- Wacana WFH satu hari per minggu berpotensi menurunkan pendapatan ojol Jakarta yang fokus pada mobilitas pekerja kantoran.
- Pengemudi ojol Depok menilai dampak kebijakan WFH minim karena penumpang mereka beragam, tidak hanya pekerja kantoran.
- Dampak kebijakan WFH menunjukkan ketidakseragaman, tergantung pada lokasi operasional dan basis utama penumpang ojek daring.
Suara.com - Wacana pemerintah untuk menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) satu hari dalam sepekan bagi pekerja kantoran tengah menjadi sorotan.
Bagi sebagian pekerja, ini bisa menjadi angin segar. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran dari para pengemudi ojek online (ojol) yang menggantungkan penghasilan pada mobilitas masyarakat.
Menariknya, respons para pengemudi ojol terhadap wacana ini tidak seragam. Lokasi operasional dan segmen penumpang menjadi faktor penentu dalam melihat potensi dampaknya.
Ojol Jakarta Khawatir Penghasilan Menurun
Muhammad Zainal, seorang pengemudi ojol di Jakarta, mengaku kebijakan WFH satu hari dalam sepekan berpotensi menjadi ancaman bagi pendapatannya.
Ia selama ini mengandalkan ritme pekerja kantoran, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
"Kalau itu benar-benar terjadi, kerja di rumah, pasti ada dampaknya ke kami para ojol. Soalnya penumpang paling banyak itu dari orang-orang yang berangkat atau pulang kerja," ujar Zainal saat ditemui, Jumat (27/3/2026).
Menurutnya, layanan antar penumpang akan paling terdampak. Sebagai pekerja dengan penghasilan harian, berkurangnya mobilitas pekerja kantoran satu hari saja sudah akan terasa.
Saat ini, Zainal mengantongi pendapatan bersih sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per hari, dengan target minimal Rp120 ribu untuk memenuhi kebutuhan.
Baca Juga: Mendagri Sebut WFH Sehari Sepekan Tak Masalah, Tinggal Tunggu Arahan Presiden
"Yang paling terasa itu kebutuhan harian, seperti makan, bensin, kebutuhan keluarga, jajan anak. Kalau pendapatan turun, biasanya harus lebih hemat," katanya.
Ojol Depok: Dampaknya Minim
Berbeda dengan Zainal, Christian, pengemudi ojol yang biasa beroperasi di Depok, menilai wacana WFH tidak akan banyak berpengaruh pada penghasilannya.
Ia kerap mangkal di sejumlah titik seperti Depok 1, Depok 2, GDC, hingga Stasiun Depok. Menurutnya, mobilitas warga di daerah penyangga tidak hanya bergantung pada pekerja kantoran.
"Nggak ngaruh, sama aja. Yang berpengaruh itu kalau semuanya libur," kata Christian, Kamis (27/3/2026).
Christian menjelaskan, penumpangnya cukup beragam, mulai dari pelajar, ibu rumah tangga, hingga pekerja informal. Aktivitas ekonomi lokal di Depok dinilai tetap menjaga stabilitas orderannya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 5 HP Murah RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan di Akhir Maret 2026
- Harga Mobil BYD per Maret 2026: Mulai Rp199 Jutaan, Ini Daftar Lengkapnya
Pilihan
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
Terkini
-
15 Butir Rencana Damai Trump: Apa Saja Isinya dan Mengapa Iran Menolak?
-
Gugat Meta dan YouTube soal Kecanduan Medsos, Perempuan Ini Tuntut Rp100 M
-
5 Aksi Dasco Jadi Jangkar Legislasi hingga Persatuan Nasional di Bulan Maret 2026
-
Santunan Kecelakan Lebaran Tembus Rp11 Miliar, Pemotor Jadi Korban Terbanyak!
-
Bayang-bayang Perang Timur Tengah Ancam Harga BBM, Ojol Ketar-ketir
-
Beredar Surat Panggilan Palsu, KPK Minta Masyarakat Waspada Penipuan
-
DPRD Minta Pemprov DKI Kendalikan Lonjakan Pendatang Usai Lebaran
-
Fluktuasi Kurs Rupiah, Harga Pangan Lokal Makin Tercekik Biaya Produksi
-
Respons Isu di Media Sosial, Pemprov DKI Jakarta Pastikan Penggunaan Kendaraan Dinas Sesuai Aturan
-
Arus Balik Lampaui Keberangkatan, KAI: Jakarta Diserbu 50 Ribu Penumpang Kereta per Hari