News / Internasional
Rabu, 11 Maret 2026 | 14:39 WIB
Kilang minyak di gurun yang direbut dan dijaga oleh militer. (Gemini AI)
Baca 10 detik
  • AS berencana melonggarkan sanksi minyak terhadap beberapa negara sebagai respon cepat kenaikan harga global pasca serangan ke Iran.
  • Presiden Trump melakukan diskusi konstruktif selama satu jam dengan Presiden Putin membahas Iran serta sinkronisasi penanganan krisis energi dunia.
  • Adanya ambisi AS untuk mengontrol cadangan minyak besar Iran dan Venezuela bertujuan melemahkan posisi ekonomi geopolitik China.

Kini, fokus utama Gedung Putih adalah memastikan harga minyak tidak terus melambung lebih tinggi dari perkiraan awal agar tidak merusak stabilitas ekonomi domestik mereka sendiri.

Ambisi Menguasai Cadangan Minyak Dunia

Menurut Tehran Times, Senator Republik Lindsey Graham secara blak-blakan menyebut konflik ini sebagai sebuah investasi yang bagus bagi Amerika Serikat. Ia menyoroti fakta bahwa Iran dan Venezuela secara gabungan memiliki sekitar 31 persen dari cadangan minyak dunia yang diketahui.

Graham menyatakan bahwa AS ingin menjalin kemitraan strategis untuk mengontrol cadangan raksasa tersebut, yang jika berhasil, diklaim akan mendatangkan keuntungan finansial yang sangat besar bagi Washington.

Target Melemahkan Ekonomi China

Di balik isu nuklir, ada motif geopolitik besar untuk menyulitkan posisi China. Senator Graham menyebut penguasaan atas cadangan minyak Iran dan Venezuela sebagai mimpi buruk bagi China.

Sebagai pengimpor minyak terbesar, China sangat bergantung pada stabilitas pasokan energi dari kawasan tersebut. Dengan mengendalikan keran minyak di negara-negara tersebut, AS berharap dapat memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam persaingan ekonomi global melawan Negeri Tirai Bambu.

Load More