-
Amerika Serikat dan Israel mengklaim telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur militer vital Iran.
-
Iran menerapkan strategi perang atrisi untuk menguras sumber daya lawan dan mengganggu ekonomi global.
-
Intensitas serangan rudal Iran dilaporkan menurun meski ancaman drone dan blokade laut tetap ada.
Suara.com - Amerika Serikat bersama Israel mengklaim telah berhasil melumpuhkan kekuatan tempur Iran melalui rangkaian serangan udara terpadu.
Klaim kemenangan ini muncul setelah operasi militer berkelanjutan yang menyasar titik vital pertahanan Teheran.
Pihak Washington menyatakan bahwa infrastruktur militer utama negara tersebut kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
"Pertahanan udara, angkatan udara, angkatan laut, dan kepemimpinan mereka sudah hancur," tulis Presiden AS Donald Trump dikutip dari BBC.
Mantan pemimpin yang kembali menjabat itu menegaskan bahwa kesempatan untuk melakukan negosiasi sudah tertutup rapat.
"Mereka ingin berbicara. Saya bilang, 'Terlambat!'" tegas Trump dalam unggahan tersebut.
Pemerintah Iran melakukan aksi balasan dengan menyerang pangkalan militer yang menampung pasukan Amerika di kawasan Timur Tengah.
Teheran berargumen bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari hak kedaulatan untuk membela diri dari agresi luar.
Meskipun secara konvensional tertinggal, para ahli melihat Iran sedang menerapkan taktik peperangan jangka panjang.
Baca Juga: Trump Klaim Perang AS-Israel vs Iran Segera Usai, Sebut Militer Iran Nyaris Lumpuh
Hellyer, seorang pakar keamanan dari Royal United Services Institute (RUSI) UK, memberikan pandangan mengenai manuver Teheran saat ini.
Menurutnya, Iran tidak berusaha memenangkan pertempuran secara terbuka melawan kekuatan besar seperti Amerika Serikat.
"Iran tidak bisa menang secara konvensional—tetapi strateginya adalah memastikan kemenangan pihak lain tetap mahal dan tidak pasti," ujarnya.
Strategi ini dikenal sebagai perang atrisi yang fokus pada pengurasan sumber daya dan logistik musuh secara bertahap.
Nicole Grajewski dari Sciences Po Prancis menyebutkan bahwa terdapat dimensi psikologis yang kuat dalam setiap serangan Iran.
"Selama Perang 12 Hari [melawan Israel, tahun lalu], Iran lebih banyak mengarahkan serangan ke wilayah sipil," kata Grajewski.
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
Terkini
-
Bahlil: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol Tak Perlu Diseragamkan
-
Tanggapi Santai Usulan KPK, Bahlil: Di Golkar Jangankan 2 Periode, Satu Periode Saja Sering Ganti
-
YLBHI Desak Presiden dan Panglima TNI Hentikan Peradilan Militer yang Dinilai Tidak Adil
-
UU PPRT Disahkan, Akademisi UGM Soroti Celah Sanksi dan Kesiapan Jaminan Sosial
-
Tragedi PRT Lompat dari Lantai 4 Kos Benhil, Polisi Endus Dugaan Tindak Pidana
-
BNI Ingatkan Nasabah Waspadai Vishing dan Phishing, Tekankan Pentingnya Jaga Data Pribadi
-
AHY Dorong Model Penataan Kampung Mrican Sleman Jadi Percontohan Nasional
-
Benyamin Netanyahu Menderita Kanker Prostat
-
Nekat Olah Ikan Sapu-Sapu untuk Bahan Siomay, 5 Pria Diciduk Petugas Satpol PP
-
Tak Percaya Peradilan Militer, Pihak Andrie Yunus Tolak Hadiri Persidangan 29 April