- Beneficial owner OTM, Kerry Adrianto Riza, bersaksi keuntungan Pertamina dari sewa terminal mencapai US$ 524 juta serta efisiensi distribusi Rp 8,7 triliun.
- Terminal OTM mengurangi ketergantungan impor BBM dari Singapura melalui fasilitas kapal besar (110.000 DWT) untuk ketahanan energi.
- Kerry membantah adanya kerugian negara (total loss) dan menyebut Pertamina sempat tidak membayar sewa terminal pada periode 2014–2016.
Suara.com - Beneficial owner PT Orbit Terminal Merak (OTM), Muhammad Kerry Adrianto Riza membeberkan keuntungan yang diperoleh Pertamina dari penyewaan terminal BBM milik OTM.
Hal itu disampaikan Kerry Riza saat dihadirkan sebagai saksi mahkota dalam sidang perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (9/2/2026).
Dalam persidangan, Kerry menjelaskan bahwa ahli keuangan Renato Sitompul sebelumnya menyebut keuntungan Pertamina dari penyewaan terminal BBM OTM mencapai US$ 524 juta selama 10 tahun.
Namun, menurut Kerry, di luar keuntungan tersebut Pertamina juga memperoleh efisiensi operasional dari distribusi BBM.
Berdasarkan kajian Surveyor Indonesia tahun 2023, efisiensi distribusi mencapai sekitar Rp 145 miliar per bulan. Jika dihitung sepanjang 2020–2025, penghematan itu setara dengan Rp 8,7 triliun.
"Di dalam studi Surveyor Indonesia yang mereka kerjakan di tahun 2023, mereka juga bilang bahwa OTM itu memberikan efisiensi distribusi sebanyak Rp 145 miliar per bulan, apabila penghemeatan di tahun 2020-2025 itu berarti efesiensi senilai Rp 8,7 triliun dari distribusi dan ditotal dapat Rp 17 triliun," katanya.
Ia menegaskan, angka Rp 17 triliun tersebut mencerminkan keseluruhan manfaat yang diperoleh Pertamina dari penyewaan terminal BBM OTM, baik dari sisi keuntungan langsung maupun efisiensi distribusi.
“Artinya apa? OTM ini sangat bagus buat Indonesia,” tambahnya.
Kerry menyebut motivasinya menawarkan terminal BBM OTM kepada Pertamina bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Baca Juga: Pertamina EP Raup EBITDA USD 887,44 juta di 2025
Kehadiran terminal ini, menurutnya, mampu mengurangi ketergantungan Pertamina terhadap pasokan BBM dari Singapura yang relatif lebih mahal.
Sebelum adanya OTM, pelabuhan di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa Barat terbatas pada kapal kecil, sehingga impor BBM terpaksa bergantung pada Singapura agar biaya angkut tetap masuk akal.
Kini, dengan dermaga OTM yang mampu menampung kapal raksasa sekelas 110.000 DWT, Indonesia bisa mengimpor langsung dari luar Singapura dengan biaya per barel yang jauh lebih murah.
Minyak tersebut kemudian didistribusikan kembali ke dermaga-dermaga kecil di Sumatera, Kalimantan dan Jawa Barat, memastikan akses energi murah merata sekaligus memutus ketergantungan pada hub Singapura.
“Kalau pelabuhannya kecil, muatannya enggak bisa jauh-jauh. Ongkos angkut jadi mahal.”, tegasnya.
Dengan adanya terminal OTM, Pertamina memiliki fleksibilitas menggunakan kapal besar untuk membeli BBM dari luar Singapura dengan harga lebih murah, lalu mendistribusikannya kembali menggunakan kapal kecil ke wilayah yang pelabuhannya terbatas.
Berita Terkait
-
Pertamina EP Raup EBITDA USD 887,44 juta di 2025
-
Pertamina Integrasikan Tiga Anak Usaha ke Sub Holding Downstream
-
Isi Bensin Full Tank Jadi Lebih Hemat? Ini Harga Pertamax Terbaru Februari 2026
-
Bukan Rugikan Negara Rp2,9 T, Pertamina Justru Untung Rp17 T dari Sewa Terminal BBM Milik PT OTM
-
Sidang Hadirkan Saksi Mahkota, Pengacara Kerry: Tidak Ada Pengaturan Penyewaan Kapal oleh Pertamina
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
- BPJS PBI Tiba-Tiba Nonaktif di 2026? Cek Cara Memperbarui Data Desil DTSEN untuk Reaktivasi
Pilihan
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Pakai APBN! Danantara Masih Negosiasi Utang Kereta Cepat Whoosh
-
Status BPJS PBI Aman Sementara, Bagaimana Nasib 106 Ribu Pasien Pasca Ground Check Kemensos?
-
Misteri Kematian PPPK RSPAU Halim: 6 Fakta yang Terungkap Sejauh Ini
-
Jejak Uang Panas Bupati Sudewo, KPK Endus Aliran Dana Masuk-Keluar di Koperasi Artha Bahana Syariah
-
Kejaksaan Singapura Segera Putuskan Ekstradisi Paulus Tannos, KPK Tunggu Ringkasan Sidang
-
Lagi Viral! Ini Penampakan Ijazah Jokowi Tanpa Sensor
-
Harapan Mengadu Nasib di Jakarta Masih Tinggi, Pramono Wanti-Wanti Calon Perantau Selepas Idulfitri
-
7 Fakta Kasus Penyiraman Air Keras di Cempaka Putih, Cairan dari Praktikum Sekolah
-
HPP Rp3,4 Juta Tapi Dijual Rp6,8 Juta, Dirut Evercoss Bingung Harga Chromebook di E-Katalog Bengkak
-
Gubernur Pastikan Stok Pangan Jakarta Aman Hingga Lebaran, Warga Diminta Tak 'Panic Buying'