News / Metropolitan
Sabtu, 23 Mei 2026 | 15:12 WIB
Ilustrasi mikroplastik

Suara.com - Sebuah penelitian global menyebutkan bahwa negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menduduki peringkat teratas dalam daftar konsumsi mikroplastik.

Masyarakat Indonesia sendiri diperkirakan mengonsumsi mikroplastik sekitar 15 gram per kapita dalam satu bulan. Temuan ini didasarkan pada konsumsi tanpa sadar akibat sampah plastik yang tidak diolah, terdegradasi, dan menyebar ke lingkungan.

Partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter ini tidak lagi sekadar mencemari lingkungan, melainkan sudah menyusup jauh ke dalam organ vital manusia.

Yayasan Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) mengungkapkan temuan mengerikan dari rangkaian penelitian mereka di Jawa Timur. Hasil uji laboratorium menemukan rekam jejak mikroplastik di tempat yang paling tidak terduga, yakni cairan ketuban ibu hamil hingga sperma pria.

"Kami pernah mengambil sampel mikroplastiknya, salah satunya di ibu hamil yang ada di Gresik. Itu ditemukan di ketuban ibu hamil," kata Kepala Laboratorium Ecoton, Ravika Aprilianti, dalam diskusi di Raksa Local Fest 2026, Sabtu (23/5/26).

Mirisnya, dari wawancara terhadap 42 ibu hamil di kawasan tersebut, paparan ini dipicu oleh aktivitas harian. Mulai dari kebiasaan membakar sampah di dekat rumah hingga penggunaan wadah plastik sekali pakai untuk makanan panas. Selain itu, Ravika juga menjelaskan sumber paparan harian bisa datang dari spons cuci piring, wadah kosmetik, hingga parfum.

Tidak berhenti di sana, ancaman ini secara nyata juga menyasar kesuburan pria. Dari studi awal terhadap sampel sperma, sekitar 4 orang responden terkonfirmasi terkontaminasi mikroplastik jenis polyethylene—jenis plastik yang umum ditemukan pada botol air minum dalam kemasan (AMDK), sachet, dan kantong plastik tipis. Dampaknya fatal, dokter andrologi menemukan berbagai kelainan fisik pada sperma, seperti ekor ganda atau ukuran kepala yang abnormal.

"Dokternya sendiri menjelaskan ada banyak kelainan sperma, misalnya ekornya ada dua, kemudian ekornya kecil, pendek, kemudian kepalanya juga ada yang lebih besar daripada ekornya," ungkap Ravika.

Ancaman terbesar dari mikroplastik sebenarnya terletak pada karakteristik kimianya. Plastik membawa sekitar 16.000 senyawa kimia berbahaya, termasuk pelentur (plasticizer) dan BPA. Lebih buruk lagi, mikroplastik di dalam tubuh bekerja layaknya magnet yang mengikat polutan berbahaya lain di sekitarnya.

Baca Juga: Mikroplastik Ancam Dasar Laut, Cacing Bambu Jadi Korban Pertama

"Sifat kimia si plastik itu seperti magnet. Jadi apapun yang ada di sekitarnya, dia akan diikat oleh si mikroplastik," ujar Ravika. Ketika masuk ke dalam tubuh, ia membawa rantai kimia beracun.

Celakanya, sistem pembuangan alami manusia sangat terbatas untuk meluruhkan partikel mikroplastik ini.

Hanya sekitar 20 persen mikroplastik yang berhasil keluar melalui feses, sementara 80 persen sisanya mengendap dan mengontaminasi organ tubuh manusia. Kini, menolak plastik sekali pakai bukan lagi sekadar aksi penyelamatan bumi, melainkan benteng terakhir untuk menyelamatkan kesehatan tubuh kita sendiri.

Penulis: Vicka Rumanti 

Load More