- Mojtaba Khamenei, penerus Pemimpin Tertinggi Iran, belum tampil publik sejak ayahnya wafat, memicu spekulasi kondisi fisiknya.
- Intelijen AS dan Israel kesulitan memastikan kendali Mojtaba saat ini karena minimnya bukti perintah langsung darinya.
- Ketidakpastian kepemimpinan Iran memicu eskalasi di lapangan, termasuk ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz.
Intelijen AS dan Israel sebelumnya melihat kepala keamanan Ali Larijani sebagai pemimpin de facto Iran, sampai Israel membunuhnya Selasa lalu. Kekosongan kepemimpinan ini disoroti secara tajam oleh Presiden Trump.
"Pemimpin mereka semua sudah tiada. Barisan pemimpin berikutnya semuanya sudah tiada. Dan barisan pemimpin setelahnya sebagian besar sudah tiada. Dan sekarang, tidak ada lagi yang ingin menjadi pemimpin di sana. Kita sedang kesulitan. Kita ingin berbicara dengan mereka tetapi tidak ada orang yang bisa diajak bicara. Anda tahu, kita menyukainya seperti itu," kata Trump pada hari Jumat pekan lalu.
Dominasi IRGC di Balik Layar
Laporan intelijen menyebutkan bahwa para pemimpin puncak Iran kini beroperasi secara gerilya, mereka berpindah-pindah di antara rumah aman dan menghindari komunikasi digital.
Sementara itu, saluran Telegram Mojtaba sempat merilis foto-foto sang pemimpin baru bersamaan dengan pesan Nowruz yang menyerukan persatuan.
Namun, CIA masih mencoba menentukan apakah foto-foto tersebut adalah foto terbaru atau stok lama.
Kejanggalan semakin terlihat ketika Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, berani merilis pesan video untuk Nowruz meskipun ada ancaman terhadap keselamatannya.
Mengapa Mojtaba tidak melakukan hal yang sama?
Raz Zimmt, Direktur Program Iran di Institute for National Security Studies di Tel Aviv, menilai bahwa kondisi cedera dan masalah keamanan mungkin menjadi penghalang utama.
Baca Juga: Geger! Trader Misterius Raup Jutaan Dolar dalam 15 Menit Sebelum Klaim Damai Trump
"Dalam kondisi luar biasa saat ini, seseorang tidak seharusnya mengharapkan dia muncul di depan umum, dan mungkin saja cederanya bahkan tidak memungkinkannya untuk merilis video rekaman agar tidak memperlihatkan kepada publik parahnya kondisinya," jelas Zimmt.
Di balik layar, Direktur CIA John Ratcliffe dan Direktur Badan Intelijen Pertahanan Jenderal James Adams bersaksi dalam sidang tertutup, bahwa rezim Iran sedang mengalami krisis komando dan kendali yang dalam.
Vakum kekuasaan yang ditinggalkan Larijani kini diyakini sedang diisi oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
"IRGC mengambil alih Iran dan mereka gila. Mereka sangat ideologis dan siap mati dan bertemu Khamenei Senior," kata seorang pejabat senior Arab.
Ancaman Global dan Selat Hormuz
Di tengah ketidakpastian kepemimpinan ini, struktur politik Iran berusaha menunjukkan ketahanan.
Berita Terkait
-
Geger! Trader Misterius Raup Jutaan Dolar dalam 15 Menit Sebelum Klaim Damai Trump
-
Menakar Posisi Tawar Iran: Benarkah Makin Kuat Usai Digempur AS dan Israel?
-
Arab Saudi dan UEA Diam-diam Bantu Israel dan AS Perangi Iran
-
Terbongkar! Prancis dan 2 Negara Eropa Dituding Diam-diam Bantu AS Bombardir Iran
-
Ini Prediksi yang Bakal Dialami AS-Israel Pasca Pengangkatan Mohammad Bagher Zolghadr
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
-
Negara Tetangga RI Mulai Alami Krisis BBM
Terkini
-
Geger! Trader Misterius Raup Jutaan Dolar dalam 15 Menit Sebelum Klaim Damai Trump
-
Tak Sekeder Bicara, PM Spanyol Embargo Senjata dan Bongkar Niat Jahat Israel ke Lebanon
-
Menakar Posisi Tawar Iran: Benarkah Makin Kuat Usai Digempur AS dan Israel?
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Ribuan ASN Kemensos Mangkir di Hari Pertama Kerja, Gus Ipul Bakal Sanksi dan Potong Tukin 3 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Meski Masih WFA, Gus Ipul Temukan 2.708 ASN Kemensos Alpa
-
Normalisasi Sungai Terdampak Bencana Jadi Prioritas Satgas PRR
-
Sembari Menunggu Data Rampung, Pemerintah Percepat Penyaluran Bantuan Pemulihan Sumatera
-
Namanya Dicatut dalam Isu Sensitif, Menteri HAM Pigai Pertimbangkan Tempuh Jalur Hukum