News / Internasional
Selasa, 07 April 2026 | 12:38 WIB
Serangan udara Israel menghancurkan Akademi Musik Honiak di Teheran, melenyapkan aset 15 tahun milik musisi Iran. (Dok Akademi Honiak/Hamidreza Afarideh)
Baca 10 detik
  • Serangan udara Israel menghancurkan Akademi Musik Honiak di Teheran dan aset senilai 15 tahun.

  • Pemilik sekolah, Hamidreza Afarideh, kehilangan instrumen dan fasilitas akibat ledakan drone yang sangat kuat.

  • Konflik bersenjata ini mengancam mata pencaharian guru musik dan identitas budaya generasi muda Iran.

Suara.com - Suara petikan instrumen setar dan denting santur yang biasanya menggema di Akademi Musik Honiak Iran kini telah bungkam total.

Hamidreza Afarideh bersama istrinya, Sheida Ebadatdoust, mendirikan sekolah seni ini dua tahun silam sebagai pusat kebudayaan di Teheran.

Lembaga pendidikan ini sebelumnya menjadi rumah kedua bagi sekitar 250 siswa dari berbagai kalangan usia, mulai balita hingga lansia.

Namun, kebahagiaan kolektif tersebut mendadak hilang setelah sebuah proyektil menghantam bangunan tempat akademi itu beroperasi.

Afarideh menggambarkan kondisi tempat usahanya saat ini dengan kalimat yang penuh dengan kesedihan mendalam.

“Semua properti dan aset yang saya dan pasangan saya bangun selama 15 tahun kerja keras hancur dalam semalam — benar-benar musnah, tidak ada yang tersisa,” kata Afarideh. dikutip dari CNN.

Ledakan hebat terjadi pada 23 Maret saat militer Israel membidik kawasan di sisi timur ibu kota Iran tersebut.

Lokasi gedung yang hancur hanya berjarak kurang dari dua kilometer dari instalasi pangkalan udara militer setempat.

Untungnya, area sekolah dalam keadaan kosong karena pemilik telah meliburkan kegiatan belajar mengajar demi keselamatan jiwa.

Baca Juga: Iran Ejek Ultimatum Gila Trump yang Ingin Hancurkan Jembatan dan Pembangkit Listrik Dalam 4 Jam

Langkah antisipasi ini diambil tepat setelah ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai memanas.

Meski tidak ada korban jiwa di lokasi tersebut, kerugian materiil dan moril yang dialami pasangan musisi ini sangat masif.

Kisah mereka menjadi bukti nyata bagaimana konflik bersenjata menghancurkan kehidupan warga sipil di luar angka-angka statistik kematian.

Afarideh pertama kali menyadari ada sesuatu yang salah ketika alarm keamanan sekolahnya berbunyi sesaat setelah fajar menyingsing.

Awalnya ia menduga ada aksi kriminalitas biasa, namun pemandangan langit yang tertutup asap tebal mengubah firasatnya.

Kabut hitam yang sangat pekat membuat pandangan mata terbatas sehingga kendaraan sulit untuk menjangkau lokasi sekolah.

Setelah menunggu proses evakuasi otoritas setempat selesai, mereka baru diizinkan melihat unit sekolah yang berada di lantai empat.

Kondisi infrastruktur bangunan sangat memprihatinkan dengan tangga-tangga yang nyaris ambruk saat dipijak oleh mereka berdua.

“Dengan setiap lantai yang kami daki, tingkat kehancuran begitu parah sehingga tangga-tangga runtuh saat kami bergerak ke atas,” katanya.

Ruangan yang dulunya memiliki sistem kedap suara profesional kini hanya menyisakan tumpukan abu dan material bangunan.

Peralatan modern seperti sistem audio, televisi, hingga fasilitas belajar lainnya tidak ada satu pun yang bisa diselamatkan.

Beberapa sisa kayu dari gitar dan kecapi tradisional yang patah menjadi saksi bisu kekuatan ledakan drone tersebut.

“Tidak ada alat musik yang tersisa,” katanya.

“Tidak ada peralatan yang kami miliki — seperti TV, sistem audio, atau fasilitas apa pun yang seharusnya dimiliki oleh lembaga profesional — yang tersisa. Semua dinding yang telah dibangun dengan kedap suara akustik profesional hancur total,” lanjut Afarideh.

“Kekuatan ledakan drone itu begitu kuat sehingga seolah-olah semua barang ini tidak pernah ada,” tambahnya lagi.

Pihak Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memberikan pernyataan resmi mengenai operasional militer yang dilakukan di wilayah Teheran tersebut.

Mereka berdalih bahwa serangan itu merupakan tindakan terukur yang menyasar markas intelijen Pasukan Quds di dekat lokasi sekolah.

IDF mengklaim bahwa tindakan mereka tetap mematuhi hukum internasional meskipun berdampak pada bangunan sipil di sekitarnya.

“Dilakukan serangan tertarget pada markas besar intelijen Pasukan Quds di dekat lokasi yang ditentukan,” tegas pihak IDF.

Pihak militer menambahkan bahwa keuntungan militer dari serangan tersebut dinilai lebih signifikan dibandingkan dampak kerusakan kolateral yang terjadi.

Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat memilih untuk tidak memberikan detail informasi terkait peristiwa penghancuran gedung tersebut.

Kini Afarideh dan istrinya harus memutar otak untuk mencari dana segar guna membangun kembali mimpi mereka yang hancur.

Kehilangan ini juga berdampak pada puluhan guru muda yang kini kehilangan mata pencaharian di tengah krisis ekonomi Iran.

Estimasi total kerugian mencapai angka 42.000 dolar AS, jumlah yang sangat fantastis jika dibandingkan pendapatan rata-rata warga Iran.

Pasangan ini mulai bergerak mencari dukungan dari kementerian kebudayaan serta asosiasi musik demi keberlangsungan akademi tersebut.

Mereka percaya bahwa identitas bangsa yang kuat sangat bergantung pada pelestarian seni musik kepada generasi masa depan.

“Negara-negara seperti Iran, dengan ribuan tahun budaya dan seni, memiliki identitas kuat yang terikat pada musik,” kata Afarideh.

“Ketika identitas ini dimaksudkan untuk diwariskan melalui siswa kami dan kami kepada generasi mendatang, hal itu harus didukung,” tutupnya.

Load More