- Kerusakan masif di Desa Padasari, Tegal, disebabkan oleh fenomena rayapan tanah yang bergerak lambat dan membuat pemukiman tidak layak huni.
- Analisis menunjukkan dasar tanah mengandung lempung biru ekspansif yang mengembang delapan kali lipat saat jenuh air, kehilangan daya dukung.
- Relokasi menjadi solusi rasional karena pergerakan tanah bersifat siklus; penentuan lokasi baru wajib didukung penelitian geologi mendalam.
"Jadi itu tergantung kejenuhan air. Mungkin dulu-dulu hujannya tidak selebat sekarang. Secara fisika, beban itu kan juga membuat kemampuannya untuk bertahan stabil," kata dia.
"Beban bangunan, beban di atas tanah itu juga memperparah kondisi itu untuk bergerak," lanjutnya.
Mantan Rektor UGM itu menilai pergerakan tanah ini bukan merupakan fenomena mendadak. Melainkan akumulasi dari retakan-retakan kecil yang mungkin sudah terjadi selama bertahun-tahun dan tak disadari.
"Itu gerakannya tuh ada awalnya, awalnya tuh nggak ketara, cuma rayapan retakan kecil. Tapi kalau bertahun-tahun menjadi parah seperti itu. Jadi dugaan saya itu sebelumnya sudah pernah, mungkin pada nggak tahu atau terabaikan ya," tandasnya.
Perlu Relokasi
Dwikorita menyebut sebenarnya karakter lempung biru bisa direkayasa sedemikian rupa sejak awal. Kunci utama dalam mitigasi wilayah dengan karakter lempung biru adalah manajemen air yang sangat ketat.
Salah satu yang terpenting yakni rekayasa drainase. Tujuannya agar air hujan tidak sempat meresap dan menjenuhkan lapisan lempung di dalam tanah.
"Kuncinya tanah di situ jangan lembap air, jangan kena air. Itu kalau belum terlanjur, itu bisa direkayasa. Ya tapi kalau sudah terlanjur, sekali berkembang itu sulit direm," terangnya.
Mengingat luasnya sebaran formasi lempung biru di kawasan Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah itu, Dwikorita menyarankan agar kawasan yang sudah mengalami kerusakan parah sebaiknya tidak lagi dijadikan pemukiman.
Baca Juga: Soroti Mulusnya Jalan Adies Kadir Jadi Hakim MK, Pakar UGM: Cacat Prosedur dan Tak Transparan
Relokasi menjadi opsi paling rasional untuk menghindari kerugian materiil yang lebih besar bahkan korban jiwa di masa depan. Sebab pergerakan tanah ini bersifat siklus mengikuti musim.
"Itu akan terus bergerak. Jadi itu berbahaya kalau sampai rumah-rumah roboh itu. Mestinya ya menurut saya kok tidak layak ya, karena kondisinya seperti itu tuh meluas," ucapnya.
Penentuan lokasi baru pun tidak bisa sembarang. Perlu dilakukan penelitian tanah lebih mendetail.
"Jadi lebih baik cari lokasi baru, tapi diteliti dulu jangan ada tanah semacam itu. Itu bisa diteliti secara geologi dipetakan," pungkasnya.
Berita Terkait
-
7 Fakta Bencana Tanah Bergerak di Tegal, 804 Warga Mengungsi
-
Respons Cepat Kemensos, Bantuan dan Dapur Umum Disiapkan untuk Korban Bencana di Tegal
-
Kewenangan Polri Terlalu Luas? Guru Besar UGM Desak Restrukturisasi Besar-Besaran
-
Pakar UGM Bongkar Akar Masalah BUMN: Titipan Politik Bikin Rugi dan Rawan Korupsi
-
Soroti Mulusnya Jalan Adies Kadir Jadi Hakim MK, Pakar UGM: Cacat Prosedur dan Tak Transparan
Terpopuler
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- Bedak Apa yang Bikin Muka Glowing? Ini 7 Rekomendasi Andalannya
- 7 Sepatu Running Adidas dengan Sol Paling Empuk dan Stabil untuk Pelari
Pilihan
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
-
Liburan Keluarga Berakhir Pilu, Bocah Indonesia Ditabrak Mati di Singapura
-
Viral Oknum Paspampres Diduga Aniaya Driver Ojol di Jakbar, Dipicu Salah Titik dan Kata 'Monyet'
-
Hasil Rapat DPR: Pasien PBI BPJS Tetap Dilayani, Pemerintah Tanggung Biaya Selama 3 Bulan
Terkini
-
DPR Gelar Rapat Paripurna ke-13 Hari Ini, Ada Tiga Surat Dari Presiden Dibacakan
-
3 Jam Bareng 22 Pengusaha APINDO di Hambalang, Prabowo Tekankan Penciptaan Lapangan Kerja
-
Respons KPK Soal 'Negara Menyuap Negara' di Kasus Suap PN Depok: Ada Niat Jahat yang Bertemu
-
Dua Rumah di Jalan Bangka Ludes Terbakar Subuh Tadi
-
Pertarungan di Senayan: Menghapus Ambang Batas Parlemen Demi Suara Rakyat atau Stabilitas Politik?
-
Fraksi PSI Kritik Pemprov DKI: Subsidi Pangan Sulit Diakses, Stunting Masih Tinggi
-
Dharma Pongrekun Kritik Respons Pemerintah soal Virus Nipah: Hanya Mengikuti Alarm Global!
-
Bongkar Sindikat Narkoba di Jakarta, Polisi Sita 450 Ekstasi dan 66,5 Gram Sabu
-
Green Media Network Dideklarasikan, Pers Bersatu untuk Isu Lingkungan
-
Eksekusi Hotel Sultan Tinggal Menghitung Hari, Karyawan dan Penyewa Diminta Tenang