News / Internasional
Rabu, 25 Maret 2026 | 20:11 WIB
Ayatollah Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran.
Baca 10 detik
  • Mojtaba Khamenei, penerus Pemimpin Tertinggi Iran, belum tampil publik sejak ayahnya wafat, memicu spekulasi kondisi fisiknya.
  • Intelijen AS dan Israel kesulitan memastikan kendali Mojtaba saat ini karena minimnya bukti perintah langsung darinya.
  • Ketidakpastian kepemimpinan Iran memicu eskalasi di lapangan, termasuk ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz.

Intelijen AS dan Israel sebelumnya melihat kepala keamanan Ali Larijani sebagai pemimpin de facto Iran, sampai Israel membunuhnya Selasa lalu. Kekosongan kepemimpinan ini disoroti secara tajam oleh Presiden Trump.

"Pemimpin mereka semua sudah tiada. Barisan pemimpin berikutnya semuanya sudah tiada. Dan barisan pemimpin setelahnya sebagian besar sudah tiada. Dan sekarang, tidak ada lagi yang ingin menjadi pemimpin di sana. Kita sedang kesulitan. Kita ingin berbicara dengan mereka tetapi tidak ada orang yang bisa diajak bicara. Anda tahu, kita menyukainya seperti itu," kata Trump pada hari Jumat pekan lalu.

Dominasi IRGC di Balik Layar

Laporan intelijen menyebutkan bahwa para pemimpin puncak Iran kini beroperasi secara gerilya,  mereka berpindah-pindah di antara rumah aman dan menghindari komunikasi digital.

Sementara itu, saluran Telegram Mojtaba sempat merilis foto-foto sang pemimpin baru bersamaan dengan pesan Nowruz yang menyerukan persatuan.

Namun, CIA masih mencoba menentukan apakah foto-foto tersebut adalah foto terbaru atau stok lama.

Kejanggalan semakin terlihat ketika Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, berani merilis pesan video untuk Nowruz meskipun ada ancaman terhadap keselamatannya.

Mengapa Mojtaba tidak melakukan hal yang sama?

Raz Zimmt, Direktur Program Iran di Institute for National Security Studies di Tel Aviv, menilai bahwa kondisi cedera dan masalah keamanan mungkin menjadi penghalang utama.

Baca Juga: Geger! Trader Misterius Raup Jutaan Dolar dalam 15 Menit Sebelum Klaim Damai Trump

"Dalam kondisi luar biasa saat ini, seseorang tidak seharusnya mengharapkan dia muncul di depan umum, dan mungkin saja cederanya bahkan tidak memungkinkannya untuk merilis video rekaman agar tidak memperlihatkan kepada publik parahnya kondisinya," jelas Zimmt.

Di balik layar, Direktur CIA John Ratcliffe dan Direktur Badan Intelijen Pertahanan Jenderal James Adams bersaksi dalam sidang tertutup, bahwa rezim Iran sedang mengalami krisis komando dan kendali yang dalam.

Vakum kekuasaan yang ditinggalkan Larijani kini diyakini sedang diisi oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

"IRGC mengambil alih Iran dan mereka gila. Mereka sangat ideologis dan siap mati dan bertemu Khamenei Senior," kata seorang pejabat senior Arab.

Ancaman Global dan Selat Hormuz

Di tengah ketidakpastian kepemimpinan ini, struktur politik Iran berusaha menunjukkan ketahanan.

Load More