News / Internasional
Senin, 16 Maret 2026 | 15:59 WIB
Selat Hormuz (Gemini AI)
Baca 10 detik
  • Iran menyangkal klaim AS tentang hancurnya kekuatan angkatan laut dan menantang Trump membuktikan klaimnya di Teluk Persia.
  • Iran menegaskan kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, sejak awal Maret sebagai respons balasan.
  • Sebagai pembalasan atas serangan 28 Februari yang menewaskan Khamenei, Iran telah meluncurkan sekitar 700 rudal dan 3.600 drone.

Suara.com - Ketegangan di kawasan Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Pemerintah Iran secara resmi menyangkal klaim Amerika Serikat terkait hancurnya kekuatan angkatan laut mereka.

Teheran justru mengeluarkan tantangan terbuka kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk membuktikan klaim tersebut dengan mengirimkan armada tempurnya langsung ke perairan Teluk Persia yang kini tengah memanas.

Pernyataan keras ini muncul sebagai respons atas narasi Washington yang menyebut kemampuan militer Iran telah dilumpuhkan pasca-serangkaian serangan udara.

Pihak Iran menegaskan bahwa posisi mereka di wilayah strategis tersebut masih sangat solid dan tidak tergoyahkan oleh tekanan militer maupun politik dari pihak Barat.

"Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali Angkatan Laut Korps Garuda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Iran memiliki kedaulatan penuh atas itu," kata Juru Bicara IRGC Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naini.

Penegasan mengenai kendali atas Selat Hormuz ini menjadi poin krusial mengingat wilayah tersebut merupakan jalur urat nadi perdagangan minyak dunia.

Penutupan atau gangguan di jalur ini dipastikan akan berdampak sistemik terhadap stabilitas ekonomi global, terutama bagi negara-negara industri besar yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.

Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naini juga memaparkan data mengenai intensitas serangan yang telah dilancarkan oleh pihak Iran sebagai bentuk perlawanan.

Naini mengeklaim bahwa sejauh ini Iran telah meluncurkan sekitar 700 rudal dan 3.600 pesawat nirawak dengan targetnya adalah Amerika dan Israel.

Baca Juga: Siap Perang Terbuka! Iran Akhirnya Akui China dan Rusia Bantu Lawan AS-Israel

Angka tersebut menunjukkan skala pertempuran yang sangat masif, melibatkan teknologi drone dan rudal balistik yang selama ini menjadi andalan pertahanan simetris maupun asimetris Iran.

Serangan-serangan ini disebut sebagai balasan langsung atas operasi militer yang menargetkan kedaulatan dan aset-aset penting milik Republik Islam tersebut.

Dalam sebuah pernyataan yang ditujukan langsung kepada kepemimpinan di Gedung Putih, Naini mempertanyakan validitas informasi yang disampaikan oleh Donald Trump kepada publik internasional.

Tantangan untuk masuk ke wilayah kedaulatan Iran menjadi sinyal bahwa IRGC siap menghadapi konfrontasi langsung di laut.

"Bukankah Trump mengatakan bahwa dia telah menghancurkan Angkatan Laut Iran? Jadi, jika dia berani, dia bisa mengirim kapalnya ke wilayah Teluk Persia," tegas Naini.

Situasi ini semakin rumit karena Iran memandang perang yang terjadi saat ini bukan sekadar adu kekuatan senjata, melainkan ujian bagi ketahanan sosial dan mentalitas bangsa dalam menghadapi agresi asing.

Load More