News / Nasional
Jum'at, 23 Januari 2026 | 14:28 WIB
Pelatih Indosalto Yoga Ardian, atau akrab disapa Kak Yow saat melihat anak diidknya salto. (Suara.com/ Dinda Pramesti K)
Baca 10 detik
  • Komunitas Indosalto dibentuk di gang sempit Pluit oleh pelatih Yoga Ardian (Kak Yow) untuk melatih akrobatik anak-anak sekitar.
  • Latihan akrobatik dilakukan tanpa fasilitas memadai seperti matras, mengandalkan disiplin dan presisi untuk menghindari risiko cedera.
  • Salah satu anggota, Acil, telah meraih juara satu tiga kali berturut-turut meskipun berlatih di tengah keterbatasan ruang dan cuaca.

Bahkan saat kami sedang berbincang, tak jarang motor, orang, dan gerobak yang lewat. Pada saat yang sama, anak-anak yang tengah berlatih ini harus menepi dan memberi mereka jalan. Ketika itulah biasanya latihan repetisi itu agak terganggu.

Meski begitu, menyerah tidak ada dalam kamusnya. Ia selalu membisikkan satu prinsip pada anak-anak: "Selalu ada jalan. Cari jalan itu, konsisten. Jalannya sih cuma satu sebenarnya, konsisten. Mulai dari kita konsisten sendiri nanti akan ada yang mengikuti kita, pasti berhasil."

Aku tersenyum mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Kak Yow. Ia adalah seseorang yang mengajar dengan tulus, cita-citanya bahkan mulia.

Anak-anak Indosalto saat akrobatik. (Suara.com/ Dinda Pramesti K)

Ia pernah membayangkan, seandainya ia memiliki banyak tempat suatu saat nanti, ia ingin mengambil anak-anak di jalan untuk diajarkan berlatih akrobatik secara gratis. Bahkan ia ingin memberi mereka makan secara gratis setelah latihan, dan berharap ilmu yang dibagi bisa berguna untuk mereka.

“Itu cuma cita-cita saya sih, saya pengen berbagi,” ujarnya sambil tersenyum.

Acil: Sang Juara dari Lorong Sempit

Saat latihan inti dimulai, gerimis kian menderas. Tak ada raut takut. Saat ditanya apakah mereka khawatir dimarahi orang tua karena bermain hujan, jawaban mereka kompak dan lantang: “Nggak, Kak!”

Di tengah keriuhan itu, sosok Karlina (13) atau Acil, mencuri perhatian. Rambutnya basah kuyup, bajunya melekat di badan. Namun matanya tenang. Di bawah komando Kak Yow, tubuh mungilnya melenting indah, berputar di udara, dan mendarat mantap di atas cor semen tanpa alas kaki.

Acil bukan sekadar anak gang biasa. Ia adalah pemegang gelar juara satu, tiga kali berturut-turut dalam battle tricking kategori junior perempuan. Bagi gadis yang bermimpi menjadi atlet dan artis ini, jalan yang licin hanyalah bumbu perjalanan.

Baca Juga: 7 Pilihan Mobil Bekas Kecil Selain Agya untuk Rumah di Gang Sempit

“Seru sih, Kak, karena bisa hujan-hujanan sama temen-temen,” kata Acil sambil menyeka air di dahinya.

Ada momen mengharukan saat sebuah matras biru tipis digelar. Ketika seorang pengendara motor melintas dan berteriak, “Permisi, Bang!”, dengan sigap anak-anak itu melipat matras agar tak tergilas ban. Begitu motor lewat, matras kembali dibentangkan, dan tawa kembali pecah.

Anak-anak Indosalto saat bersiap akrobatik. (Suara.com/ Dinda Pramesti K)

Mimpi Tanpa Batas

Sebelum kembali melompat, Acil berbagi rahasia keberaniannya. Baginya, rasa takut hanyalah bayangan yang bersarang di pikiran. Dulu, saat pertama kali ia berlatih, ia juga memiliki ketakutannya sendiri. Ia takut cidera. Namun, latihan yang dilakukan secara rutin membuatnya terbiasa dan menghilangkan rasa takutnya.

Ia juga selalu mengingat pesan sang pelatih, kunci menaklukkan ketakutan adalah dengan terus meyakinkan diri sendiri bahwa kita berani.

Sore itu, di bawah remang lampu gang Jakarta, Kak Yow dan anak-anak didiknya membuktikan satu hal: kemiskinan ruang bukan berarti miskin mimpi. Di antara jemuran basah dan dinding rumah yang menghimpit, mereka terus melompat tinggi.

Load More