News / Nasional
Jum'at, 30 Januari 2026 | 07:36 WIB
Burhanuddin Abdullah soroti ekonomi Indonesia (dok. Ist)
Baca 10 detik
  • Burhanuddin Abdullah menyoroti bahwa ekonomi Indonesia stabil namun cenderung stagnan, butuh lompatan produktivitas.
  • Tantangan utama adalah keluar dari pola pertumbuhan inersia dengan kebijakan berani dan koordinasi lintas sektor.
  • Prasasti memproyeksikan PDB 2026 sekitar 5,0–5,3 persen, menekankan penguatan investasi struktural.

Suara.com - Indonesia dinilai bukan sedang kekurangan pertumbuhan, tapi kekurangan tenaga lompatan. Hal ini disoroti Burhanuddin Abdullah saat berbicara dalam Prasasti Economic Forum 2026, forum dialog kebijakan yang digelar Prasasti Center for Policy Studies.

Anggota Board of Advisors Prasasti itu menilai laju ekonomi Indonesia selama ini memang stabil, tetapi cenderung berjalan di tempat.

Ekonomi Indonesia menunjukkan gejala inersia, yaitu kecenderungan untuk bertahan pada pola lama. Kita berhasil menjaga stabilitas, tetapi belum cukup kuat mendorong lompatan produktivitas,” ujar Burhanuddin.

Selama lebih dari satu dekade, pertumbuhan ekonomi Indonesia konsisten di kisaran 5 persen. Menurut Burhan, capaian ini patut diapresiasi, namun sekaligus menjadi sinyal bahwa struktur ekonomi nasional belum cukup fleksibel untuk tumbuh lebih cepat.

Ia menegaskan, tantangan utama Indonesia bukan lagi sekadar menjaga stabilitas, melainkan keluar dari pola pertumbuhan yang stagnan. Untuk itu, dibutuhkan keberanian dalam merumuskan kebijakan, penguatan kelembagaan, serta koordinasi lintas sektor yang lebih solid.

Burhan juga menekankan pentingnya kepercayaan terhadap institusi dan konsistensi arah kebijakan. Dua hal ini dinilai krusial untuk mendorong investasi, inovasi, serta keberanian pelaku usaha dalam mengambil risiko yang produktif.

Pandangan tersebut sejalan dengan sikap Prasasti sebagai lembaga think tank. Executive Director Prasasti, Nila Marita, menegaskan pihaknya ingin menjadi jembatan antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.

“Sebagai think tank, Prasasti berpegang pada tiga pendekatan utama: rekomendasi yang data-driven, berbasis kolaborasi, dan berorientasi pada solusi,” kata Nila.

Ia menyebut forum ini sebagai ruang untuk merumuskan gagasan kebijakan yang tidak hanya wacana, tetapi juga aplikatif.

Baca Juga: Fleksibilitas atau Eksploitasi? Menakar Nasib Pekerja Gig di Indonesia

Dari sisi proyeksi, Research Director Prasasti Gundy Cahyadi memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,0–5,3 persen.

Menurutnya, ada tiga faktor utama yang akan memengaruhi angka tersebut. Pertama, konsumsi domestik yang mulai membaik seiring stabilnya kepercayaan konsumen, meski ruang percepatannya terbatas. Kedua, kualitas belanja pemerintah yang akan sangat menentukan, terutama di tengah ruang fiskal yang sempit. Ketiga, pergerakan nilai tukar rupiah yang perlu diwaspadai.

“Pelemahan rupiah bisa mendorong ekspor, tapi di sisi lain berpotensi menahan investasi, terutama di sektor yang bergantung pada impor barang modal,” jelas Gundy.

Karena itu, Prasasti menilai penguatan investasi harus menjadi mesin utama pertumbuhan jangka menengah dan panjang, dibarengi percepatan transformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Lewat forum ini, Prasasti menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang kolaborasi lintas sektor. Tujuannya jelas: membantu merumuskan kebijakan ekonomi yang lebih berani, berbasis data, dan mampu membawa Indonesia keluar dari jebakan pertumbuhan yang “itu-itu saja.”

Load More