News / Internasional
Rabu, 11 Maret 2026 | 13:36 WIB
Ironi! Pilot Perempuan Israel Dianggap Simbol Feminisme, Ribuan Wanita Gaza Berjuang Hidup. [Dok. X]
Baca 10 detik
  • Politisi dan militer Israel merayakan keterlibatan pilot perempuan dalam operasi udara melawan Iran sebagai bukti kesetaraan gender.
  • Partisipasi awak udara perempuan Israel dalam operasi militer disebut sebagai simbol kekuatan dan kemajuan sosial oleh pendukung Israel.
  • Aktivis HAM mengkritik narasi feminisme militer karena kontras dengan laporan penderitaan ribuan perempuan dan anak perempuan di Gaza.

Pihak militer menyebut kontribusi perempuan sebagai bagian penting dari operasi militer di berbagai front.

Namun narasi tersebut menuai kritik dari sejumlah aktivis dan pengamat hak asasi manusia.

Para aktivis HAM menilai perayaan peran perempuan dalam militer kontras dengan dampak kemanusiaan konflik yang juga menimpa perempuan dan anak-anak di kawasan tersebut.

Menurut laporan kemanusiaan, sejak Oktober 2023 sekitar 33 ribu perempuan dan anak perempuan dilaporkan tewas di Gaza, sementara puluhan ribu lainnya terluka.

Utusan khusus PBB untuk isu kekerasan terhadap perempuan, Reem Alsalem, bahkan menyebut situasi tersebut sebagai bentuk femisida terhadap perempuan Palestina.

“Apa yang terjadi pada perempuan dan anak perempuan Palestina bukan sekadar dampak sampingan perang.” kata Alsalem seperti dikutip dari Mekomit.il

Ia menambahkan, “Ini adalah penghancuran kehidupan dan tubuh mereka karena mereka adalah perempuan dan karena mereka adalah warga Palestina.”

Situasi kemanusiaan di Gaza juga semakin memburuk. Lebih dari satu juta perempuan dan anak perempuan kini tinggal di tenda atau bangunan yang hancur, menghadapi kelaparan dan kekurangan obat-obatan.

Banyak perempuan yang sebelumnya mengurus rumah tangga kini harus antre berjam-jam untuk mendapatkan makanan dari organisasi bantuan.

Baca Juga: Malam Berdarah di Tepi Barat! Desa Diserbu, 4 Warga Palestina Tewas, Israel Perluas Wilayah

Mereka juga membawa air dan kayu bakar melewati lingkungan yang hancur sambil merawat anak-anak dan anggota keluarga yang mengalami trauma.

Di tengah situasi tersebut, sebagian pengamat menilai narasi kesetaraan gender dalam militer sering kali menutupi konsekuensi perang terhadap masyarakat sipil.

Mereka menilai diskusi tentang kesetaraan sering berhenti pada partisipasi perempuan di medan perang, tanpa membahas dampak konflik terhadap perempuan di wilayah yang terdampak.

Load More