News / Internasional
Senin, 16 Maret 2026 | 15:08 WIB
Ilustrasi drone Shaheed atau pesawat nirawak kamikaze berharga murah milik Iran terekam sedang lepas landas. Drone-drone itu bisa menghancurkan infrastruktur militer AS, termasuk radar-radar berharga mahal. [Suara.com]
Baca 10 detik
  • Menteri Luar Negeri Iran mengakui bantuan krusial dari China dan Rusia pasca serangan AS dan Israel pada Februari 2026.
  • Kerja sama ini mencakup dukungan politik, ekonomi melalui pembelian minyak, serta bantuan militer untuk memperkuat posisi Iran.
  • Iran menutup akses Selat Hormuz secara diskriminatif terhadap kapal Amerika Serikat dan Israel sebagai respons serangan musuh.

"Saya rasa, dan dia (Putin) mungkin berpikir kita membantu Ukraina, kan?" ujar Trump, merujuk pada bantuan militer besar-besaran yang dikirim Kyiv untuk mempertahankan diri dari serangan Rusia.

Pernyataan Trump ini menggarisbawahi adanya pola "barter kepentingan" di mana konflik di Ukraina dan Timur Tengah kini saling berkelindan dalam satu papan catur geopolitik yang sama.

Sementara itu, China memainkan peran sebagai "penyelamat ekonomi". Melalui perjanjian kerja sama ekonomi 25 tahun yang ditandatangani pada 2021, Beijing menjadi pembeli utama cadangan minyak Iran.

Kesepakatan ini memberikan nafas buatan bagi ekonomi Iran yang tercekik sanksi, sekaligus memastikan China memiliki pasokan energi yang stabil untuk menggerakkan industri raksasanya.

Selat Hormuz: Senjata Energi yang Mengguncang Dunia

Salah satu poin paling krusial yang dibahas Araghchi adalah situasi di Selat Hormuz. Selat sempit ini merupakan jalur urat nadi energi dunia, di mana seperlima dari total pasokan minyak dan gas global melintas di sana.

Ketegangan di jalur ini telah menyebabkan guncangan hebat pada pasar komoditas, yang memicu kenaikan harga minyak dunia hingga menembus angka psikologis USD100 per barel.

Araghchi menegaskan, Selat Hormuz kini menjadi instrumen pertahanan bagi Teheran.

Ia menyatakan bahwa jalur tersebut kini tertutup bagi kapal-kapal yang dianggap sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan Iran.

Baca Juga: Keras! Paus Leo XIV Singgung Serangan AS yang Tewaskan Ratusan Anak Iran: Hentikan Perang

Blokade ini menyasar musuh-musuh negara dan sekutu mereka yang terlibat dalam serangan terhadap wilayah Iran.

"Selat itu tidak ditutup. Itu hanya tertutup bagi kapal-kapal dan tanker Amerika serta Israel, dan tidak bagi yang lain," tegas Araghchi.

Kebijakan diskriminatif di Selat Hormuz ini diprediksi akan menyebabkan dislokasi ekonomi global yang parah.

Dengan harga minyak yang melonjak, biaya logistik dan inflasi di kota-kota besar dunia, termasuk di Indonesia, terancam meningkat tajam.

Araghchi menjelaskan bahwa langkah ini merupakan respons terhadap "musuh-musuh kami, bagi mereka yang menyerang kami dan sekutu mereka."

Kondisi ini semakin diperparah dengan aksi Iran yang dilaporkan meluncurkan rudal ke arah negara-negara Teluk Persia lainnya, yang merupakan pemasok utama hidrokarbon dunia.

Load More