News / Internasional
Kamis, 05 Maret 2026 | 13:23 WIB
Mohammad Reza Pahlavi. [Dok Wikipedia]
Baca 10 detik
  • Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi, tertipu oleh pelaku Rusia yang mengaku sebagai perwakilan Kanselir Jerman.
  • Pahlavi mendukung rencana fiktif pengeboman Teheran, bahkan menyebutnya sebagai sebuah "perang salib" (crusade).
  • Insiden ini diungkap Trita Parsi pada Kamis (5/3/2026), menyoroti peran Justin Forsyth sebagai pengendali Pahlavi.

Suara.com - Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi, tengah menjadi sorotan tajam setelah dirinya terbukti menjadi korban kejahilan (prank) dari pelaku asal Rusia.

Tak sekadar tertipu, Reza Pahlavi terekam kamera memberikan dukungan penuh terhadap rencana fiktif pengeboman Teheran, bahkan melabeli agresi militer tersebut sebagai sebuah "perang salib".

Insiden memalukan ini diungkap ke publik oleh pengamat politik dan penulis, Trita Parsi, melalui akun X pribadinya, @tparsi.

Dalam keterangannya, Trita Parsi membeberkan bagaimana tokoh yang digadang-gadang berharap diangkat kembali menjadi Shah Iran oleh Donald Trump tersebut, dengan mudahnya diperdaya oleh perwakilan pemerintah Jerman palsu.

"Para pelaku iseng Rusia memperdayai Reza Pahlavi agar percaya bahwa mereka adalah perwakilan dari Kanselir Jerman," tulis keterangan unggahan X tersebut, pada Kamis (5/3/2026).

Menurut Parsi, skenario jebakan ini terjadi beberapa hari sebelum eskalasi perang di Timur Tengah pecah.

Keadaan menjadi sangat fatal ketika perwakilan palsu tersebut mengklaim bahwa Jerman akan bergabung dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk menjatuhkan bom di Iran.

Bukannya menolak atau mempertanyakan rencana penghancuran negaranya sendiri, Pahlavi justru merespons informasi tersebut dengan sangat gembira. Ia menilai bergabungnya negara Eropa sangat penting agar AS dan Israel tidak sendirian di mata dunia.

Lebih lanjut, Pahlavi secara eksplisit menggunakan istilah 'crusade' (perang suci/perang salib) untuk menggambarkan serangan militer gabungan tersebut.

Baca Juga: Amerika Akui Tak Mampu Hadapi Drone-drone Iran

“Itu jelas jadi elemen yang disambut baik buat kita kalau ada lebih banyak orang yang gabung di perang suci (crusade) ini. Dan saya seneng banget Jerman mengambil sikap yang sekuat itu. Saya harap yang lain juga bakal ngikutin jejaknya," ujar Pahlevi dalam video tersebut.

Di akhir keterangan unggahan X, Trita Parsi juga memberikan catatan kritis terkait lingkaran dalam Pahlavi. Ia menyoroti sosok Justin Forsyth yang disebutnya sebagai pengendali (handler) Pahlavi saat ini.

Forsyth sendiri merupakan mantan pejabat pemerintah Inggris yang memiliki rekam jejak kontroversial, di mana ia terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya di UNICEF setelah mengakui adanya perilaku tidak pantas terhadap staf perempuan. (Tsabita Aulia)

Load More