News / Internasional
Senin, 06 April 2026 | 09:03 WIB
Selat Hormuz (Suara.com)
Baca 10 detik
  • Donald Trump mengancam serangan besar ke pembangkit listrik dan jembatan Iran pada Selasa.

  • Presiden AS menuntut pembukaan Selat Hormuz dengan ancaman penderitaan bagi rakyat Iran.

  • Eskalasi konflik AS-Israel vs Iran telah menewaskan ribuan orang sejak Februari 2026.

Situasi panas ini sebenarnya berakar dari peristiwa besar yang terjadi pada akhir bulan Februari lalu.

Aksi militer gabungan antara Washington dan Tel Aviv telah memicu gelombang kekerasan yang luar biasa besar.

Tercatat lebih dari seribu orang kehilangan nyawa dalam rangkaian serangan udara yang sangat mematikan tersebut.

Bahkan sosok penting dalam struktur kepemimpinan tertinggi Iran turut menjadi korban dalam serangan yang mengejutkan dunia.

Angka kematian yang mencapai 1.340 jiwa menjadi bukti betapa destruktifnya perang yang sedang berlangsung saat ini.

Pihak Iran tidak tinggal diam melihat wilayah dan pemimpin mereka menjadi sasaran tembak pasukan asing.

Garda Revolusi segera meluncurkan berbagai proyektil canggih ke arah wilayah kedaulatan Israel sebagai aksi balas dendam.

Tidak hanya Israel, negara-negara tetangga yang menampung pangkalan militer Amerika Serikat juga tidak luput dari serangan.

Yordania dan Irak menjadi wilayah yang terdampak akibat lintasan rudal dan pesawat tanpa awak milik Teheran.

Baca Juga: Misi Penyelamatan Pilot Gagal Total! AS Panik Ledakan Pesawat Sendiri, Rugi Rp3,2 Triliun!

Negara-negara di kawasan Teluk kini berada dalam posisi waspada tinggi mengantisipasi serangan susulan yang mungkin terjadi.

Laporan terbaru dari lapangan menyebutkan adanya serangan mematikan yang menghantam wilayah selatan negeri tersebut.

Provinsi Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad dilaporkan menjadi titik jatuhnya bom yang menewaskan sedikitnya sepuluh orang warga.

Operasi udara ini juga menyebabkan banyak warga mengalami luka-luka yang memerlukan perawatan medis segera di rumah sakit.

Media lokal terus memperbarui data mengenai jumlah korban yang terus bertambah seiring penyisiran di puing bangunan.

Kondisi psikologis masyarakat di wilayah selatan kini berada pada titik terendah akibat ancaman udara yang konstan.

Load More