- Saiful Mujani melontarkan kritik keras terhadap Presiden Prabowo Subianto yang memicu kegaduhan publik pada Selasa, 7 April 2026.
- Pengamat politik UGM, Arya Budi, menegaskan pernyataan tersebut merupakan ekspresi kebebasan berpendapat yang sah secara konstitusional.
- Pemerintah disarankan fokus memperbaiki kinerja ekonomi dan kebijakan nyata daripada mendebat kritik verbal untuk menjaga stabilitas nasional.
Suara.com - Pernyataan keras pengamat politik senior sekaligus pendiri SMRC, Saiful Mujani yang menyentil narasi penggulingan Presiden Prabowo Subianto memicu kegaduhan di ruang publik. Namun, aksi "ceplas-ceplos" tersebut dinilai murni sebagai ekspresi demokrasi, bukan upaya makar yang melanggar hukum.
Pengamat Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Arya Budi, menegaskan dalam sistem demokrasi, pernyataan sekeras apa pun terhadap penguasa dilindungi oleh konstitusi.
"Tentu itu bukan makar ya, itu adalah kebebasan berpendapat yang dijamin oleh konstitusi," tegas Arya saat dihubungi Suara.com, Selasa (7/4/2026).
Arya juga menilai pernyataan Saiful Mujani tidak mengandung unsur penghinaan atau ejekan personal. Baginya, narasi tersebut adalah bentuk kegelisahan atau frustrasi seorang warga negara terhadap arah kepemimpinan nasional. Menurutnya, sah-sah saja bagi rakyat untuk menilai pemimpinnya "tidak becus" melalui diksi yang tajam.
"Jadi mau mengatakan menjatuhkan presiden, presiden nggak becus, atau mau yang soft maupun yang keras, tentu itu bagian dari kebebasan berpendapat. Dan di dalam pernyataan Saiful Mujani juga saya tidak melihat ada olok-olok ya, tidak ada penghinaan juga," tuturnya.
Ia menambahkan, batas antara kritik intelektual dan ancaman hukum memang sering menjadi perdebatan. Namun secara politis, ia menegaskan bahwa semua bentuk kritik adalah konstitusional.
Sementara soal etika, Arya menilai hal itu sangat subjektif karena kritik dialamatkan kepada pemegang kendali negara.
"Tidak ada kritik yang disebut inkonstitusional. Jadi semua kritik itu konstitusional. Persoalannya adalah apakah dia melewati batas etika atau tidak, itu pun sangat subjektif yang disebut etika tuh seperti apa karena kritik itu kan ditujukan kepada jabatan itu," paparnya.
Ekonomi Jadi Kunci Stabilitas
Terkait potensi gangguan stabilitas politik akibat narasi "gulingkan", Arya menyebut hal itu sangat bergantung pada kinerja nyata pemerintah.
Jika Prabowo Subianto mampu mengelola isu krusial seperti stabilitas harga bahan pokok dan ekonomi, maka kritik sekeras apa pun menurut Arya tidak akan mendapat momentum di masyarakat.
Tapi sebaliknya, Arya menyebut ancaman nyata bagi pemerintah bukanlah ucapan kritikus, melainkan kegagalan dalam menyejahterakan rakyat.
"Jika dia (pemerintah) gagal mengendalikan ekonomi, itu seluruh lapisan masyarakat itu akan bergejolak," ucapnya mengingatkan.
Karena itu Arya menyarankan agar pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo fokus pada evaluasi kebijakan daripada sibuk beradu argumen secara verbal. Menjawab kritik dengan kerja nyata dinilai Arya justru jauh lebih efektif ketimbang mengerahkan juru bicara untuk mendebat para pengkritik.
"Kalau responsnya bagus saya pikir kritik akan mental sendiri. Pemerintah saya pikir nggak perlu merespons secara verbal, tapi direspons melalui kebijakan atau keputusan politik. Nah dia harus mendengarkan," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Warga Sleman Sindir Pidato Prabowo Lewat Lomba Kupas Bawang, Pedihnya Bikin Menyerah
-
Gibran Turun Gunung, Cicilan Utang Korban Gempa NTT Bakal Dapat Kelonggaran
-
Satu Minggu Jelang Muktamar, 4 Nama Kandidat Ketum PBNU Mengerucut, Siapa Terkuat?
-
Wamenko Polkam: Pemulihan Korban Terorisme Jadi Tanggung Jawab Mutlak Negara
-
Sikat Pembakar Hutan! Kapolri Pastikan Beberapa Pelaku Karhutla Sudah Diringkus
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Aturan Feng Shui Dapur, Jangan Biarkan Rezeki Hangus karena Salah Letak Kompor
-
AI hingga Microchip, RI-China Buka Jalan Baru Kerja Sama Teknologi
-
Kalimantan Belum Selesai, Karhutla Kini Kepung Papua Tengah: Api Makin Meluas
-
Tampang Maulana Paputungan Ayah Keji Pembunuh Disertai Mutilasi Anak Kandung di Merauke
-
Beli Voucher Game di BRImo Dapat Cashback Saldo 50 Persen
-
Investasi RI Tembus Rp1.010 Triliun, HIPMI Dorong Pengusaha Lokal Ikut Menikmati Dampaknya
-
Karhutla Kalimantan Mengganas, Presiden Prabowo Optimistis Bisa Segera Dijinakkan
-
22,69 Juta Pengguna Kripto RI, Tantangan Berikutnya Bikin Mereka Tak Lari ke Platform Asing
-
Bukan Sekadar Hitung Langkah, Galaxy Watch Ultra2 dan Watch9 Bantu Atur Beban Latihan
-
Korban FOMO Merapat! Eksotisnya Wajah Sungai Bogowonto Purworejo Saat Surut