Suara.com - Indonesia saat ini berada dalam masa transisi menuju energi terbarukan. Hal ini dilatarbelakangi oleh posisi Indonesia sebagai salah satu negara penghasil emisi karbon terbesar di Asia, sebagaimana dilaporkan dalam Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA).
Untuk menangani permasalahan tersebut, Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi dengan menargetkan Net Zero Emission 2026.
Selain itu, Indonesia juga telah menandatangani Perjanjian Paris yang kebijakannya tercantum dalam Undang-undang Nomor 16 Tahun 2016. Perjanjian ini juga mendorong Indonesia untuk melakukan transisi energi sebagai bagian dari upaya global dalam menekan laju pertumbuhan iklim.
Dalam penerapannya, pemerintah mulai merencanakan pemensiunan pembangkit listrik tenaga batubara atau yang biasa dikenal sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Salah satu pemicu transisi ini adalah meningkatnya emisi yang dihasilkan dari sektor energi.
Dilansir dari Low Carbon Development Indonesia, (7/4/2026), pada tahun 2022 sektor energi menyumbang sekitar 50,6 persen emisi dari sektor energi dan transportasi. Pada tahun 2023, kontribusi tersebut meningkat menjadi 55 persen, sebagaimana terlampir dalam data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Transformasi Energi Membutuhkan Biaya yang Besar
Tindakan pemensiunan PLTU merupakan kebijakan yang tepat. Namun, dalam pelaksanaannya tentu tidak mudah karena membutuhkan dana yang besar. Untuk mendapatkan modal dalam mencapai transisi energi ini, pemerintah mengandalkan dua program, yaitu Just Energy Transition Partnership for Indonesia (JETPI) dan Energy Transition Mechanism (ETM).
JETPI merupakan program perjanjian kemitraan yang diluncurkan oleh pemerintah Indonesia bersama sekelompok negara dibawah naungan International Partner Group ( IPG ) pada tahun 2022. Proyek ini menjanjikan pendanaan sebesar 20 miliar dollar AS atau sekitar 300 triliun rupiah, yang nantinya akan disalurkan oleh negara-negara maju yang tergabung dalam IPG.
Sementara itu, ETM adalah platform pembiayaan yang dikelola oleh Asian Development Bank (ADB) untuk mempercepat penutupan PLTU.
Baca Juga: Perang Iran Picu Krisis Energi Global, Bisakah Energi Terbarukan Jadi Jalan Keluar?
Namun, hambatan muncul ketika proyek ETM terhenti dan kemajuan JETPI berjalan dengan lambat. Selain itu, mayoritas dana dari program JETPI bersifat hutang yang harus dibayarkan oleh pemerintah Indonesia. Kondisi ini menempatkan Indonesia dalam posisi yang penuh dilema, di mana kita dituntut untuk segera bertransisi, tetapi di sisi lain dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk melakukan transformasi tersebut.
Masalah Kelebihan Pasokan Listrik dan Cara Memperoleh Dana Investor
Dilansir dari energy and clean air (7/4/2026), selain masalah biaya, transisi ini juga sulit dijalankan di Indonesia karena negara kita mengalami kelebihan pasokan listrik di wilayah Jawa, Bali, dan sumatera yang masih didominasi oleh penggunaan PLTU.
Situasi ini membuat ruang transformasi menjadi lebih sempit. Selain itu, Indonesia harus memiliki tata kelola dan data permintaan listrik yang jelas serta jaminan yang kuat agar para investor mau mencarikan dana yang besar untuk membantu transisi energi ini.
Oleh karena itu, dibutuhkan inisiasi segera dari pemerintah untuk menemukan solusi atas tantangan-tantangan yang ada.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Bebas Kusam! Ini 5 Body Serum Efek Tone Up untuk Tampilan Kulit Cerah
-
5 Perbedaan PIE dan PIH Bekas Jerawat dan Cara Membedakannya
-
Dari Fashion ke Wellness, Ariy Arka Menemukan Cara Baru Merawat Diri di Tengah Rutinitas
-
Jangan Tertukar! Ini Perbedaan Komponen Biotik dan Abiotik di Sekitar Kita Beserta Contohnya
-
Bukan Sekadar Baca Slide! 4 Rahasia Presentasi Maut untuk Pikat Klien
-
Wajah Kemanusiaan di Tengah Kesenjangan Kelas dalam Film 'Parasite'
-
Senin 24 Agustus 2026 Bank Buka atau Tidak? Ini Jadwal Operasional saat Libur Maulid Nabi
-
Bahlil Jawab Isu Pembatasan Pertalite: Masih Dikaji, Belum Ada Perubahan!
-
Mendagri Jawab Isu Haji Isam Koordinir Karhutla Kalsel Atas Mandat Prabowo
-
5 Sampo Uban Terbaik untuk Pria, Praktis Tak Gampang Luntur