- Konflik di Timur Tengah menyebabkan gangguan pasokan bahan baku plastik impor, sehingga memicu kenaikan harga signifikan di Indonesia.
- Pelaku usaha warung kelontong terdampak lonjakan biaya modal karena harga plastik kemasan meningkat tajam setelah Lebaran.
- Pemilik warung menyiasati kenaikan harga dengan melakukan efisiensi penggunaan plastik serta berbelanja dalam jumlah besar guna menekan pengeluaran.
Suara.com - Ketegangan perang di Timur Tengah kini tidak hanya menjadi konsumsi berita mancanegara, tetapi sudah berdampak nyata hingga ke kantong para pedagang kecil di Indonesia.
Lonjakan harga plastik yang dipicu oleh terganggunya rantai pasok bahan baku global mulai mencekik para pelaku usaha retail mikro.
Sektor industri plastik domestik saat ini sedang berada dalam tekanan hebat. Kenaikan harga ini mulai dikhawatirkan memicu efek domino pada harga pangan kemasan di tingkat konsumen. Hal ini terjadi lantaran Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku plastik, terutama naphta, yang harganya sangat sensitif terhadap gejolak dunia.
Dampak dari kebijakan makro tersebut mendarat telak di warung-warung kelontong.
Pemilik warung madura ,Sony dan Endang, mengaku sudah merasakan kenaikan harga plastik sejak beberapa pekan terakhir.
“Habis sebelum puasa (sudah naik). Terus setelah Lebaran ini naik lagi, dua kali kenaikan,” ungkap Sony saat ditemui, Senin (6/4/2026).
Kenaikan harga tersebut tergolong signifikan bagi skala usaha warung. Sony menyebutkan bahwa harga modal untuk satu pak plastik kini sudah naik hampir dua kali lipat.
“Biasanyakan se-paknya biasanya lima setengah, sekarang sudah hampir delapan ribuan,” kata dia.
Berbagai jenis plastik yang ia gunakan untuk melayani pelanggan, baik plastik kresek maupun plastik bening, seluruhnya mengalami kenaikan harga.
Baca Juga: Apa itu Nafta? Bahan Baku Ini Buat Harga Plastik Melonjak Saat Perang
Strategi Bertahan: Pilih Plastik Tipis
Kenaikan harga plastik ini menjadi dilema bagi operasional warung. Sony mengaku berat untuk menaikkan harga jual dagangan karena khawatir pelanggan akan lari, mengingat kompetitor lain belum menaikkan harga.
“Ya berdampaklah. Buat bungkus kan lumayan. Tapi harga warung juga nggak bisa dinaiki. Soalnya yang lainnya belum pada naik, mau naikin harga kan (sebenarnya). Itu semua dampaknya ya biasanya modalnya segitu jadi segini buat plastiknya. Nambah modal jadinya,” ujarnya.
Meski dalam sehari ia bisa menghabiskan hingga satu pak plastik, Sony dan Endang tidak tinggal diam. Mereka kini mulai menerapkan strategi "hemat plastik" atau efisiensi penggunaan kantong kresek kepada pelanggan untuk menekan biaya modal.
Endang juga menjelaskan strategi antisipasinya yang digunakan kepada pelanggan di warungnya.
“Tapi ya ini sih dipilah-pilah sih Mbak, kalau misalnya sekarang misal timbang telor seprapat saya kasih yang plastik yang tipis, nggak pakai kantong lagi, kalau misalnya belinya cuman satu apa dua ini sekarang udah nggak pakai. Ya itu ya antisipasinya,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian global, Sony hanya berharap harga plastik bisa kembali normal. Ia menyebut meski terlihat sepele, pengeluaran untuk plastik sebenarnya cukup besar.
Berita Terkait
-
Mengapa Harga Plastik Mendadak Naik Selangit? Ini Penjelasannya
-
Fakta-fakta Harga Plastik Melonjak Drastis, Ini Penyebabnya
-
Mengenal Nafta Minyak Bumi, Biang Kerok Harga Plastik Naik Drastis
-
Apa itu Nafta? Bahan Baku Ini Buat Harga Plastik Melonjak Saat Perang
-
Kenapa Harga Plastik Naik? Ternyata Ini 'Biang Kerok' di Balik Layar
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Menteri Jerman Kunjungi Pabrik Bayer di Cimanggis, Soroti Energi Hijau
-
Kronologi Begal Kertapati: 2 Pelaku Bawa Parang, Kejar Korban hingga Berujung Maut
-
Sering Dianggap Cuma Kelelahan, Katup Jantung Bocor Bisa Ditangani Tanpa Operasi Terbuka
-
Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar di OKI, Uang Pengganti 3 Terdakwa Tembus Rp9 Miliar
-
Buaya Muara 3 Meter Mendadak Muncul di Pantai Pasir Putih Cihara
-
Tenis Meja Indonesia Bidik 8 Besar di Asian Games 2026
-
Gempa NTT, PDIP Kirim Bantuan Khusus untuk Ibu Hamil dan Anak
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional
-
Purbaya: Pembatasan Subsidi BBM Hemat Anggaran 10 Persen