News / Internasional
Senin, 30 Maret 2026 | 11:17 WIB
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez [Instagram/@sanchezcastejon]
Baca 10 detik
  • Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, pada Ahad (29/3/2026) memperingatkan krisis pangan global akibat konflik Timur Tengah.
  • Konflik tersebut menyebabkan lebih dari 2.000 kematian, 4 juta pengungsi, serta kenaikan tajam harga minyak dan gas.
  • Gangguan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital 20% perdagangan energi dunia, memicu dampak ekonomi global.

Suara.com - Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, memperingatkan potensi krisis pangan global akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah. Peringatan tersebut ia sampaikan dalam surat kepada anggota Partai Pekerja Sosialis Spanyol (PSOE) pada Ahad (29/3/2026).

"Kita telah hidup dalam perang terbuka di Timur Tengah selama sebulan: lebih dari 2.000 orang tewas, empat juta orang terpaksa mengungsi, rantai pasokan terganggu, harga minyak dan gas meningkat tajam, serta krisis pangan membayangi," katanya, dilansir dari Sputnik.

Menurut Sanchez, lonjakan harga energi serta terganggunya rantai pasokan telah memberi tekanan besar terhadap pasar global.

Ia menegaskan bahwa Spanyol sejak awal menolak konflik tersebut dan mendorong agar perang segera dihentikan, sekaligus melindungi masyarakat dari dampak ekonomi yang ditimbulkan.

Sepanjang Maret, harga energi tercatat mengalami kenaikan seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Situasi semakin memburuk setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang hingga kini dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang.

Dampak konflik juga terasa pada jalur distribusi energi global. Lalu lintas di Selat Hormuz nyaris terhenti, padahal kawasan tersebut merupakan jalur vital pengiriman energi dari negara-negara Teluk Persia ke berbagai negara.

Selat Hormuz sendiri menyumbang sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan gas alam cair secara global, sehingga gangguan di wilayah ini berimbas langsung pada kenaikan harga energi dan berpotensi memicu krisis pangan.

(Antara)

Baca Juga: Rudal Houthi Yaman Hantam Israel di Hari ke-30 Perang Timur Tengah

Load More