News / Internasional
Rabu, 01 April 2026 | 09:25 WIB
Selat Hormuz
Baca 10 detik
  • Amerika Serikat menolak keras tuntutan Iran terkait pengakuan kedaulatan penuh atas Selat Hormuz.

  • Donald Trump berencana menyudahi operasi militer meskipun Selat Hormuz masih dalam kondisi terblokade.

  • Fokus Washington beralih pada pelemahan kekuatan laut dan pembatasan cadangan rudal jarak jauh Iran.

Suara.com - Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran semakin memuncak terkait status jalur pelayaran strategis dunia.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio memberikan pernyataan tegas mengenai posisi Washington dalam negosiasi terbaru.

Pihak Gedung Putih menolak keras keinginan Teheran yang meminta pengakuan kedaulatan penuh atas wilayah Selat Hormuz.

Penolakan ini muncul di tengah upaya mediasi yang sedang dilakukan oleh berbagai pihak untuk meredam konflik.

Kondisi di Timur Tengah saat ini berada pada titik nadir setelah serangkaian kontak senjata terjadi.

"Pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz bukan hanya tidak dapat diterima oleh kami, tetapi juga oleh komunitas internasional. Tidak ada negara yang akan menyetujuinya," kata Marco Rubio kepada Al Jazeera, Senin (30/3).

Pernyataan tersebut merespons dokumen tuntutan yang dikirimkan oleh pemerintah Iran sebagai syarat perdamaian.

Sebelumnya utusan khusus Steve Witkoff telah menyodorkan lima belas poin rencana damai melalui perantara Pakistan.

Meskipun sempat diklaim mendapat sinyal positif namun Kementerian Luar Negeri Iran justru berkata sebaliknya.

Baca Juga: Bahlil: RI Dapat Pasokan Minyak Baru Pengganti Timur Tengah

Pihak Iran menganggap proposal yang diajukan oleh Amerika Serikat tersebut sangat tidak masuk akal.

Kantor berita Tasnim menyebutkan bahwa Teheran telah mengirimkan balasan resmi dan menunggu sikap dari Washington.

Iran dikabarkan meminta kompensasi berupa penghentian seluruh pertempuran di garis depan yang melibatkan sekutu mereka.

Selain itu poin utama yang menjadi batu sandungan adalah permintaan pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz.

Perselisihan ini merupakan kelanjutan dari aksi militer besar-besaran yang terjadi pada akhir Februari lalu.

Saat itu Amerika Serikat bersama Israel menggempur sejumlah titik vital di wilayah Teheran dan sekitarnya.

Serangan udara tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang cukup parah serta memakan korban jiwa.

Iran tidak tinggal diam dan langsung meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel serta basis militer Amerika.

Eskalasi bersenjata ini secara otomatis menciptakan blokade de facto di jalur pelayaran Selat Hormuz.

Padahal wilayah tersebut merupakan urat nadi distribusi minyak mentah dan gas alam cair bagi pasar global.

Akibat tersumbatnya jalur tersebut volume ekspor energi dari negara-negara Teluk Persia menurun drastis.

Blokade ini juga berdampak langsung pada lonjakan harga bahan bakar minyak di berbagai belahan dunia.

Di tengah situasi yang mencekam Presiden Donald Trump menunjukkan perubahan arah kebijakan militernya.

Trump dikabarkan mulai bersiap untuk menyudahi operasi militer terhadap Iran dalam waktu dekat.

Keputusan ini tetap akan diambil meskipun Selat Hormuz kemungkinan besar masih berada dalam kondisi tertutup.

Informasi mengenai sikap lunak Trump ini pertama kali dibocorkan oleh laporan The Wall Street Journal.

Sejumlah pejabat tinggi di pemerintahan Amerika Serikat membenarkan adanya pergeseran strategi dari sang presiden.

Trump dan para penasihatnya menilai misi membuka Selat Hormuz secara total bisa memakan waktu lama.

Operasi awal yang diprediksi selesai dalam enam pekan dikhawatirkan akan terseret menjadi perang berkepanjangan.

Oleh karena itu fokus utama Washington kini beralih pada pelemahan kemampuan tempur laut milik Iran.

Amerika Serikat juga berupaya keras untuk membatasi persediaan rudal jarak jauh yang dimiliki Teheran.

Sambil meredam permusuhan militer Trump tetap menekan Iran agar segera memulihkan arus perdagangan internasional.

Jika diplomasi ini menemui jalan buntu Amerika akan meminta bantuan dari negara-negara di kawasan Eropa.

Negara-negara Teluk Persia juga diharapkan mengambil peran lebih aktif dalam menjaga keamanan jalur maritim tersebut.

Meski demikian opsi kekuatan militer tambahan tetap tersedia di meja kerja presiden sebagai langkah cadangan.

Namun untuk saat ini penggunaan senjata bukan lagi menjadi prioritas utama dalam doktrin luar negeri Trump.

Dunia internasional kini terus memantau setiap perkembangan yang keluar dari Gedung Putih maupun Teheran.

Stabilitas ekonomi global sangat bergantung pada keamanan navigasi di Selat Hormuz yang sedang bergejolak.

Tanpa adanya kesepakatan konkret risiko krisis energi yang lebih luas masih menghantui banyak negara.

Masyarakat global berharap agar proses negosiasi melalui Pakistan dapat membuahkan hasil yang nyata.

Hingga kini status Selat Hormuz masih menjadi teka-teki besar bagi masa depan geopolitik dunia.

Load More