-
Israel menargetkan ilmuwan dan akademisi untuk melumpuhkan total ekosistem pengetahuan nuklir Iran.
-
Iran memiliki 400 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen di lokasi bawah tanah.
-
Pakar memperingatkan Iran tetap mampu membangun bom nuklir dalam dua tahun pasca perang berakhir.
Suara.com - Kematian Mohammad Reza Kia di kawasan pegunungan Asara menjadi simbol babak baru operasi pembersihan intelektual nuklir Iran.
Peti mati kandidat doktor Teknik Nuklir Amirkabir University ini diiringi duka mendalam saat dimakamkan di provinsi utara.
Meskipun informasi detail kematiannya sangat tertutup, ibunda Kia telah mengonfirmasi bahwa sang putra gugur dalam sebuah serangan.
Langkah ekstrem ini menunjukkan ambisi besar Amerika Serikat dan Israel untuk memutus tuntas akses Teheran terhadap senjata pemusnah.
Para sekutu berupaya memastikan bahwa pasca konflik berakhir, kemampuan Iran untuk mempersenjatai program nuklirnya benar-benar musnah total.
Selama puluhan tahun, Iran telah membangun ekosistem ilmu pengetahuan yang sangat kuat mencakup universitas dan mesin canggih.
Infrastruktur ini meliputi pengolahan uranium domestik hingga penggunaan sentrifugal modern yang mampu memperkaya stok nuklir secara cepat.
Pihak keamanan Israel secara terang-terangan menyatakan bahwa seluruh elemen pendukung tersebut kini berada dalam daftar target utama.
“Setiap link dalam rantai produksi nuklir adalah target – dari basis pengetahuan hingga lantai produksi. Tujuannya adalah untuk memutus semua akar,” seorang sumber keamanan Israel mengatakan kepada CNN.
Baca Juga: Viral! Wanita Israel Terhempas Ledakan Rudal, Ajaib Masih Bisa Bangkit dan Berjalan
“Dari orang-orang yang bekerja di laboratorium hingga pabrik yang memproduksi komponen untuk laboratorium tersebut.”
Beberapa hari setelah pemakaman Kia, serangan udara menghantam gedung yang menewaskan Ali Fouladvand beserta delapan orang lainnya.
Fouladvand dikenal sebagai ilmuwan riset di organisasi SPND yang dituding Barat sebagai kedok pengembangan senjata nuklir rahasia.
Organisasi ini sebelumnya dipimpin oleh Mohsen Fakhrizadeh yang tewas terbunuh enam tahun lalu dalam operasi intelijen tingkat tinggi.
Ketua SPND saat ini, Jabal Amelian, juga telah tewas pada serangan awal Februari, menyisakan lubang besar dalam kepemimpinan riset.
Serangan ini membuktikan bahwa Israel tidak hanya menyasar fasilitas fisik, tetapi juga kapasitas intelektual yang sulit untuk digantikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Perkuat Demokrasi, Prabowo dan PM Narendra Modi Sepakat Kerja Sama KPU RI-India
-
Mendikdasmen Kritik Perpustakaan Sekolah yang Hanya Jadi Syarat Akreditasi
-
Pekik Takbir di Praperadilan, Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Roy Suryo Tidak Sah
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Mahfud MD Sentil Fenomena UU 'Simsalabim', Komisi II DPR Langsung Buka Suara
-
Buntut Kasus Penyekapan di Bandung, Ombudsman Jelaskan Beda Aniaya dan Siksa
-
BGN Janji Benahi Program MBG agar Lebih Tepat Sasaran
-
Prambanan Jadi Simbol Baru Kedekatan Indonesia-India Lewat Proyek Restorasi
-
Bukan Cuma Thamrin, Shelter Ojol Gratis 24 Jam Bakal Menjamur di Terminal dan Stasiun
-
Bulog Perkuat Stok Beras Papua, Dirut: "Kami Targetkan Ketersediaan Beras Naik Tiga Kali Lipat"