- Kemenkes mengingatkan potensi lonjakan kasus campak selama libur Lebaran 2026 akibat peningkatan mobilitas dan aktivitas berkumpul masyarakat.
- Pola lima tahun terakhir menunjukkan kasus campak cenderung meningkat saat momen liburan panjang yang melibatkan pertemuan besar.
- Masyarakat yang menunjukkan gejala campak diimbau untuk menunda perjalanan dan menghindari keramaian demi mencegah penularan lebih lanjut.
Suara.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan potensi peningkatan penyebaran campak menjelang libur Lebaran 2026 seiring meningkatnya mobilitas dan aktivitas berkumpul masyarakat.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan pola peningkatan kasus campak dalam beberapa tahun terakhir kerap berkaitan dengan periode libur panjang.
“Kami perhatikan di sini ada hubungan antara kejadian kasus ini dengan adanya perayaan-perayaan yang bersifat berkumpul. Kemungkinan orang untuk kumpul bersama itu besar, jadi kasus-kasus yang suspek sebaiknya tidak ke mana-mana," kata Andi dalam konferensi pers virtual, Jumat (6/3/2026).
Dalam lima tahun terakhir, Kemenkes melihat adanya pola infeksi yang signifikan, di mana kasus akan meningkat pada momen liburan, kemudian setelahnya turun kembali.
"Kasus cenderung mulai meningkat pada awal tahun, ya, kemudian menurun begitu, dan kemudian akan naik lagi pada sekitar bulan Agustus, September, Oktober, November,” imbuhnya.
Ia menjelaskan tren kasus campak pada tahun ini sempat menunjukkan penurunan hingga minggu ke-8. Meski demikian, Kemenkes tetap mengingatkan potensi peningkatan kasus yang bisa terjadi pada masa libur panjang, termasuk Lebaran.
“Jika ada balita atau seseorang yang menderita suspek seperti demam kemudian ada ruam campak, itu maka ada baiknya tidak ke mana-mana dulu. Apalagi ini mau libur lebaran, kemungkinan orang-orang untuk kumpul bersama itu besar,” ujarnya.
Data Kemenkes mencatat terdapat 10.453 suspek campak sepanjang 2026. Pada minggu ke-8, jumlah suspek bertambah 506 kasus dibandingkan minggu sebelumnya.
Andi mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri atau anggota keluarga ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada campak.
Baca Juga: Kemenkes Minta Masyarakat Tak Khawatir Vaksin MR, Efek Samping Disebut Wajar dan Sementara
“Apabila ada anggota keluarga, anak sakit, maka segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kurangi kontak dengan orang sehat untuk mencegah penularan,” katanya.
Ia juga meminta individu yang mengalami gejala seperti demam dan ruam kemerahan untuk sementara menghindari aktivitas di luar rumah maupun kegiatan yang melibatkan kerumunan.
“Khusus kepada individu yang memiliki gejala demam, ada tanda-tanda suspek campak, seperti ruam, kemerahan, sebaiknya tidak kumpul-kumpul, kemudian tidak pergi ke tempat-tempat, termasuk tidak pergi ke tempat-tempat wisata dan juga ke tempat-tempat keramaian lainnya, sebaiknya di rumah saja seperti begitu,” tegas Andi.
Menurutnya, masa libur Lebaran biasanya diwarnai dengan berbagai aktivitas berkumpul bersama keluarga dan kerabat sehingga berpotensi mempercepat penularan penyakit jika individu yang sakit tetap beraktivitas di luar rumah.
Ia bahkan menyarankan anak yang dicurigai mengalami campak untuk sementara tidak mengikuti kegiatan sekolah sampai kondisinya dipastikan aman.
“Jika harus sekolah, jangan sekolah dulu. Intinya untuk kasus-kasus yang suspek sebaiknya tidak ke mana-mana,” pesannya.
Berita Terkait
-
Kemenkes Minta Masyarakat Tak Khawatir Vaksin MR, Efek Samping Disebut Wajar dan Sementara
-
Kota Yogyakarta Catat 6 Kasus Positif Campak, Dinkes Sebut Masih Ada Warga Anti Vaksin
-
Kapan Libur Lebaran PNS 2026? Ini Aturan Menurut SKB 3 Menteri dan Jadwal WFA
-
Campak Bukan Teman Kencan, Jangan Diajak Jalan-Jalan ke Tempat Umum!
-
Riwayat Pendidikan Ruce Nuenda, Ternyata Lulusan Sarjana di Kampus Ini
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Bareskrim Bongkar Gudang Ponsel Ilegal di Sidoarjo, Satu Truk Barang Bukti Disita
-
Sasar Pelanggan Kategori 2A, PAM Jaya Distribusikan Puluhan Toren untuk Ibu-ibu di Koja
-
Terisak Merasa Dikambinghitamkan, Ibam: Niat Bantu Nadiem Malah Dikriminalisasi 22 Tahun
-
Analis Masih Yakin Amerika Kalah Perang dengan Iran Meski dengan Bom
-
Terima Telepon PM Albanese, Prabowo Bahas Ekspor Pupuk Urea ke Australia
-
Warga Ciduk Pengguna Sabu Mondar-mandir saat Cari Ikan Sapu-sapu, Sempat Disuruh Tiduran di Got
-
LPG 12 Kg Melejit Rp228 Ribu, Pemprov DKI Perketat Pengawasan 'Eksodus' ke Gas Melon
-
Longsor Jadi Peringatan, DPRD DKI Percepat Pembenahan TPST Bantargebang
-
Pakar: Penegakan Hukum Jadi Kunci Tekan Rokok Ilegal
-
Rosan Roeslani Lapor ke Prabowo: Investasi Kuartal I 2026 Tembus Rp498,79 Triliun