News / Internasional
Selasa, 10 Maret 2026 | 15:35 WIB
Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Ia menggantikan ayahnya, Ali Khamenei. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan pertama, diikuti penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru Iran.
  • Israel mengancam akan memburu pemimpin baru Iran, sementara AS menargetkan perubahan rezim sebagai tujuan utama operasi.
  • Operasi militer ini didukung jaringan pangkalan AS di Teluk, dengan motif ekonomi penguasaan cadangan minyak dunia.

Amerika Serikat juga memiliki akses ke fasilitas di Oman, termasuk pangkalan udara Thumrait dan Masirah, serta pelabuhan Duqm dan Salalah untuk mendukung pergerakan logistik.

Terakhir, di Arab Saudi, Pangkalan Udara Prince Sultan menjadi pusat pertahanan rudal Patriot. Secara total, terdapat sekitar 18 titik fasilitas dan aset militer strategis yang kini aktif mendukung operasi melawan Iran di kawasan tersebut.

Perang Lawan Iran, Amerika Untung Berapa?

Di balik alasan keamanan dan nuklir, terdapat motif ekonomi yang sangat besar. Senator AS, Lindsey Graham, secara blak-blakan menyebut konflik ini sebagai sebuah “investasi yang bagus,” RT mencatat.

Menurut Graham, jika pemerintah Iran berhasil ditumbangkan, AS akan mendapatkan keuntungan finansial yang memecahkan rekor dan menguasai jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Target utamanya adalah penguasaan cadangan minyak. Dengan mengontrol sektor minyak Iran dan Venezuela, AS secara efektif akan menjalin kemitraan yang menguasai 31 persen cadangan minyak dunia. Graham menilai hal ini sebagai langkah untuk melemahkan posisi China.

Terkait harga minyak dunia yang melonjak hingga lebih dari Rp 1.694.000 (100 dolar AS) per barel, Donald Trump menganggapnya sebagai harga yang sangat kecil untuk dibayar demi memenangkan perang melawan Iran.

Baca Juga: Beda Syarat DPR di Iran dan Indonesia, Viral Jadi Perbincangan Netizen

Load More