News / Internasional
Senin, 23 Maret 2026 | 18:06 WIB
Ilustrasi kapal tangker yang dihadang di Selat Horuz. (Gemini AI)
Baca 10 detik

IEA melaporkan 40 aset energi Timur Tengah rusak parah akibat konflik bersenjata berkepanjangan.

Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia dan mengganggu stabilitas ekonomi Asia.

Cadangan 400 juta barel minyak darurat disiapkan IEA untuk mengatasi krisis pasokan global.

Suara.com - Kondisi geopolitik perang yang memanas di kawasan Timur Tengah kini memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas energi global, salah satunya pasokan BBM dunia.

Badan Energi Internasional atau IEA melaporkan adanya kerusakan infrastruktur yang sangat masif di berbagai negara produsen.

Setidaknya terdapat sembilan negara di wilayah tersebut yang mengalami kehancuran pada fasilitas energi vital mereka.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 40 aset strategis kini berada dalam status rusak parah.

Situasi ini diprediksi akan menghambat distribusi minyak dan gas dalam jangka waktu yang cukup lama.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyampaikan bahwa pemulihan infrastruktur ini tidak bisa dilakukan secara instan.

Beliau menekankan bahwa proses perbaikan ladang minyak serta pipa penyalur akan memakan waktu yang sangat signifikan.

“Akan membutuhkan waktu bagi ladang minyak, kilang, dan pipa untuk kembali beroperasi,” katanya.

Konflik bersenjata yang telah pecah selama beberapa pekan terakhir menjadi penyebab utama lumpuhnya sektor ini.

Baca Juga: Benjamin Netanyahu Mulai Kalang Kabut Hadapi Iran Sampai Lakukan Hal Memalukan Ini

Pengiriman komoditas melalui jalur laut internasional bahkan dilaporkan hampir terhenti sepenuhnya saat ini.

Fatih Birol memberikan gambaran betapa gawatnya situasi ekonomi yang sedang dihadapi oleh masyarakat dunia sekarang.

Ia melihat adanya pola gangguan yang sangat ekstrem pada jalur perdagangan internasional di berbagai sektor.

Menurutnya dampak gangguan tersebut menyerupai “dua krisis minyak besar pada 1970-an dan krisis gas alam sekitar 2022 yang digabungkan.”

Seluruh elemen dalam rantai pasokan energi telah mengalami disrupsi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kekacauan ini tidak hanya menyerang sektor migas tetapi juga merusak nadi utama perekonomian dunia.

Ketegangan militer ini memberikan tekanan yang sangat berat bagi negara-negara di wilayah Asia Pasifik.

Ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan dari Timur Tengah membuat posisi negara Asia menjadi sangat rentan.

“Tidak hanya minyak dan gas, tetapi beberapa arteri vital ekonomi global… perdagangan mereka semua terganggu,” tambahnya.

Kepentingan domestik setiap negara kini menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian stok energi internasional.

Birol juga mengingatkan agar negara produsen tidak melakukan pembatasan ekspor secara sepihak tanpa alasan mendesak.

“Setiap negara pertama-tama mempertimbangkan kepentingan domestiknya sendiri, tetapi… pembatasan ekspor yang serius tanpa alasan yang jelas mungkin bukan sesuatu yang mendapat nilai plus,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi IEA telah menyusun rencana strategis untuk menjaga keseimbangan pasar minyak dunia.

Lembaga ini berencana mengucurkan ratusan juta barel minyak ke pasar global untuk meredam lonjakan harga.

Volume minyak yang akan dilepaskan dari gudang cadangan darurat mencapai angka 400 juta barel.

Langkah ini diharapkan mampu menjadi bantalan bagi negara-negara konsumen yang terdampak langsung oleh konflik.

IEA juga menyatakan kesiapannya untuk menambah volume cadangan jika gangguan distribusi terus berlanjut ke depannya.

Namun Fatih Birol menggarisbawahi bahwa solusi utama tetap terletak pada kelancaran jalur pelayaran internasional.

Ia menegaskan bahwa akses terbuka di wilayah perairan tertentu menjadi kunci utama pemulihan ekonomi dunia.

Birol menekankan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tetap penting untuk memulihkan aliran energi global.

Kelancaran arus keluar masuk kapal tangker di jalur tersebut merupakan syarat mutlak kestabilan harga energi.

Gangguan pada jalur pelayaran di Selat Hormuz sendiri mulai pecah sejak awal Maret tahun 2026.

Kondisi ini dipicu oleh aksi serangan militer yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Israel.

Biasanya terdapat sekitar 20 juta barel minyak mentah yang melintasi jalur sempit tersebut setiap harinya.

Terhentinya aktivitas logistik di sana langsung mendongkrak biaya pengiriman kapal tangker secara drastis.

Akibatnya harga minyak mentah di pasar internasional meroket hingga mencapai level yang sangat mengkhawatirkan.

Operasi militer yang dilancarkan pada akhir Februari lalu telah memakan ribuan korban jiwa di pihak Iran.

Bahkan laporan media menyebutkan bahwa tokoh tertinggi di pemerintahan Iran turut menjadi korban dalam serangan itu.

Pihak Teheran tidak tinggal diam dan segera meluncurkan serangan balasan menggunakan teknologi persenjataan modern.

Drone dan rudal menyasar berbagai titik strategis di negara tetangga yang berafiliasi dengan kekuatan barat.

Konflik yang meluas ini kini mengancam keamanan seluruh aset militer dan energi di kawasan Teluk.

Load More