News / Internasional
Selasa, 31 Maret 2026 | 11:15 WIB
Pihak militer Israel akhirnya memberikan pernyataan resmi mengenai peristiwa tragis yang menimpa pasukan penjaga perdamaian PBB. (Suara.com)
Baca 10 detik
  • Tiga prajurit TNI gugur di Lebanon akibat ledakan di wilayah konflik bersenjata aktif.

  • Militer Israel menyelidiki keterlibatan Hizbullah dan pasukannya sendiri terkait insiden maut tersebut.

  • Menlu Sugiono mendesak Dewan Keamanan PBB segera gelar sidang darurat demi keamanan prajurit.

Suara.com - Pihak militer Israel akhirnya memberikan pernyataan resmi mengenai peristiwa tragis yang menimpa pasukan perdamaian PBB.

Tiga personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) dilaporkan meninggal dunia saat menjalankan misi kemanusiaan di wilayah Lebanon selatan.

Otoritas pertahanan Israel mengklaim telah menginisiasi proses pemeriksaan terhadap dua kejadian terpisah yang merenggut nyawa prajurit tersebut.

Langkah ini diambil guna memastikan penyebab pasti dari ledakan yang menghancurkan kendaraan serta posisi pasukan Indonesia.

Israel menekankan bahwa proses peninjauan ini sangat krusial untuk membedah fakta di lapangan yang sebenarnya terjadi.

“Insiden-insiden ini sedang ditinjau secara menyeluruh untuk memperjelas situasinya dan menentukan apakah akibat aktivitas Hizbullah atau aktivitas IDF (Israel Defense Forces)," ungkap Militer Israel.

Pernyataan tersebut disiarkan melalui kanal resmi mereka sebagai bentuk respons terhadap kecaman dunia internasional atas insiden itu.

Pihak Israel berargumen bahwa lokasi kejadian merupakan zona konflik yang sangat panas antara mereka dengan kelompok Hizbullah.

Kondisi geografis di Lebanon selatan saat ini memang dipenuhi oleh pergerakan operasional militer dari kedua belah pihak.

Baca Juga: Keluarga Netanyahu Disorot! Istri Stres, Anak-anak Jadi Korban Bullying

Oleh karena itu, Israel tidak mau langsung disalahkan atas gugurnya para prajurit yang berasal dari Indonesia tersebut.

“Oleh karena itu, tidak dapat langsung diasumsikan bahwa insiden yang menimpa pasukan UNIFIL disebabkan oleh IDF,” jelas pernyataan itu.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa dua anggota TNI kehilangan nyawa dalam sebuah serangan mematikan di kawasan Bani Hayyan.

Jean-Pierre Lacroix selaku Kepala Pasukan Penjaga Perdamaian PBB secara resmi telah mengonfirmasi identitas para korban sebagai warga Indonesia.

Kendaraan yang digunakan oleh tim medis dan penjaga perdamaian tersebut hancur total akibat kekuatan ledakan yang sangat masif.

Hingga saat ini, sumber asli ledakan di wilayah Lebanon selatan tersebut masih dikategorikan sebagai misteri yang belum terpecahkan.

Kejadian di Bani Hayyan ini menyusul peristiwa memilukan yang terjadi tepat satu hari sebelumnya di lokasi berbeda.

Seorang prajurit bernama Praka Farizal Rhomadhon telah lebih dulu dinyatakan gugur akibat terkena hantaman proyektil yang meledak.

Lokasi jatuhnya proyektil tersebut berada sangat dekat dengan pos pertahanan Indonesia yang terletak di desa Adchit Al Qusayr.

Rangkaian peristiwa berdarah ini memicu gelombang kemarahan dari pimpinan tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa serta pemerintah pusat di Jakarta.

Antonio Guterres selaku Sekretaris Jenderal PBB memberikan pernyataan keras terkait perlindungan terhadap seluruh personel militer yang bertugas di sana.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, mengambil langkah diplomasi cepat dengan menuntut diadakannya pertemuan darurat oleh Dewan Keamanan PBB.

Indonesia memandang bahwa keselamatan prajurit di medan tugas internasional merupakan prioritas utama yang tidak bisa diganggu gugat.

"Keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar dan harus dijunjung tinggi setiap saat," tulis Sugiono.

Unggahan resmi melalui media sosial tersebut menegaskan posisi Indonesia yang tidak akan tinggal diam atas hilangnya nyawa prajuritnya.

UNIFIL sendiri memiliki peran vital dalam memantau garis demarkasi yang memisahkan kedaulatan antara wilayah Lebanon dan pihak Israel.

Wilayah perbatasan ini memang sering kali menjadi titik pusat baku tembak antara milisi pendukung Iran dan tentara Israel.

Saat ini terdapat sekitar sepuluh ribu personel penjaga perdamaian yang dikerahkan dari berbagai negara di seluruh dunia.

Indonesia menjadi salah satu kontributor terbesar dengan mengirimkan setidaknya seribu dua ratus prajurit TNI ke wilayah tersebut.

Kehadiran TNI di Lebanon merupakan bagian dari komitmen konstitusional bangsa dalam menjaga perdamaian abadi di tingkat global.

Dunia kini menanti transparansi hasil investigasi agar keadilan bagi para prajurit yang gugur dapat segera ditegakkan seadil-adilnya.

Tegangan di perbatasan diperkirakan masih akan tetap tinggi selama solusi diplomatik antara pihak bertikai belum menemui titik temu.

Seluruh elemen pemerintah Indonesia terus berkoordinasi dengan markas besar PBB di New York untuk memastikan keamanan personel tersisa.

Dukungan moril dari masyarakat Indonesia terus mengalir bagi keluarga korban yang ditinggalkan di tanah air akibat tugas mulia ini.

Evakuasi dan penghormatan terakhir bagi para syuhada perdamaian ini sedang dipersiapkan sesuai dengan protokol militer yang berlaku resmi.

Kepastian mengenai siapa yang bertanggung jawab atas ledakan ini akan menentukan arah kebijakan diplomasi Indonesia ke depannya.

Load More