- Presiden terpilih Prabowo Subianto memilih pendekatan tertutup dengan mengandalkan data dari satuan tugas dalam menghadapi konglomerat.
- Pertemuan tertutup ini diduga karena Prabowo telah mengantongi rekam jejak pengusaha terkait persoalan hukum pertambangan atau kehutanan.
- Strategi ini berbeda dari Jokowi dan bertujuan menghindari persepsi publik mengenai adanya "proyek titipan" dari pemerintah baru.
Suara.com - Pendekatan Presiden terpilih Prabowo Subianto dalam menghadapi para pengusaha besar dan konglomerat dinilai akan berbeda dari gaya kepemimpinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Prabowo disebut mulai bergerak secara tertutup dengan mengandalkan data serta masukan dari berbagai satuan tugas (satgas).
Analis politik Selamat Ginting mengungkapkan, pertemuan-pertemuan tertutup yang belakangan dilakukan Prabowo dengan sejumlah konglomerat bukan tanpa alasan. Ia menduga Prabowo telah mengantongi “catatan” terkait rekam jejak para pengusaha tersebut, terutama yang bersinggungan dengan persoalan hukum.
“Saya kira Prabowo mengundang mereka itu setelah ada masukan-masukan dari satgas-satgas. Misalnya, kemungkinan keterlibatan mereka dalam beberapa kasus-kasus pertambangan, kasus kehutanan, dan lain-lain,” ujar Selamat Ginting dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Rabu (18/2/2026).
Menurutnya, keputusan Prabowo menggelar pertemuan secara tertutup dan tidak frontal di hadapan publik merupakan bentuk pendekatan persuasif. Prabowo dinilai ingin menghadapi para aktor ekonomi tersebut berdasarkan “rapor” atau rekam jejak masing-masing perusahaan.
Selamat juga menyoroti fakta bahwa tidak semua konglomerat dipanggil secara bersamaan. Hal ini, menurutnya, memperkuat dugaan adanya klasifikasi berdasarkan data hukum yang telah diterima Prabowo.
“Mengapa cuma sekitar lima, bukan sembilan-sembilannya (konglomerat)? Jadi menurut saya ini satu-satu dipanggil. Nah, sesuai dengan rapor mereka, kira-kira begitu. Tentu kita mesti menggunakan kata praduga ya,” lanjutnya.
Berbeda dengan Jokowi yang kerap tampil terbuka saat menggandeng konglomerat dalam berbagai proyek strategis nasional seperti Ibu Kota Nusantara (IKN), Prabowo disebut memilih “jalan sunyi”. Langkah ini dinilai sebagai upaya menghindari pengulangan persoalan atau persepsi publik mengenai adanya “proyek titipan”.
Selamat Ginting menilai strategi tersebut sejalan dengan sikap kritis Prabowo terhadap oligarki sejak Pilpres 2014 dan 2019. Pemanggilan para pengusaha besar ini dianggap sebagai langkah proaktif atau jemput bola, sebelum muncul tuntutan publik terkait komitmennya dalam pemberantasan mafia tambang dan kehutanan.
“Karena itu sebelum dituntut oleh publik ‘gimana sikapmu presiden terhadap mereka’. Nah, ini sudah dipanggil duluan. Kira-kira gitu, Bung,” pungkasnya.
Baca Juga: Deal Dagang Prabowo-Trump: Produk AS Bebas Bea Masuk, Barang RI Kena Tarif 19 Persen
Langkah Prabowo ini diprediksi menjadi babak baru dalam relasi antara penguasa dan pengusaha di Indonesia. Ke depan, data dari satgas penegakan hukum disebut akan menjadi variabel kunci dalam penentuan arah kebijakan ekonomi pemerintah.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
Terpopuler
- Ganjil Genap Jakarta Resmi Ditiadakan Mulai Hari Ini, Simak Aturannya
- LIVE STREAMING: Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 2026
- Menkeu Purbaya Pastikan THR ASN Rp55 Triliun Cair Awal Ramadan
- Pemerintah Puasa Tanggal Berapa? Cek Link Live Streaming Hasil Sidang Isbat 1 Ramadan 2026
- Ini 4 Tablet Paling Murah 2026, Memori Tembus 256 GB
Pilihan
-
Cerita Warga Solo Hadapi Pajak Opsen hingga Kaget Uang Tak Cukup, FX Rudy: Mohon Dipertimbangkan!
-
Resmi! Kemenag Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh Pada Kamis 19 Februari 2026
-
Hilal Tidak Terlihat di Makassar, Posisi Bulan Masih di Bawah Ufuk
-
Detik-detik Warga Bersih-bersih Rumah Kosong di Brebes, Berujung Temuan Mayat dalam Koper
-
Persib Bandung Bakal Boyong Ronald Koeman Jr, Berani Bayar Berapa?
Terkini
-
1,7 Juta KPM Daerah Bencana Sumatra Terima Bansos
-
Ancam Pendapatan UMKM, Pramono Anung Diminta Tinjau Ulang Dampak Ekonomi Perda KTR Jakarta
-
Temui Komisi III DPR, Tiga Konfederasi Buruh Tegaskan Polri Tetap di Bawah Presiden
-
Alasan di Balik Batalnya Inosentius Samsul Jadi Hakim MK, DPR: Dapat Tugas Baru di Danantara
-
Pemerintah Resmi Ajukan Permohonan Eksekusi Hotel Sultan
-
Jalan Berlubang di Jakarta, Siapa Bertanggung Jawab?
-
Satpol PP Duren Sawit 'Bersihkan' Trotoar dari 11 PKL dan 5 Motor Parkir Liar
-
Juknis Pembelajaran Selama Ramadan dari Kemenag: Madrasah Tak Wajib Khatam Al Quran
-
Legislator PDIP: Jokowi Harus Tanggung Jawab atas Kerusakan Desain UU KPK
-
Beda dengan Jokowi, Mensesneg Sebut Pemerintah Prabowo Belum Berencana Balikkan UU KPK