-
Houthi mengancam tutup Bab Al Mandab sebagai dukungan militer penuh untuk perjuangan Iran.
-
Blokade jalur laut strategis bertujuan menekan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik regional.
-
Keputusan militer Yaman diambil secara mandiri guna merespons agresi terhadap kedaulatan wilayah Palestina.
Aliansi besar ini diklaim sebagai pilar utama dalam memberikan pembelaan terhadap kedaulatan rakyat Palestina di masa sulit.
Houthi menyebutkan bahwa mereka menyimpan banyak opsi taktis untuk menyudutkan posisi militer Amerika Serikat saat ini.
Pemanfaatan wilayah perairan strategis menjadi senjata utama yang akan mereka gunakan dalam waktu dekat jika situasi memburuk.
"Laut Merah, Teluk Aden, dan Bab Al Mandab akan menjadi beberapa pilihan tersebut," katanya.
Perlu dipahami bahwa Laut Merah merupakan urat nadi ekonomi dunia yang menjadi lintasan utama distribusi bahan bakar.
Gangguan pada jalur ini dipastikan akan memicu krisis logistik global yang berdampak pada banyak negara di dunia.
Pihak Houthi merasa sangat percaya diri karena memiliki rekam jejak operasi tempur yang cukup luas dan sukses.
Intervensi yang mereka lakukan sebelumnya saat membela wilayah Gaza diklaim telah memberikan kejutan besar bagi intelijen internasional.
"Kami memiliki pengalaman luas dalam operasi angkatan laut dan darat, dan intervensi kami sebelumnya untuk mendukung Gaza adalah salah satu kejutan penting bagi dunia," kata pejabat Houthi tersebut.
Baca Juga: Harga BBM Naik, Transportasi Umum di Australia Gratis
Langkah ini diambil sebagai aksi balasan atas serangan membabi buta yang merenggut puluhan ribu nyawa warga sipil.
Rencana penutupan selat strategis ini akan sangat bergantung pada tingkat eskalasi serangan yang dilakukan oleh pihak lawan.
Jika Washington benar-benar merealisasikan rencana invasi ke Iran maka Houthi tidak akan tinggal diam begitu saja.
Mereka memastikan bahwa setiap pergerakan militer yang diambil telah melalui perhitungan politik yang sangat mendalam dan matang.
"Kepemimpinan Yaman mengambil keputusan secara independen berdasarkan penilaian militer dan politik, dengan mempertimbangkan bahwa setiap langkah akan diperhitungkan dan efektif," kata Mansour.
Kini dunia sedang menanti apakah ancaman ini akan benar-benar menutup akses distribusi logistik antar benua tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Listrik Paling Murah di 2026 untuk Harian, Harga Mulai Rp60 Jutaan
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 7 Sepatu Lari yang Awet untuk Pemakaian Lama, Nyaman dan Tahan Banting
- 63 Kode Redeem FF Max Terbaru 27 Maret 2026: Klaim Bundel Panther, AK47, dan Diamond
Pilihan
-
1 Prajurit TNI di Lebanon Gugur Dibom Israel, 3 Lainnya Luka-luka
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
Terkini
-
Momen Hangat, Anak Diaspora Indonesia di Jepang Sambut Prabowo
-
Legislatif Jadi Sorotan: Kepatuhan LHKPN Baru 55 Persen, KPK Ingatkan Keteladanan Wakil Rakyat
-
Konflik Timur Tengah, Ketua DPRD DKI Warning Potensi Krisis Pangan di Jakarta
-
Deg-degan, Diaspora di Jepang Berhasil Dapat Tanda Tangan Prabowo
-
Malaysia Sita Kapal Indonesia Rp 6,6 Miliar, 12 WNI Ditangkap
-
Sampah Menggunung 6 Meter di Pasar Induk Kramat Jati, Bau Menyengat Ganggu Aktivitas
-
Prabowo Kunjungan Kerja ke Jepang, Diaspora Sebut Momentum Emas Produk UMKM Tembus Pasar Global!
-
ANALISIS: Donald Trump Makin Terpojok karena Ulah Sendiri, Perang Iran Akan Berakhir?
-
DKI Siap Jalankan PP Tunas, Pramono Anung Soroti Bahaya Konten Digital bagi Anak
-
Studi: Pasar Karbon Dinilai Belum Efektif Lindungi Keanekaragaman Hayati, Mengapa?