-
Israel menargetkan ilmuwan dan akademisi untuk melumpuhkan total ekosistem pengetahuan nuklir Iran.
-
Iran memiliki 400 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen di lokasi bawah tanah.
-
Pakar memperingatkan Iran tetap mampu membangun bom nuklir dalam dua tahun pasca perang berakhir.
Sejak Juni 2025, taktik Israel semakin agresif dengan menargetkan petinggi pasukan kedirgantaraan yang bertanggung jawab atas kemampuan rudal.
Lebih dari selusin profesor ternama, termasuk fisikawan Mohammad Mehdi Tehranchi, telah menjadi sasaran dalam kampanye degradasi pengetahuan ini.
Sektor industri non-militer seperti pabrik besi dan baja kini juga tidak luput dari gempuran karena dianggap membantu rekonstruksi.
“Israel menyerang setiap tahap proses produksi – termasuk pabrik besi dan baja yang bukan merupakan bagian langsung dari industri militer namun pada akhirnya dapat berkontribusi pada pembangunan kembali proses produksi,” kata sumber tersebut.
Hal ini dilakukan untuk merusak rantai pasok kompleks yang dibutuhkan guna memelihara stabilitas program nuklir jangka panjang.
Di tengah gempuran, Barat tetap waspada terhadap penggunaan perusahaan bayangan oleh Iran untuk mendapatkan teknologi penggunaan ganda.
Meskipun intelijen AS belum melihat bukti instruksi pembuatan bom, posisi Iran sebagai negara ambang nuklir memberi mereka daya tawar.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyoroti aktivitas pengayaan uranium Iran yang telah mencapai level sangat tinggi secara tidak wajar.
“Iran adalah satu-satunya negara di dunia tanpa senjata nuklir yang memproduksi uranium yang diperkaya hingga 60 persen dan terus menggunakan perusahaan depan dan agen pengadaan untuk mengaburkan upayanya memperoleh barang-barang penggunaan ganda dari pemasok asing,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Baca Juga: Viral! Wanita Israel Terhempas Ledakan Rudal, Ajaib Masih Bisa Bangkit dan Berjalan
Keputusan Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 memicu Iran mempercepat pengayaan hingga memiliki stok lebih dari 400 kilogram.
Lokasi penyimpanan ratusan kilogram uranium yang diperkaya kini menjadi teka-teki besar bagi badan pengawas nuklir internasional atau IAEA.
Rafael Grossi menyatakan bahwa material berbahaya tersebut kemungkinan besar berada di wilayah Isfahan dan berpotensi untuk dipindahkan sewaktu-waktu.
Donald Trump mengklaim serangan udara telah menghancurkan situs nuklir Iran hingga tidak mungkin bisa dipulihkan dalam waktu dekat.
“Situs nuklir yang kami hancurkan… telah dihantam begitu keras sehingga butuh waktu berbulan-bulan untuk mendekati debu nuklirnya,” kata Trump.
Presiden AS tersebut juga menambahkan bahwa dirinya tidak terlalu khawatir karena material tersebut terkubur sangat dalam di bawah tanah.
Sebelum konflik pecah di bulan Februari, Teheran sempat menawarkan konsesi besar berupa pengenceran stok uranium mereka ke Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa tawaran tersebut adalah bukti bahwa negaranya tidak berniat menciptakan senjata atom.
“Itu adalah tawaran besar, konsesi besar untuk membuktikan bahwa Iran tidak pernah menginginkan senjata nuklir dan tidak akan pernah menginginkannya,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada CBS.
Namun, pakar nuklir Nicole Grajewski menilai Iran masih memiliki kemampuan teknis untuk membuat bom jenis 'gun-type' yang sederhana.
Semua infrastruktur dan stok yang ada saat ini dianggap sudah lebih dari cukup jika ada kemauan politik untuk mempersenjatai diri.
Banyak ahli memperingatkan bahwa perang yang terjadi saat ini mungkin hanya menunda ambisi nuklir Iran namun tidak mematikannya.
Jika perang berakhir tanpa solusi permanen, Iran secara teoritis mampu memulai upaya persenjataan kilat dalam kurun waktu singkat.
“Iran masih bisa membuat senjata nuklir, ini hanya masalah kemauan politik,” kata Grajewski.
“Jika perang berhenti, Iran secara teoritis dapat memulai upaya cepat untuk persenjataan dalam satu hingga dua tahun.”
Oleh karena itu, Israel terus menekan seluruh sektor pendukung nuklir Iran agar benar-benar hancur dari akarnya tanpa sisa.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
AI hingga Microchip, RI-China Buka Jalan Baru Kerja Sama Teknologi
-
Kalimantan Belum Selesai, Karhutla Kini Kepung Papua Tengah: Api Makin Meluas
-
Tampang Maulana Paputungan Ayah Keji Pembunuh Disertai Mutilasi Anak Kandung di Merauke
-
Beli Voucher Game di BRImo Dapat Cashback Saldo 50 Persen
-
Investasi RI Tembus Rp1.010 Triliun, HIPMI Dorong Pengusaha Lokal Ikut Menikmati Dampaknya
-
Karhutla Kalimantan Mengganas, Presiden Prabowo Optimistis Bisa Segera Dijinakkan
-
22,69 Juta Pengguna Kripto RI, Tantangan Berikutnya Bikin Mereka Tak Lari ke Platform Asing
-
Bukan Sekadar Hitung Langkah, Galaxy Watch Ultra2 dan Watch9 Bantu Atur Beban Latihan
-
Korban FOMO Merapat! Eksotisnya Wajah Sungai Bogowonto Purworejo Saat Surut
-
Prabowo Tak Main-Main! Bidik 4 Korporasi di Balik Karhutla Kalimantan, Izin Bakal Dicabut