- Pakar Hukum Pidana Unri, Erdianto Effendi, menyatakan proses penyidikan masih boleh menggunakan KUHAP lama meski ada KUHAP baru.
- Proses dakwaan harus menyesuaikan KUHAP baru, sementara penetapan tersangka minimal dua alat bukti tetap sama.
- KUHAP baru menambah alat bukti elektronik, namun konstruksi delik pidana korupsi substansinya tidak berbeda signifikan.
Suara.com - Pakar Hukum Pidana Universitas Riau, Erdianto Effendi berpendapat jika penyidik masih diperbolehkan menggunakan KUHAP lama, dalam proses penyidikan, meski kini telah ada peralihan KUHAP baru.
Hal itu disampaikan Erdianto, saat sidang praperadilan eks Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas tentang dugaan tindak pidana korupsi kuota haji, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2026).
"Jadi, untuk penyidikan masih sama?" tanya Tim Biro Hukum KPK, Indah Oktianti, dalam ruang sidang.
"Masih sama ya, masih boleh," jawab Erdianto.
Tim hukum KPK mengilustrasikan, jika penyidikan sudah dilakukan sebelum berlakunya KUHP Baru, kemudian terbitnya Sprindik, hingga surat pemanggilan dan penyitaan dilaksanakan pada tahun 2025. Kemudian, pada tahun 2026, berlaku KUHAP Baru.
"Bagaimana yang harus dilakukan oleh penyidik dengan adanya perubahan KUHAP ini?" tanya tim hukum KPK.
Erdianto menuturkan, jika mengacu peraturan Jaksa Agung dan peraturan Kapolri, ada ketentuan yang menyatakan dalam berita acara pemeriksaan pada proses penyidikan yang sudah berlangsung itu tetap mengacu kepada ketentuan yang lama.
“Namun, pada saat proses dakwaan nanti itu harus menyesuaikan bagaimana yang disebutkan dalam KUHAP baru, harus disebutkan pasal yang baru," tuturnya.
Erdianto melanjutkan, jika tidak ada perbedaan antara KUHAP Lama dan KUHAP Baru dalam hal penetapan tersangka harus didasarkan minimal 2 alat bukti.
Baca Juga: KPK Serahkan 149 Bukti dalam Sidang Praperadilan Gus Yaqut di PN Jakarta Selatan
Kemudian, UU KPK pasal 44 itu tentang bukti permulaan sejalan dengan KUHAP Lama ataupun KUHAP Baru.
Tim Biro Hukum KPK, kemudian ikut menyoroti tentang pemberitahuan penetapan tersangka harus diberitahukan pada tersangka maksimal 1 hari pasca surat penetapan tersangka dituangkan. Persoalan tersebut tidak diatur dalam KUHAP Lama.
"Bagaimana menurut pendapat ahli, apakah penetapan tersangka yang diatur di dalam pasal 90 KUHAP baru ini dimana disitu ada harus diberitakan kepada tersangka paling lama satu hari dan dituangkan dalam surat penetapan itu diatur juga di dalam KUHAP yang lama?" tanya tim hukum KPK.
"Sepengetahuan saya tidak diatur, nomenklatur penetapan tersangka itu tidak diatur di dalam KUHAP lama, yang ada hanyalah adanya pengertian tersangka dan nomenklatur tentang penetapan tersangka berdasarkan KUHAP lama itu diatur dalam peraturan teknis di institusi penyidik masing-masing, seperti di dalam peraturan Kapolri atau peraturan Jaksa Agung atau peraturan KPK," jawabnya.
Dalam KUHAP Baru, lanjut Erdianto, menang ada penambahan dari sisi alat bukti, diantaranya alat bukti elektronik, barang bukti, dan yang dianggap sebagai pengamatan akhir. Kemudian, selainnya masih sama antara alat bukti yang diatur dalam KUHAP Lama maupun KUHAP Baru.
Erdianto sempat menyinggung tentang pengacuan perubahan pasal sebagaimana dalam pasal 2 dan pasal 3, yang mana UU Tipikor dicabut tersebut diatur dalam pasal 622 ayat 4 pasal 2 pengacuannya menjadi pasal 603, dan pasal 3 pengacuannya menjadi pasal 604.
Berita Terkait
-
KPK Serahkan 149 Bukti dalam Sidang Praperadilan Gus Yaqut di PN Jakarta Selatan
-
Ahli Praperadilan Gus Yaqut Sebut Negara Tak Jualan Kuota Haji, Begini Keterangannya
-
Di Sidang Praperadilan Yaqut, Ahli Sebut Dana Haji Bukan Keuangan Negara
-
Ahli di Sidang Gus Yaqut: Sprindik KPK Keliru karena Campur Aduk KUHP Lama dan Baru
-
Ahli Hukum di Sidang Gus Yaqut: Kerugian Negara Harus Ada Sebelum Penetapan Tersangka
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
- Lipstik Wardah yang Bagus Apa? Ini 4 Pilihan Paling Tahan Lama untuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
Terkini
-
Diskon Mako Bakery Khusus Nasabah BRI, Makan Enak Bayar Gak Sampai Rp20 Ribu!
-
Jonatan Christie Bersyukur Cepat Beradaptasi, Lolos ke Babak Kedua China Open 2026
-
Promo Terbaru BRI di Marugame Udon, Makan Kenyang Cuma Bayar Rp10 Ribu!
-
Serahkan Dugaan Korupsi MBG ke Penegak Hukum, Kepala BGN Baru Pilih Fokus Kerja
-
Seperti Apa Watak Weton Jumat Kliwon? Ini Sifat dan Keistimewaannya Menurut Primbon
-
Bukan Sekadar Angka, Ini Arti Penting Masuknya BRI di Jajaran Elite Perbankan Dunia
-
Soroti Kasus Febrie Adriansyah, Keluarga Terdakwa Korupsi Tuntut Kesetaraan di Depan Hukum
-
5 Sepatu Running Pria di Bawah Rp500 Ribu, Ada yang Cuma Rp100 Ribuan!
-
Pelibatan Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak Bisa Berujung Resistensi Publik
-
Sudaryono Resmi Jadi Kepala BGN, Bawa Misi Zero Tolerance Korupsi