- Jake Sullivan mengkritik Trump karena kurangnya strategi jelas AS dalam konflik Iran yang memicu krisis energi global.
- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang diprediksi Sullivan, telah menyebabkan kenaikan harga bensin di Amerika Serikat.
- Sullivan menyoroti kebingungan AS mengenai tujuan perang dan cara mengakhiri konflik, berbeda dengan klaim Trump.
Suara.com - Kritik keras datang dari mantan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat, Jake Sullivan, terhadap Presiden Donald Trump terkait perang yang sedang berlangsung dengan Iran.
Sullivan menilai pemerintah AS tidak memiliki strategi jelas untuk mengakhiri konflik yang kini berdampak pada krisis energi global.
Dalam wawancara di program Morning Joe di MSNBC, Sullivan mengatakan penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak awal.
Ia menilai respons Iran merupakan konsekuensi langsung dari serangan koalisi AS dan Israel.
“Sejak awal sudah bisa diperkirakan Iran akan menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS-Israel dan mengganggu pasokan energi dunia,” kata Sullivan.
Ia juga mengkritik kebingungan pemerintah AS setelah hampir dua minggu perang berjalan.
“Sudah hampir dua minggu sejak perang dimulai, tetapi kita masih terlihat bingung dan tidak punya jawaban bagaimana menghadapi situasi ini,” ujarnya.
Penutupan Selat Hormuz berdampak besar karena jalur tersebut dilalui sekitar 20 persen ekspor minyak dunia.
Kenaikan harga energi pun langsung terasa di Amerika Serikat.
Baca Juga: Rudal Kiamat Iran Belum Meluncur, Kapal Induk Terbesar Amerika Serikat USS Gerald R Ford Terbakar
Asosiasi otomotif AAA melaporkan harga rata-rata bensin nasional naik hingga 3,57 dolar per galon.
Sullivan menilai masalah terbesar bukan hanya dampak ekonomi, tetapi juga tidak jelasnya tujuan perang.
“Kita tidak punya jawaban jelas tentang apa arti kemenangan dalam perang ini, sehingga kita juga tidak tahu bagaimana cara keluar dari konflik,” tegasnya.
Ia juga menyinggung keputusan Trump yang menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 saat masa jabatan pertamanya.
Menurut Sullivan, keputusan itu menjadi salah satu faktor yang memperburuk situasi saat ini.
Di tengah kritik, Trump justru menyebut perang melawan Iran sebagai sebuah aksi petualangan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
Pilihan
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
Terkini
-
Gembong Narkoba El Chapo Merengek Minta Pulang ke Meksiko, Mau Nonton Piala Dunia?
-
Jakarta Bakal Gelap Gulita Selama 60 Menit pada Sabtu Malam, Ini Alasannya
-
4.151 Personel Dikerahkan Amankan Demo Mahasiswa di Jakpus, Begini Rekayasa Lalu Lintasnya
-
Iran Bantah Mentah-mentah Klaim Damai Donald Trump
-
Kabar Duka dari Raja Thailand, Putrinya Bajrakitiyabha Mahidol Meninggal Dunia
-
Habis Dibombardir, Donald Trump Umumkan Damai dengan Iran
-
Namanya Terseret Pusaran Kasus Korupsi MBG, Kapolres Metro Bekasi Akhirnya Buka Suara
-
BEM UI dan Aliansi Mahasiswa Demo di Bundaran HI Hari Ini, Kondisi Ekonomi Jadi Sorotan
-
Kasus Suap Bea Cukai Blueray, Kenapa Seret Nama Raffi Ahmad?
-
Jakarta Menuju 5 Abad: Kota Global Bukan Cuma Soal Megahnya Pencakar Langit