- Satu pelajar berusia 9 tahun meninggal dunia tertimpa bangunan SD Inpres Oepula yang roboh saat berteduh di TTS, NTT.
- Dua korban lain mengalami luka, satu berat dan satu ringan, setelah bangunan tua yang lapuk tersebut runtuh saat hujan gerimis.
- Bangunan dari tahun 1991 tersebut sudah tidak difungsikan sejak 2023 namun tetap diakses anak-anak untuk bermain.
Kapolres TTS, AKBP Hendra Dorizen, yang dihubungi dari Kupang pada Kamis, membenarkan terjadinya peristiwa tersebut. Pihak kepolisian segera bergerak cepat menuju lokasi kejadian setelah menerima laporan dari masyarakat.
Kapolres bersama jajaran kepolisian turun langsung untuk memimpin proses evakuasi serta melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) guna memastikan penyebab pasti dari robohnya bangunan tersebut.
Bangunan Lapuk yang Tidak Lagi Difungsikan
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara dan keterangan dari pihak kepolisian, bangunan SD Inpres Oepula tersebut memang sudah dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Diketahui bahwa gedung tersebut telah berdiri sejak tahun 1991. Seiring berjalannya waktu, kondisi material bangunan mengalami pelapukan yang parah akibat dimakan usia dan faktor cuaca, sehingga strukturnya tidak lagi memiliki kekuatan untuk berdiri kokoh.
Pihak sekolah sebenarnya sudah tidak menggunakan bangunan tersebut untuk kegiatan belajar mengajar sejak setahun terakhir. Hal ini ditegaskan oleh AKBP Hendra Dorizen saat menjelaskan status operasional gedung tersebut.
“Bangunan tersebut sudah tidak difungsikan sejak 2023, tetapi sering digunakan anak-anak untuk bermain,” katanya sebagaimana dilansir Antara, Kamis (19/3/2026).
Meskipun sudah tidak difungsikan secara resmi, keberadaan bangunan yang tidak segera dibongkar atau dipagari secara permanen membuat area tersebut tetap bisa diakses oleh anak-anak.
Hal ini menjadi faktor risiko tinggi, mengingat anak-anak seringkali tidak menyadari bahaya laten yang mengintai dari bangunan yang sudah tidak layak huni.
Baca Juga: Wulan Guritno Syok! Sekolah di NTT Tak Punya Toilet Layak, Siswi Harus Tahan Malu dan Haus
Imbauan Kepolisian Terhadap Keamanan Bangunan Tua
Pihak kepolisian menekankan bahwa bangunan yang sudah lapuk dan tidak layak pakai seharusnya mendapatkan perhatian khusus agar tidak menimbulkan korban jiwa di kemudian hari.
Kapolres TTS mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat memasuki musim penghujan di mana struktur bangunan tua cenderung lebih rentan roboh akibat kelembapan tinggi atau beban air.
Masyarakat diminta untuk melarang anak-anak bermain di sekitar gedung atau bangunan yang terlihat sudah rusak parah demi mencegah terulangnya kejadian serupa.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih terus mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi di lokasi kejadian.
Penyelidikan difokuskan pada aspek kelalaian atau faktor teknis lainnya yang menyebabkan bangunan tersebut tetap berdiri meski kondisinya sudah sangat membahayakan keselamatan publik.
Sementara itu, korban luka berat masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat dengan pengawasan tim medis.
Berita Terkait
-
Wulan Guritno Syok! Sekolah di NTT Tak Punya Toilet Layak, Siswi Harus Tahan Malu dan Haus
-
Viral Sekolah Rusak Parah di NTT, Siswa Tetap Masuk Meski Tanpa Meja Kursi
-
Perempuan Sabu Raijua, Penjaga Tradisi dan Motor Ekonomi Gula Semut
-
Menenun Identitas: Perempuan Sumba, Warna Alam, dan Warisan yang Tak Pernah Putus
-
Lontar dan Filosofi Kecukupan, Memahami Orang Sabu Lewat Sebatang Pohon
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan