News / Nasional
Selasa, 20 Januari 2026 | 20:41 WIB
Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati saat dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan korupsi tata kelola minyak dan produk kilang PT Pertamina di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Baca 10 detik
  • Mantan Dirut Pertamina, Nicke Widyawati, bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta mengenai keuntungan PT PIS.
  • Keuntungan PT PIS melonjak empat kali lipat menjadi Rp9 triliun saat dipimpin oleh Yoki Firnandi.
  • Kenaikan laba PIS dipicu ekspansi pengangkutan kapal ke pasar luar negeri di bawah kepemimpinan Yoki.

Suara.com - Mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengakui keuntungan PT Pertamina International Shipping (PIS) melonjak empat kali lipat dari sebelumnya Rp 2 triliun menjadi sekitar Rp9 triliun saat dipimpin Yoki Firnandi.

Hal itu diakui Nicke saat dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan korupsi tata kelola minyak dan produk kilang PT Pertamina di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Mulanya, kuasa hukum Yoki, Wimboyono Senoadji menanyakan kepada Nicke mengenai pendapatan Pertamina yang meraih Rp 70 triliun pada 2024.

Hal itu disebut Wimboyono berbanding terbalik dengan dakwaan jaksa yang menyebut kliennya merugikan negara US$ 2,4 miliar atau sekitar Rp 40,6 triliun dengan kurs saat ini Rp 16.950 per dolar.

Wimboyono pun menanyakan Nicke mengenai kinerja Yoki selama menjabat sebagai dirut PT PIS yang merupakan anak usaha PT Pertamina.

"Pertamina kan dapat pendapatan, revenue terbesar di tahun 2024 sampai Rp 70 triliun. Hal ini kan bertolak belakang dengan dakwaan yang menjerat klien kami akibat dampak operasional dan bisnis Pertamina di tahun 2018-2023, Termasuk area tanggungjaaab klien kami, Pak Yoki selaku direktur PIS Sepengtahuan saksi sebagai pemegang saham PIS dan dirut Pertamina, seperti apa PIS di bawah kepemimpinan Pak Yoki?" tanya Wimboyono.

Menjawab hal itu, Nicke menjelaskan, pembentukan subholding untuk meningkatkan nilai Pertamina dengan mengoptimalkan portofolio bisnis agar lebih lincah dan fokus. Hal ini mengingat Pertamina tidak boleh mengambil keuntungan yang besar dalam menjalankan program public service obligation (PSO).

Namun, sebagai perusahaan mandat dari pemegang saham, perusahaan harus tumbuh. Untuk itu, perlu dilakukan investasi.

"Artinya begini, jangan mencari keuntungan dari public service obligation karena ini untuk masyarakat. Oleh karena itu, subholding juga sesuai dengan arahan dari pemegang saham itu diberikan tantangan," katanya.

Baca Juga: Kapasitas Naik Jadi 727 MW, PGE Kejar Target 1,8 GW pada 2033

Untuk PT PIS, Nicke mengatakan, selama ini melayani rute domestik yang sebagian besar untuk PSO. Dalam menjalankan tugasnya itu, PT PIS tidak boleh mematok harga yang tinggi untuk mengangkut energi yang berkaitan dengan PSO.

"Tapi PIS perlu berkembang, maka salah satu program dari Kementerian BUMN adalah PIS ini harus masuk ke pasar. Harus IPO itu target. Di dalam Kementerian BUMN, PIS harus masuk IPO," ujar dia.

Untuk menarik minat publik, PT PIS melakukan ekspansi dengan pengangkutan kapal ke pasar luar negeri. Dengan ekspansi itu, PT PIS di bawah kepemimpinan Yoki mengalami perkembangan yang pesat.

"Di mana Pak Yoki menjadi dirut di PIS, pertumbuhan yang pasar yang luar ini besar," ungkapnya.

Nicke mengaku selalu menekankan kepada jajaran PT PIS untuk tidak mencari keuntungan dalam menjalankan bisnis pengangkutan domestik. Namun, untuk pengangkutan di pasar luar negeri diperbolehkan mencari keuntungan.

"Dan itu dilakukan oleh PIS dengan tambahan rute yang bisa dikuasai di luar. Nah, kalau di luar ngambil keuntungan boleh, karena itu tidak ada hubungannya dengan APBN. Jadi itu yang dilakukan dan PIS melakukannya dengan baik," papar Nicke.

Load More