Entertainment / Gosip
Jum'at, 06 Maret 2026 | 21:30 WIB
Wulan Guritno, Joe Taslim, Winky Wiryawan, hingga Shalom Razade menghadiri acara Plan Indonesia yang baru saja melakukan voluntrip ke NTT. Dari kunjungan tersebut mereka tersadar sulitnya akses air bersih. [Tiara Rosana/Suara.com]
Baca 10 detik
  • Wulan Guritno menyoroti kondisi fasilitas sanitasi buruk di Manggarai, NTT, menyebabkan siswi absen saat menstruasi.
  • Kunjungan ini merupakan bagian dari kegiatan Voluntrip bersama Plan Indonesia, ZAP Clinic, dan Lee Management pada Februari 2026.
  • Aktor lain seperti Joe Taslim mengungkap sulitnya akses air bersih, di mana siswa harus berjalan jauh untuk mendapatkannya.

Suara.com - Wulan Guritno mengungkap kondisi  memprihatinkan yang dia temui saat mengunjungi sekolah-sekolah di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Kondisi fasilitas pendidikan yang jauh dari layak, terutama terkait sanitasi, membuat banyak siswi terpaksa tidak masuk sekolah saat menstruasi.

Sebagai informasi, Wulan Guritno baru saja kembali dari kegiatan Voluntrip yang diselenggarakan bersama Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia), ZAP Clinic, dan Lee Management pada 3-4 Februari 2026.

Menurut Wulan, perjalanan tersebut bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan pengalaman yang membuka matanya terhadap ketimpangan fasilitas dasar yang masih dialami anak-anak di Indonesia Timur, khususnya terkait akses sanitasi yang layak bagi perempuan.

Sebagai seorang ibu, aktris 44 tahun ini menaruh perhatian besar pada akses sanitasi bagi siswi.

Dia menemukan fakta bahwa banyak anak perempuan di pelosok Manggarai terpaksa bolos sekolah hanya karena tidak ada toilet yang memadai saat mereka sedang menstruasi.

"Kondisinya memang benar-benar miris, jauh dari kata layak. Ini lebih dari tidak layak lagi," ujar Wulan dalam jumpa pers di kawasan Senayan, Jakarta Pusat pada Jumat, 6 Maret 2026. 

Wulan Guritno menekankan bahwa keberadaan air bersih bukan hanya soal kebutuhan fisik, melainkan ruang aman bagi martabat perempuan.

"Anak perempuan kan ada yang namanya datang bulan. Kita tahu saat datang bulan itu bagaimana keadaannya. Harus ada fasilitas yang aman dan private untuk mereka merasa nyaman. Kalau tidak, jatuhnya ke masa depan anak ini. Mereka jadi tidak percaya diri dan malu untuk datang ke sekolah," katanya.

Baca Juga: LBH Makassar: Dugaan Penembakan Polisi yang Tewaskan Remaja di Makassar Bukan Insiden Biasa

Wulan sempat berdialog langsung dengan beberapa siswi di sana. Jawaban yang dia terima cukup memprihatinkan.

"Ada anak yang aku tanya, kalau lagi datang bulan ya mereka tidak sekolah karena malu. Bayangkan berapa banyak hari sekolah yang terpotong hanya karena fasilitas sanitasi tidak ada," imbuhnya.

Wulan Guritno, Joe Taslim, Winky Wiryawan, hingga Shalom Razade menghadiri acara Plan Indonesia yang baru saja melakukan voluntrip ke NTT. Dari kunjungan tersebut mereka tersadar sulitnya akses air bersih. [Tiara Rosana/Suara.com]

Pernyataan Wulan Guritno sejalan dengan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang mencatat NTT sebagai provinsi dengan persentase sekolah rusak tertinggi di Indonesia,  mencapai 29,93 persen.

Bangunan sekolah dengan dinding kayu seadanya, atap bocor, hingga lantai tanah masih menjadi pemandangan umum di sejumlah wilayah.

Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, menjelaskan bahwa akses terhadap pendidikan yang aman dan sanitasi layak bukan sekadar aspirasi, melainkan hak dasar bagi setiap anak.

"Di wilayah terpencil, tantangan akses air bersih dan sanitasi aman masih besar. Anak-anak, terutama perempuan, menghadapi risiko lebih besar terhadap masalah kesehatan dan ketidaksetaraan pendidikan," ucap Dini.

Load More