News / Internasional
Kamis, 12 Maret 2026 | 22:30 WIB
Ilustrasi - Rudal Tomahawk AS hantam sekolah di Iran [X/Mehr News]
Baca 10 detik
  • Kesalahan kalkulasi Gedung Putih menyebabkan respons Iran melumpuhkan Selat Hormuz, memicu kenaikan harga minyak dunia.
  • Iran merespons serangan 28 Februari dengan agresi intensif, mengejutkan Pentagon karena tidak diantisipasi secara matang.
  • Perang singkat tersebut menghabiskan amunisi AS senilai miliaran dolar, menimbulkan krisis logistik dan ketidakpastian ekonomi global.

Senator Christopher Murphy mengungkapkan kekecewaannya melalui media sosial, menyatakan bahwa pemerintah saat ini sama sekali tidak memiliki rencana strategis untuk Selat Hormuz dan “tak tahu cara membuka Selat Hormuz kembali secara aman.”

Krisis Logistik dan Amunisi yang Menipis

Selain ancaman energi, perang ini juga menguras kantong pembayar pajak Amerika dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam pengarahan di Capitol Hill, pejabat Pentagon mengungkapkan militer AS telah menghabiskan amunisi senilai USD5,6 miliar atau setara Rp 94,7 Triliun hanya dalam dua hari pertama perang.

“Jumlah amunisi yang dipakai sebenarnya jauh lebih besar ketimbang yang diungkap ke publik," kata sumber NY Times.

Tingginya intensitas penggunaan senjata canggih ini memicu kekhawatiran mengenai ketahanan rantai pasokan militer AS jika konflik berlanjut dalam jangka panjang.

Sementara di lain sisi, kebingungan internal pemerintah semakin diperparah dengan insiden disinformasi.

Menteri Energi Chris Wright sempat memicu kehebohan pasar saat mengunggah klaim bahwa Angkatan Laut AS berhasil mengawal sebuah kapal tanker melalui Selat Hormuz.

Namun, unggahan itu segera dihapus setelah pejabat lain mengonfirmasi bahwa tidak ada pengawalan yang terjadi, yang justru membuat pasar minyak kembali terguncang hebat.

Baca Juga: Ayah hingga Istri Tewas! Mojtaba Khamenei: AS-Israel Akan Bayar Darah Para Syuhada

Ancaman Eksistensial bagi Iran

Eskalasi ini dipicu oleh serangan udara agresif AS dan Israel pada 28 Februari yang menewaskan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, beserta beberapa komandan senior militer lainnya.

Bagi Teheran, tindakan ini bukan sekadar serangan militer biasa, melainkan ancaman langsung terhadap keberadaan negara mereka.

Akibatnya, kampanye balasan Iran dilakukan dengan kekuatan penuh, menargetkan banyak lokasi strategis di wilayah pendudukan Israel serta pangkalan militer AS di negara-negara tetangga.

Kini, Presiden Trump dilaporkan mulai menunjukkan frustrasi yang meningkat. Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, ia mendesak awak kapal tanker minyak untuk “menunjukkan keberanian” dan tetap berlayar melalui Selat Hormuz yang sangat berbahaya.

Namun, dengan nihilnya jaminan keamanan dari Angkatan Laut, seruan tersebut tampaknya belum mampu menggerakkan kembali roda distribusi energi yang membeku.

Load More