- Burhanuddin Abdullah menyoroti bahwa ekonomi Indonesia stabil namun cenderung stagnan, butuh lompatan produktivitas.
- Tantangan utama adalah keluar dari pola pertumbuhan inersia dengan kebijakan berani dan koordinasi lintas sektor.
- Prasasti memproyeksikan PDB 2026 sekitar 5,0–5,3 persen, menekankan penguatan investasi struktural.
Suara.com - Indonesia dinilai bukan sedang kekurangan pertumbuhan, tapi kekurangan tenaga lompatan. Hal ini disoroti Burhanuddin Abdullah saat berbicara dalam Prasasti Economic Forum 2026, forum dialog kebijakan yang digelar Prasasti Center for Policy Studies.
Anggota Board of Advisors Prasasti itu menilai laju ekonomi Indonesia selama ini memang stabil, tetapi cenderung berjalan di tempat.
“Ekonomi Indonesia menunjukkan gejala inersia, yaitu kecenderungan untuk bertahan pada pola lama. Kita berhasil menjaga stabilitas, tetapi belum cukup kuat mendorong lompatan produktivitas,” ujar Burhanuddin.
Selama lebih dari satu dekade, pertumbuhan ekonomi Indonesia konsisten di kisaran 5 persen. Menurut Burhan, capaian ini patut diapresiasi, namun sekaligus menjadi sinyal bahwa struktur ekonomi nasional belum cukup fleksibel untuk tumbuh lebih cepat.
Ia menegaskan, tantangan utama Indonesia bukan lagi sekadar menjaga stabilitas, melainkan keluar dari pola pertumbuhan yang stagnan. Untuk itu, dibutuhkan keberanian dalam merumuskan kebijakan, penguatan kelembagaan, serta koordinasi lintas sektor yang lebih solid.
Burhan juga menekankan pentingnya kepercayaan terhadap institusi dan konsistensi arah kebijakan. Dua hal ini dinilai krusial untuk mendorong investasi, inovasi, serta keberanian pelaku usaha dalam mengambil risiko yang produktif.
Pandangan tersebut sejalan dengan sikap Prasasti sebagai lembaga think tank. Executive Director Prasasti, Nila Marita, menegaskan pihaknya ingin menjadi jembatan antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
“Sebagai think tank, Prasasti berpegang pada tiga pendekatan utama: rekomendasi yang data-driven, berbasis kolaborasi, dan berorientasi pada solusi,” kata Nila.
Ia menyebut forum ini sebagai ruang untuk merumuskan gagasan kebijakan yang tidak hanya wacana, tetapi juga aplikatif.
Baca Juga: Fleksibilitas atau Eksploitasi? Menakar Nasib Pekerja Gig di Indonesia
Dari sisi proyeksi, Research Director Prasasti Gundy Cahyadi memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,0–5,3 persen.
Menurutnya, ada tiga faktor utama yang akan memengaruhi angka tersebut. Pertama, konsumsi domestik yang mulai membaik seiring stabilnya kepercayaan konsumen, meski ruang percepatannya terbatas. Kedua, kualitas belanja pemerintah yang akan sangat menentukan, terutama di tengah ruang fiskal yang sempit. Ketiga, pergerakan nilai tukar rupiah yang perlu diwaspadai.
“Pelemahan rupiah bisa mendorong ekspor, tapi di sisi lain berpotensi menahan investasi, terutama di sektor yang bergantung pada impor barang modal,” jelas Gundy.
Karena itu, Prasasti menilai penguatan investasi harus menjadi mesin utama pertumbuhan jangka menengah dan panjang, dibarengi percepatan transformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Lewat forum ini, Prasasti menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang kolaborasi lintas sektor. Tujuannya jelas: membantu merumuskan kebijakan ekonomi yang lebih berani, berbasis data, dan mampu membawa Indonesia keluar dari jebakan pertumbuhan yang “itu-itu saja.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Terkait Reformasi Polri, Boni Hargens Apresiasi Komitmen Kapolri Listyo Sigit
-
Banyak Kasus Terlambat Ditangani, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Paru
-
Terbongkar! WNA China Sulap Apartemen Jakarta Jadi Pabrik Vape Narkoba Etomidate
-
Alih Fungsi Kali Ciputat dan Kelalaian Proyek Jadi Biang Kerok Banjir di Taman Mangu Indah?
-
Hakim Militer Minta Ahli Kimia Uji Campuran Air Keras dalam Kasus Andrie Yunus
-
Ade Armando Pamit dari PSI: Tameng untuk Jokowi atau Sekadar Strategi 'Cuci Tangan' Politik?
-
Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos
-
Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!
-
Kata Pengamat Soal Rupiah Melemah: Jangan Panik, Tak Bakal Ganggu Daya Beli
-
Kemensos Siapkan Skema Transisi Dapur Mandiri Siswa Sekolah Rakyat