- Pejabat Israel menyatakan Mojtaba Khamenei masih hidup namun tidak mampu menjalankan pemerintahan akibat kondisi kesehatan yang buruk.
- Laporan intelijen menyebut Mojtaba sedang menjalani perawatan medis di kota Qom dan tidak terlibat pengambilan keputusan strategis.
- Klaim tersebut muncul setelah Mojtaba dikabarkan terluka parah dalam serangan udara yang menewaskan ayahnya, Ali Khamenei.
Suara.com - Seorang pejabat senior Israel mengungkapkan bahwa Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran saat ini masih hidup.
Namun pejabat senior Israel itu mengklaim bahwa kondisi fisik Mojtaba Khamenei tidak bagus untuk menjalankan roda pemerintahan Iran.
“Dia hidup, tetapi tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk memimpin Iran,” ujar sumber tersebut, seperti dikutip dari laporan militer Israel dilansir dari Channel 14, Rabu (8/4).
Masih menurut laporan intelejen Israel, Mojtaba tidak lagi terlibat dalam pengelolaan aparat negara maupun pengambilan keputusan strategis.
Menurut sumber media Israel, Mojtaba dianggap gagal mengendalikan dinamika politik dan militer yang semakin kompleks di tengah gempuran Israel dan Amerika Serikat.
Namun klaim itu terbantahkan dengan keteguhan Iran menolak kesepakatan damai yang diajukan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Sementara itu, laporan lain yang dikaitkan dengan intelijen Amerika Serikat menyebut kondisi Mojtaba sangat kritis.
Mojtaba dilaporkan tengah menjalani perawatan di kota Qom, sekitar 140 kilometer selatan Teheran, dan tidak berada di ibu kota.
Meski tidak sepenuhnya tidak sadarkan diri, sumber tersebut menegaskan bahwa Mojtaba tidak lagi memiliki peran aktif dalam menjalankan negara.
Baca Juga: Ancaman Bak Neraka Jadi Kenyataan Militer AS Hantam Infrastruktur Vital Iran di Pulau Kharg
“Ia tidak terlibat dalam pengambilan keputusan penting,” demikian isi laporan tersebut.
Sebelumnya, Mojtaba Khamenei disebut mengalami luka parah dalam serangan udara yang menewaskan sejumlah anggota keluarganya, termasuk sang ayah Ali Khamenei.
Kontributor: Adam Ali
Berita Terkait
-
Trump Tunda Serangan ke Iran Selama 2 Minggu
-
Iran Ancam Hancurkan Kilang Minyak Arab Jika AS dan Israel Terus Nekat Mengganggu Infrastruktur
-
Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
-
Terpopuler: Trump Ancam Habisi Iran dalam Satu Malam, Komdigi Cecar Google-Meta
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Terdakwa Militer Dituntut Ringan, Keluarga Kacab BRI Gugat Pasal Peradilan Koneksitas ke MK
-
Hujan Lebat Disertai Petir Ancam Akhir Pekan Warga Jakarta Selatan dan Timur Jelang Petang
-
Program MBG Serap 1,28 Juta Tenaga Kerja, Ribuan UMKM hingga Peternak Ikut Kecipratan
-
Jateng Genjot Investasi EBT dan Pengelolaan Sampah, Ahmad Luthfi Tawarkan ke Para Pengusaha Tiongkok
-
'Kan Bisa di-Google', Jimly Asshiddiqie Sindir Pansel yang Loloskan Hery Susanto
-
Pansel Dinilai Kecolongan Loloskan Hery Susanto Jadi Ketua Ombudsman
-
Studi Temukan Mikroplastik Menyusup ke Sperma dan Ketuban, Apa Dampaknya?
-
Momen Prabowo Mau Reshuffle Zulhas Gara-Gara Salah Kasih Info Nama Desa, Ternyata Cuma Guyon
-
Hindari Area Kuningan, Dishub DKI Terapkan Buka-Tutup Jalan Hingga 26 Mei 2026
-
Usai 9 WNI Dipulangkan, Wanda Hamidah Serukan Konvoi Lebih Besar ke Palestina