Iran mengancam hancurkan kilang gas Arab untuk mengusir pengaruh militer Amerika Serikat.
Ketegangan meningkat akibat serangan terhadap jembatan dan fasilitas petrokimia milik negara Iran.
Teheran meluncurkan serangan balasan ke-99 menggunakan teknologi sistem rudal ganda terbaru IRGC.
Suara.com - Ketegangan di kawasan Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah militer Iran mengeluarkan ancaman sangat serius.
Pihak Teheran berencana melumpuhkan seluruh aset energi di negara-negara Arab yang beraliansi dengan Amerika Serikat.
Langkah ekstrem ini diambil sebagai respons atas gangguan beruntun terhadap fasilitas publik di dalam negeri Iran.
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menjadi lembaga yang mengoordinasikan pesan peringatan keras terhadap pihak Barat ini.
Unit komando tersebut menegaskan bahwa kedaulatan infrastruktur negara adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.
Ancaman Kelangkaan Energi Global
Negara-negara pendukung kebijakan Washington kini berada dalam jangkauan target serangan balasan dari angkatan bersenjata Iran.
Skenario penghancuran ini dirancang untuk menciptakan kelangkaan minyak dan gas bumi dalam skala waktu yang panjang.
Iran berambisi memaksa militer Amerika Serikat angkat kaki sepenuhnya dari wilayah strategis Teluk melalui tekanan ekonomi.
Baca Juga: Ancaman Bak Neraka Jadi Kenyataan Militer AS Hantam Infrastruktur Vital Iran di Pulau Kharg
"Kami akan menargetkan infrastruktur AS dan sekutunya dengan cara yang akan merampas minyak dan gas kawasan dari mereka selama bertahun-tahun dan memaksa mereka untuk mundur dari kawasan tersebut," kata juru bicara Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari dalam sebuah pernyataan.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Teheran tidak akan ragu mengeksekusi serangan pada fasilitas petrokimia milik musuh.
Agresi Tanpa Provokasi Pemicu Konflik
Sejarah ketegangan terbaru ini bermula dari serangkaian serangan udara yang menyasar obyek vital di tanah Iran.
Sejak akhir Februari lalu, berbagai jembatan dan jalur kereta api nasional menjadi sasaran empuk militer asing.
Rezim Israel dan Amerika Serikat dituding sebagai dalang utama di balik sabotase yang merugikan rakyat Iran.
Hingga memasuki bulan April 2026, agresi militer tersebut dilaporkan masih terus berlangsung tanpa adanya gencatan senjata.
Republik Islam menganggap tindakan tersebut sebagai upaya ilegal untuk melemahkan fondasi ekonomi dan logistik nasional mereka.
Penolakan Ultimatum Donald Trump
Situasi semakin memanas setelah Gedung Putih memberikan tuntutan sepihak kepada pemerintah pusat di Teheran.
Presiden Donald Trump mendesak agar jalur perdagangan Selat Hormuz segera dibuka kembali untuk semua kapal.
Namun, Iran tetap mengunci jalur perairan sempit tersebut bagi pihak-pihak yang dianggap mendukung aksi kekejaman militer.
Pemerintah Iran secara resmi menyatakan tidak akan tunduk pada intimidasi atau ultimatum dalam bentuk apa pun.
Mereka menuntut penghentian total atas segala bentuk kekerasan bersenjata sebelum dialog diplomasi bisa kembali dibuka.
Inovasi Rudal Ganda Garda Revolusi
Sebagai bentuk nyata perlawanan, angkatan bersenjata Iran telah melancarkan serangan balasan dalam skala yang masif.
Operasi terbaru ini mencatatkan serangan ke-99 yang menyasar titik-titik paling sensitif milik intelijen Amerika Serikat.
Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC memamerkan kekuatan barunya dengan meluncurkan rudal dari sistem ganda.
Teknologi peluncuran serentak ini digunakan untuk pertama kalinya guna menembus sistem pertahanan udara lawan yang ketat.
Fokus serangan balasan ini meliputi pusat komando keamanan serta simpul ekonomi penting milik rezim Zionis saat ini.
Kelanjutan Operasi Militer Iran
Juru bicara militer menegaskan bahwa gelombang serangan ini bukan merupakan aksi terakhir dari pihak angkatan bersenjata.
Intensitas serangan diprediksi akan terus meningkat jika tuntutan perdamaian dari pihak Iran tidak segera dipenuhi.
Operasi penghancuran ini diklaim sangat efektif dalam memberikan efek jera terhadap pusat-pusat kriminalitas internasional di kawasan.
"Gelombang operasi yang efektif dan menghancurkan oleh Angkatan Bersenjata Iran terhadap infrastruktur militer, keamanan, dan ekonomi rezim Zionis di wilayah pendudukan, serta terhadap pusat-pusat yang terkait dengan Amerika Serikat yang kriminal di kawasan tersebut, akan terus berlanjut dengan intensitas dan volume yang lebih besar," ujar Zolfaqari.
Dunia kini menanti apakah diplomasi mampu meredam potensi perang terbuka yang bisa menghancurkan ekonomi global tersebut.
Iran tetap pada pendiriannya untuk membalas setiap peluru yang ditembakkan ke arah kedaulatan infrastruktur nasional mereka.
Eskalasi di lapangan menunjukkan bahwa kesiapan tempur personel militer Iran saat ini sedang berada pada level tertinggi.
Ketegangan di Selat Hormuz dipastikan akan terus berlanjut selama blokade energi dijadikan sebagai senjata utama diplomasi.
Hingga kini belum ada tanda-tanda penurunan aktivitas militer dari kedua belah pihak yang sedang berseteru hebat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- 7 Bedak Anti Luntur Kena Keringat saat Cuaca Panas, Makeup Tetap On Seharian
- Geger! Saiful Mujani Serukan "Gulingkan Prabowo": Dinasihati Nggak Bisa, Bisanya Hanya Dijatuhkan
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 4 HP Tahan Air yang Bisa Digunakan saat Berenang, Anti Rusak dan Anti Rewel
Pilihan
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
-
Berkas 4 Oknum BAIS TNI Tersangka Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Dilimpahkan ke Otmil
-
Resmi! Lurah Kalisari Dinonaktifkan Buntut Skandal Tangani Laporan di JAKI Pakai Foto AI
-
Efek Konflik Global: Plastik Langka, Pedagang Siomay hingga Penjual Jus Tercekik Biaya Produksi
-
Serangan Brutal di Istanbul, 3 Orang Tewas di Dekat Konsulat Israel
Terkini
-
Politisi Demokrat Dorong Pemakzulan Donald Trump dan Menteri Perang AS
-
Trump Ancam Musnahkan 'Satu Peradaban' di Iran, Wapres AS Buru-buru Meluruskan
-
Pejabat Israel Akui Mojtaba Khamenei Masih Hidup dan Berada di Kota Ini
-
Trump Tunda Serangan ke Iran Selama 2 Minggu
-
Viral Aksi Nyeleneh Pria Pakai Baju Muslim Minum Oli Mesin di Makassar, MUI Sulsel: Itu Haram!
-
Vonis Gugatan atas Sangkalan Fadli Zon soal Perkosaan Massal 1998 Digelar 21 April
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
-
Ancaman Bak Neraka Jadi Kenyataan Militer AS Hantam Infrastruktur Vital Iran di Pulau Kharg
-
Mojtaba Khamenei Diklaim Kritis, Intelijen AS Bocorkan Memo Rahasia Tentang Kelumpuhan Iran
-
Ledakan Dahsyat Guncang Teheran Saat Rudal Amerika-Israel Hancurkan Permukiman di Provinsi Alborz