- Menteri Luar Negeri Iran mengakui bantuan krusial dari China dan Rusia pasca serangan AS dan Israel pada Februari 2026.
- Kerja sama ini mencakup dukungan politik, ekonomi melalui pembelian minyak, serta bantuan militer untuk memperkuat posisi Iran.
- Iran menutup akses Selat Hormuz secara diskriminatif terhadap kapal Amerika Serikat dan Israel sebagai respons serangan musuh.
"Saya rasa, dan dia (Putin) mungkin berpikir kita membantu Ukraina, kan?" ujar Trump, merujuk pada bantuan militer besar-besaran yang dikirim Kyiv untuk mempertahankan diri dari serangan Rusia.
Pernyataan Trump ini menggarisbawahi adanya pola "barter kepentingan" di mana konflik di Ukraina dan Timur Tengah kini saling berkelindan dalam satu papan catur geopolitik yang sama.
Sementara itu, China memainkan peran sebagai "penyelamat ekonomi". Melalui perjanjian kerja sama ekonomi 25 tahun yang ditandatangani pada 2021, Beijing menjadi pembeli utama cadangan minyak Iran.
Kesepakatan ini memberikan nafas buatan bagi ekonomi Iran yang tercekik sanksi, sekaligus memastikan China memiliki pasokan energi yang stabil untuk menggerakkan industri raksasanya.
Selat Hormuz: Senjata Energi yang Mengguncang Dunia
Salah satu poin paling krusial yang dibahas Araghchi adalah situasi di Selat Hormuz. Selat sempit ini merupakan jalur urat nadi energi dunia, di mana seperlima dari total pasokan minyak dan gas global melintas di sana.
Ketegangan di jalur ini telah menyebabkan guncangan hebat pada pasar komoditas, yang memicu kenaikan harga minyak dunia hingga menembus angka psikologis USD100 per barel.
Araghchi menegaskan, Selat Hormuz kini menjadi instrumen pertahanan bagi Teheran.
Ia menyatakan bahwa jalur tersebut kini tertutup bagi kapal-kapal yang dianggap sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan Iran.
Baca Juga: Keras! Paus Leo XIV Singgung Serangan AS yang Tewaskan Ratusan Anak Iran: Hentikan Perang
Blokade ini menyasar musuh-musuh negara dan sekutu mereka yang terlibat dalam serangan terhadap wilayah Iran.
"Selat itu tidak ditutup. Itu hanya tertutup bagi kapal-kapal dan tanker Amerika serta Israel, dan tidak bagi yang lain," tegas Araghchi.
Kebijakan diskriminatif di Selat Hormuz ini diprediksi akan menyebabkan dislokasi ekonomi global yang parah.
Dengan harga minyak yang melonjak, biaya logistik dan inflasi di kota-kota besar dunia, termasuk di Indonesia, terancam meningkat tajam.
Araghchi menjelaskan bahwa langkah ini merupakan respons terhadap "musuh-musuh kami, bagi mereka yang menyerang kami dan sekutu mereka."
Kondisi ini semakin diperparah dengan aksi Iran yang dilaporkan meluncurkan rudal ke arah negara-negara Teluk Persia lainnya, yang merupakan pemasok utama hidrokarbon dunia.
Berita Terkait
-
Keras! Paus Leo XIV Singgung Serangan AS yang Tewaskan Ratusan Anak Iran: Hentikan Perang
-
Trump Gigit Jari: Negara-negara Lain Ogah Bantu Militer AS, NATO Terancam Bubar
-
Konflik Timur Tengah Memanas, Bagaimana Nasib Haji 2026?
-
Donald Trump Provokasi Negara-negara Arab Rangkulan dengan Israel Serang Iran
-
Trump Minta Bantuan Sekutu Amankan Selat Hormuz, Jepang hingga Australia Enggan Kirim Kapal
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Meledak! ! Ahmad Dhani Serang Maia Estianty Sampai Ungkit Dugaan Perselingkuhan dengan Petinggi TV
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Analis Politik Senior Bongkar Makna di Balik Blusukan Wapres Gibran
-
Sukabumi Jadi Markas "Cinta Palsu" Antarnegara: 16 WNA Spesialis Love Scamming Digulung Imigrasi!
-
Wakil Ketua Komisi VIII Abidin Fikri Buka Suara Penangkapan 3 WNI Terkait Haji Ilegal
-
Besok Perisai Geruduk DPR Bawa 15 Tuntutan May Day: Dari Upah hingga Agraria!
-
Amnesty International Ungkap Tiga Faktor Penyebab Impunitas Militer di Indonesia
-
Main Mata Proyek Jalur Kereta: KPK Bongkar Skenario 'Plotting' Bupati Pati Sudewo di Balai Ngrombo
-
Bakar Sampah hingga Truk Besar Ganggu Warga, Kevin Wu PSI Sidak Pabrik Makanan di Kedoya
-
Ketum Posyandu Tekankan Pentingnya Mendidik Generasi Emas 2045
-
Tri Tito Karnavian Tekankan Implementasi 6 SPM di Peringatan Hari Posyandu Nasional
-
Jadi Pemicu Kecelakaan Maut KRL: Sopir Taksi Green SM Baru Kerja 3 Hari dan Cuma Dilatih Sehari!