-
Abbas Araghchi menyebut ancaman serangan energi Amerika Serikat adalah bukti kejahatan perang nyata.
-
Konflik sejak Februari 2026 telah menewaskan 1.300 orang termasuk pemimpin tertinggi Iran.
-
Iran melakukan aksi balasan dengan serangan drone dan membatasi akses kapal Selat Hormuz.
Suara.com - Situasi geopolitik perang di Timur Tengah semakin memanas setelah munculnya pernyataan resmi dari otoritas tertinggi diplomatik Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan kritik tajam terhadap sikap provokatif yang ditunjukkan oleh pemerintah Amerika Serikat.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas ancaman Washington yang berencana menargetkan sektor energi vital milik Republik Islam tersebut.
Bagi pihak Iran, niat buruk untuk menghancurkan infrastruktur energi bukan sekadar gertakan militer biasa dalam sebuah konflik.
Kementerian Luar Negeri Iran secara resmi merilis pernyataan ini pada hari Minggu melalui saluran komunikasi digital mereka.
Pihak Teheran menilai bahwa ancaman tersebut merupakan sebuah testimoni terbuka mengenai pelanggaran hukum kemanusiaan internasional yang berat.
Hal ini terungkap secara mendalam setelah adanya koordinasi melalui sambungan telepon antara Abbas Araghchi dengan sejawatnya dari Rusia.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menjadi mitra diskusi penting dalam membahas stabilitas keamanan di wilayah tersebut yang kian rapuh.
“Menteri Luar Negeri Iran, juga menyinggung ancaman AS untuk menyerang fasilitas energi Iran, menyebut pernyataan tersebut sebagai pengakuan yang jelas atas tindakan kejahatan perang,” tulis kementerian tersebut.
Baca Juga: Cerita Dramatis Tim SEAL Jalani Misi Penyelamatan Pilot F-15 yang Diburu Tentara Iran
Logika hukum yang digunakan Iran adalah bahwa menargetkan sumber daya publik secara sengaja merupakan bentuk agresi yang tidak manusiawi.
Pemerintah Iran tidak tinggal diam dan langsung menggalang dukungan dari berbagai lembaga pengawas keamanan dunia saat ini.
Araghchi secara eksplisit meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengambil posisi tegas dalam menanggapi manuver berbahaya dari pihak Amerika.
Selain PBB, Badan Energi Atom Internasional atau IAEA juga diharapkan memberikan perhatian khusus terhadap ancaman fasilitas nuklir sipil.
Iran mendesak lembaga-lembaga tersebut untuk segera memberikan kutukan resmi sebelum kerusakan yang lebih luas terjadi pada infrastruktur mereka.
Ketakutan terbesar adalah dampak dari serangan terhadap industri pendidikan, medis, hingga nuklir yang menjadi tulang punggung kehidupan rakyat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Potong Jalur Birokrasi: Bandar Lampung Minta Dana Pajak Rokok Tak Lagi Mampir di Provinsi
-
Aksi Berani Bocah Madiun Pasang Badan Selamatkan Ibu dari Tikaman Ayah
-
4 Serum Korea yang Ampuh Atasi Pori Besar, Kulit Kendur, dan Kontrol Minyak
-
Info Cuaca Kamis: Langit Indonesia Didominasi Awan Tebal, Waspada Dampak Bibit Siklon 95W
-
Purbaya Jamin Tambah Anggaran Korban Bencana Gempa NTT, Tinggal Tunggu Arahan Prabowo
-
Karhutla Riau Makin Meluas, Ratusan Hektare Lahan Terbakar
-
9 Bank Sudah Bangkrut di Indonesia Sepanjang Tahun 2026, Ini Daftarnya
-
Sifat Trapesium, Jenis-jenis, Rumus Luas Keliling Lengkap dengan Contoh Soal
-
3 Warga Negara Israel Diduga Anggota IDF Berprilaku Kasar di Bali
-
UEA Bekukan Transaksi Iran, Harga Minyak Capai Level Tertinggi 4 Pekan Terakhir