Suara.com - Sebuah penelitian global menyebutkan bahwa negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menduduki peringkat teratas dalam daftar konsumsi mikroplastik.
Masyarakat Indonesia sendiri diperkirakan mengonsumsi mikroplastik sekitar 15 gram per kapita dalam satu bulan. Temuan ini didasarkan pada konsumsi tanpa sadar akibat sampah plastik yang tidak diolah, terdegradasi, dan menyebar ke lingkungan.
Partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter ini tidak lagi sekadar mencemari lingkungan, melainkan sudah menyusup jauh ke dalam organ vital manusia.
Yayasan Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) mengungkapkan temuan mengerikan dari rangkaian penelitian mereka di Jawa Timur. Hasil uji laboratorium menemukan rekam jejak mikroplastik di tempat yang paling tidak terduga, yakni cairan ketuban ibu hamil hingga sperma pria.
"Kami pernah mengambil sampel mikroplastiknya, salah satunya di ibu hamil yang ada di Gresik. Itu ditemukan di ketuban ibu hamil," kata Kepala Laboratorium Ecoton, Ravika Aprilianti, dalam diskusi di Raksha Loka Fest 2026 yang digelar GEF SGP (Global Environment Facility-Small Grants Programme) Indonesia, Sabtu (23/5/26).
Mirisnya, dari wawancara terhadap 42 ibu hamil di kawasan tersebut, paparan ini dipicu oleh aktivitas harian. Mulai dari kebiasaan membakar sampah di dekat rumah hingga penggunaan wadah plastik sekali pakai untuk makanan panas. Selain itu, Ravika juga menjelaskan sumber paparan harian bisa datang dari spons cuci piring, wadah kosmetik, hingga parfum.
Tidak berhenti di sana, ancaman ini secara nyata juga menyasar kesuburan pria. Dari studi awal terhadap sampel sperma, sekitar 4 orang responden terkonfirmasi terkontaminasi mikroplastik jenis polyethylene—jenis plastik yang umum ditemukan pada botol air minum dalam kemasan (AMDK), sachet, dan kantong plastik tipis. Dampaknya fatal, dokter andrologi menemukan berbagai kelainan fisik pada sperma, seperti ekor ganda atau ukuran kepala yang abnormal.
"Dokternya sendiri menjelaskan ada banyak kelainan sperma, misalnya ekornya ada dua, kemudian ekornya kecil, pendek, kemudian kepalanya juga ada yang lebih besar daripada ekornya," ungkap Ravika.
Ancaman terbesar dari mikroplastik sebenarnya terletak pada karakteristik kimianya. Plastik membawa sekitar 16.000 senyawa kimia berbahaya, termasuk pelentur (plasticizer) dan BPA. Lebih buruk lagi, mikroplastik di dalam tubuh bekerja layaknya magnet yang mengikat polutan berbahaya lain di sekitarnya.
Baca Juga: Mikroplastik Ancam Dasar Laut, Cacing Bambu Jadi Korban Pertama
"Sifat kimia si plastik itu seperti magnet. Jadi apapun yang ada di sekitarnya, dia akan diikat oleh si mikroplastik," ujar Ravika. Ketika masuk ke dalam tubuh, ia membawa rantai kimia beracun.
Celakanya, sistem pembuangan alami manusia sangat terbatas untuk meluruhkan partikel mikroplastik ini.
Hanya sekitar 20 persen mikroplastik yang berhasil keluar melalui feses, sementara 80 persen sisanya mengendap dan mengontaminasi organ tubuh manusia. Kini, menolak plastik sekali pakai bukan lagi sekadar aksi penyelamatan bumi, melainkan benteng terakhir untuk menyelamatkan kesehatan tubuh kita sendiri.
Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, mulai dari siklus El-Nino yang ekstrem hingga ancaman ketahanan pangan, Program GEF SGP (Global Environment Facility-Small Grants Programme) Indonesia menyelenggarakan Festival Raksha Loka di M-Bloc Space, Jakarta Selatan, pada 22-23 Mei 2026.
Festival bertajuk “Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan di Masa Depan” ini merupakan selebrasi sekaligus ruang amplifikasi atas keberhasilan inisiatif pemulihan ekosistem berbasis komunitas yang telah dijalankan selama empat tahun terakhir dalam fase Operational Phase 7 (OP7).
Sejak Juli 2022, GEF SGP Indonesia bersama 86 mitra lokal telah bekerja di empat bentang alam strategis, yakni: DAS Bodri (Jawa Tengah), DAS Balantieng (Sulawesi Selatan), Gorontalo (Wilayah Penyangga SM Nantu & Tahura BJ Habibie), serta Pulau Sabu Raijua (NTT). Upaya kolektif ini telah berhasil memulihkan ekosistem dari ancaman deforestasi, krisis air bersih, hingga degradasi pesisir.
Penulis: Vicka Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
Terkini
-
RI Gandeng India Restorasi 200 Candi Perwara Prambanan
-
Sasar Orang Mampu, Pramono Anung Godok Ulang Kenaikan Tarif Transjakarta dan Subsidi
-
JK Jadi Tersangka Korupsi Ekspor Logam Tanah Jarang, Langsung Ditahan Kejagung
-
Amunisi Baru! dr Tifa Bakal Pakai Putusan Praperadilan Roy Suryo untuk Patahkan Dakwaan Jaksa
-
Kejagung Tetapkan 3 Tersangka Ekspor Tanah Jarang PT PMM, Termasuk Pejabat Sucofindo hingga JK
-
Penelitian UI: Program Makan Bergizi Gratis Berpotensi Picu Food Waste, Apa Dampaknya?
-
Wamensos Tekankan Peran Strategis Kepala Sekolah Rakyat dalam Mendorong Perubahan
-
Perjalanan Menuju Candi Prambanan, Prabowo dan PM Narendra Modi Satu Helikopter
-
Asal-usul Isi Amplop Bupati Kuansing untuk Menhut Raja Juli, Ternyata Hasil 'Peras' 914 Petani KUD
-
3 Pekerja Daycare Little Aresha Masih Jadi Saksi, Akankah Menyusul Jadi Tersangka?