- Survei IPI pada 9 Februari 2025 menampilkan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin masuk 10 besar bursa calon presiden 2029.
- Pengaruh Sjafrie dalam lingkaran kekuasaan dan keterlibatannya pada kebijakan ekonomi dinilai menguji stabilitas internal kabinet.
- Fernando Emas membandingkan fenomena ini dengan sejarah Pilpres 2004 ketika SBY muncul dari lingkaran dalam kekuasaan.
"Yang lebih menarik, dan meresahkan adalah fakta bahwa seorang Menteri Pertahanan seperti Sjafrie ternyata begitu intens mengurusi urusan ekonomi, domain yang seharusnya menjadi wilayah kementerian lain," tutur Fernando.
"Pertanyaan kritis muncul, mengapa SS yang notabene Menteri Pertahanan begitu aktif dalam ranah kebijakan ekonomi? Apakah ini bagian dari strategi untuk membangun kredibilitas sebagai calon pemimpin yang komprehensif? Atau lebih jauh lagi, apakah ini merupakan langkah kalkulatif untuk mematangkan positioning politik menjelang Pilpres 2029? “Jika jawabannya ya, maka Presiden Prabowo sedang menghadapi skenario yang sangat familiar dalam sejarah politik Indonesia, pengkhianatan dari orang terdekat”," ungkapnya.
Bayang-bayang Sejarah Pilpres 2004: SBY dan Megawati
Analisis Fernando merujuk pada peristiwa politik besar tahun 2004. Saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menjabat sebagai Menko Polkam di kabinet Presiden Megawati Soekarnoputri, secara mengejutkan maju sebagai calon presiden dan akhirnya memenangkan kontestasi.
SBY berhasil "menikung" Megawati dalam Pilpres 2004 dan kemudian berkuasa selama dua periode, total 10 tahun. Pengkhianatan politik dari orang terdekat menjadi kenyataan pahit yang harus ditelan oleh presiden petahana," kata Fernando mengingatkan.
Menurutnya, pola yang terjadi pada Sjafrie Sjamsoeddin saat ini memiliki kemiripan identik dengan langkah SBY di masa lalu.
Sebagai orang dalam yang memiliki akses penuh terhadap sumber daya dan strategi negara, Sjafrie dipandang sebagai ancaman terbesar bagi stabilitas kabinet jika ambisi pribadinya terus berkembang.
"Sejarah politik Indonesia penuh dengan ironi tentang pengkhianatan dari lingkaran dalam. Kasus SBY dan Megawati adalah pelajaran paling jelas bahwa kedekatan personal tidak menjamin loyalitas politik. Ketika ambisi kekuasaan bertemu dengan peluang, bahkan persahabatan terdekat bisa berubah menjadi persaingan paling sengit. Presiden Prabowo, yang sudah berkali-kali merasakan pahitnya kompetisi politik, seharusnya lebih waspada terhadap dinamika ini," jelasnya.
Tantangan Stabilitas Kabinet Menuju 2029
Baca Juga: PKS Tegaskan Sikap Soal Dukungan Prabowo 2029: Ini Bukan Soal Cepat-cepatan!
Kehadiran menteri aktif dalam bursa calon presiden dianggap dapat mengganggu efektivitas pemerintahan. Fernando menekankan bahwa fokus seorang menteri akan terbagi jika pikiran mereka sudah terorientasi pada kompetisi Pilpres 2029.
"Namun, pertanyaannya adalah, apakah kesadaran itu sudah datang, atau kita akan menyaksikan pengulangan sejarah yang sama lima tahun lagi? Tentu saja, setiap warga negara, termasuk Sjafrie Sjamsoeddin, memiliki hak konstitusional untuk mencalonkan diri dalam kontestasi politik," ungkap Fernando.
Sjafrie dinilai memiliki semua instrumen untuk menjadi lawan politik yang tangguh bagi Prabowo karena ia memahami rahasia dan kelemahan pemerintahan dari dalam. Hal ini disebut sebagai skenario terburuk bagi kelangsungan visi besar Presiden Prabowo.
Senada dengan hal tersebut, Koordinator Front Pemuda Indonesia Raya (FPIR), Fauzan Ohorella, memberikan tanggapan keras terhadap hasil survei IPI ini. Ia menilai dinamika ini adalah realitas pahit yang harus segera diantisipasi oleh pihak Istana.
"Orang terdekat yang menjadi lawan adalah kenyataan pahit yang sudah lumrah dalam politik Indonesia. Pertanyaannya bukan apakah ini akan terjadi, tetapi kapan—dan apakah Presiden Prabowo sudah siap menghadapinya?" ujar Fauzan dalam keterangannya, Selasa (10/2).
Berita Terkait
-
PKS Tegaskan Sikap Soal Dukungan Prabowo 2029: Ini Bukan Soal Cepat-cepatan!
-
Survei IPI: Sjafrie Sjamsoeddin Hingga Purbaya Masuk Bursa Bakal Capres 2029
-
Soal Usul Duet Prabowo-Zulhas di 2029, Dasco: Kita Anggap Wacana dan Hiburan Buat Rakyat
-
Waketum PAN Ingin Prabowo Dipasangkan Dengan Zulhas di 2029, Dasco: Kita Anggap Doa Saja
-
Eddy Soeparno: Kalau Ditanya Hari Ini, Saya Dukung Pak Zulhas Dampingi Pak Prabowo di 2029
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 30 Kode Redeem FF 25 Maret 2026: Klaim Bundle Panther Gratis dan Skin M14 Sultan Tanpa Top Up
- 5 Rekomendasi HP Samsung Terbaru Murah dengan Spek Gahar, Mulai Rp1 Jutaan
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Satu Mobil ke Bandara, Prabowo Antar Langsung Anwar Ibrahim Tinggalkan Indonesia
-
Stok Tomahawk Menipis, Operasi Militer AS di Iran Picu Kekhawatiran
-
Mundurnya Yudi Abrimantyo dari Kepala BAIS Dinilai Tamparan untuk Elite
-
Kematian Pekerja Tambang di Morowali Disorot DPRD, Diminta Diusut Tuntas
-
Kabar Duka, Tokoh Agama dan Juru Damai Konflik Poso Ustad Adnan Arsal Wafat
-
'Ini Terakhir Kali Saya ke Jakarta': Curahan Hati Perantau yang Balik Kampung Demi Jaga Sang Putri
-
Gus Ipul Dukung Narapidana Dapat Bansos PBI, Kemensos Siap Tindak Lanjut
-
Tiga Jam Bertemu di Istana hingga Antar ke Bandara, Ini Obrolan Presiden Prabowo dan PM Anwar
-
Dorong Penyaluran Bantuan di Tapteng, Kasatgas Tito Tekankan Percepatan Pendataan
-
12 Tahun Transjakarta: Layani 1,4 Juta Penumpang per Hari, Cakupan Tembus 92,5 Persen Jakarta