga menjadi garda terdepan dengan mengenali gejala dan segera menuju rumah sakit, menghindari mitos.

“Kita ingin Indonesia Ramah Stroke. Itu dimulai dari keluarga. Kalau keluarga paham deteksi dini dan bertindak cepat, banyak nyawa bisa diselamatkan dan kecacatan bisa dicegah,” ujar Dr. Tugas.

Pencegahan Stroke: Kuncinya Gaya Hidup dan Kesadaran

Yastroki menegaskan, stroke bisa dicegah, bisa diobati, dan bisa dipulihkan. Namun pencegahan tetap menjadi langkah paling penting. Faktor risiko utama stroke antara lain hipertensi—yang diderita 25–30 persen orang dewasa—diabetes, kolesterol tinggi, merokok, kurang aktivitas fisik, serta stres kronis.

Untuk memudahkan masyarakat, Yastroki mengampanyekan prinsip CERDIK sebagai panduan pencegahan stroke:

  • Cek kesehatan secara rutin
  • Enyahkan asap rokok
  • Rutin beraktivitas fisik minimal 150 menit per minggu
  • Diet seimbang
  • Istirahat cukup 6–8 jam per hari
  • Kendalikan stres

“Stres bisa memicu tekanan darah naik dan membuat pembuluh darah kaku. Ini faktor risiko yang sering diremehkan,” jelas Dr. Tugas.

Beban Ekonomi yang Terus Meningkat

Selain dampak kesehatan, stroke juga menjadi beban besar bagi negara. Data BPJS Kesehatan menunjukkan biaya penanganan stroke pada 2024 mencapai Rp5,8 triliun per tahun, melonjak tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Ini warning keras. Angka penderita meningkat, biaya melonjak, usia penderita makin muda. Kita tidak bisa santai,” ujarnya.

Kolaborasi Jadi Kunci

Baca Juga: Gangguan Irama Jantung Intai Anak Muda, Teknologi Ablasi Dinilai Makin Dibutuhkan

Melalui berbagai kegiatan edukasi, termasuk talk show bertajuk “Deteksi Dini Stroke di Dalam Keluarga dan Penanganannya”, Yastroki berkomitmen memperluas jangkauan literasi stroke ke seluruh Indonesia. Upaya ini dilakukan bersama Kementerian Kesehatan RI dan berbagai komunitas peduli stroke.

“Stroke tidak pandang usia, tidak pandang status sosial. Karena itu pencegahannya juga harus kolektif,” tutup Dr. Tugas.

Peringatan HUT ke-37 Yastroki menjadi pengingat bahwa stroke bukan sekadar urusan rumah sakit. Ia adalah urusan rumah, keluarga, dan kesadaran sehari-hari. Mengenali tanda, mematahkan mitos, dan menjalani hidup lebih sehat bisa menjadi pembeda antara pulih—atau kehilangan segalanya.

Load More