- Anggota DPR Mufti Anam mendesak pemerintah segera membebaskan dua kapal tanker Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz pada April 2026.
- Pemerintah dituntut melakukan langkah diplomasi tingkat tinggi secara cepat agar tidak kalah bersaing dengan negara tetangga dalam urusan strategis.
- Momentum gencatan senjata harus dimanfaatkan untuk mempercepat pengamanan stok energi nasional guna mengantisipasi gejolak konflik global di masa depan.
Suara.com - Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, memberikan kritik tajam terhadap efektivitas diplomasi Indonesia menyusul dibukanya kembali Selat Hormuz selama masa gencatan senjata dua pekan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Ia menilai momentum ini merupakan ujian nyata bagi "taring" diplomasi Indonesia untuk menyelamatkan aset strategis nasional.
Sorotan utama Mufti tertuju pada dua kapal tanker milik Pertamina yang hingga kini dilaporkan masih tertahan di jalur tersebut. Padahal, Iran telah menegaskan bahwa pelayaran di Selat Hormuz diperbolehkan selama periode gencatan senjata dengan syarat koordinasi militer.
"Dibukanya Selat Hormuz selama dua minggu ini peluang sekaligus ujian bagi negara kita. Ujian apakah diplomasi kita ini benar-benar bekerja untuk kepentingan nasional," ujar Mufti kepada wartawan, Rabu (8/4/2026).
Mufti menyindir banyaknya kunjungan strategis pejabat negara ke luar negeri yang selama ini sering digembar-gemborkan.
Ia menuntut hasil konkret dari hubungan internasional tersebut, bukan sekadar formalitas atau retorika pertemuan.
Ia pun membandingkan kemampuan diplomasi Indonesia dengan negara tetangga.
"Sebelumnya, ketika situasi lebih sulit, negara lain seperti Malaysia bisa mengeluarkan kapal tangkernya dari Selat Hormuz. Lalu kita bagaimana? Jangan sampai Indonesia terlihat di mata dunia seperti tidak punya daya tawar," cetusnya.
Bagi legislator asal Jawa Timur ini, masalah tertahannya tanker Pertamina bukan hanya soal logistik energi, melainkan menyangkut harga diri dan wibawa negara di mata internasional.
Baca Juga: 30 Negara Bersatu Rancang Strategi Pembukaan Selat Hormuz Pasca Gencatan Senjata
Mengingat masa gencatan senjata hanya berlangsung selama 14 hari, Mufti mendesak pemerintah untuk meninggalkan ritme birokrasi biasa dan segera melakukan langkah luar biasa.
Ia meminta adanya tekanan diplomatik yang nyata, bahkan jika perlu dilakukan komunikasi langsung antar kepala negara.
"Dua minggu itu bukan waktu yang panjang. Kalau kita lambat, kesempatan ini bisa hilang. Harus ada komunikasi level tinggi, bahkan kalau perlu langsung antar kepala negara. Negara lain bergerak cepat, kita tidak boleh tertinggal," tegasnya.
Selain masalah pembebasan tanker, Mufti juga mengingatkan pemerintah untuk memanfaatkan masa relaksasi ini guna memperkuat ketahanan energi nasional. Ia menyarankan percepatan impor dan pengamanan stok energi selama harga minyak dunia relatif terkendali.
"Ini saat yang tepat untuk memperkuat stok energi nasional. Impor harus dipercepat, stok harus diamankan sebanyak mungkin. Jangan sampai nanti kita panik ketika kondisi kembali memanas," kata Mufti.
Ia berharap pemerintah tidak reaktif dalam menghadapi gejolak di jalur urat nadi energi dunia seperti Selat Hormuz. Pemerintah diminta mulai menyusun skenario darurat jangka panjang agar Indonesia tidak terus menjadi korban setiap kali ada konflik global.
Berita Terkait
-
30 Negara Bersatu Rancang Strategi Pembukaan Selat Hormuz Pasca Gencatan Senjata
-
Terungkap! AS Sudah 'Ngemis' Minta Ampun Sejak Hari ke-10 Perang, Kini Tunduk pada 10 Syarat Iran
-
Kebijakan WFH di Tengah Krisis Energi: Solusi Sementara atau Jawaban Jangka Panjang?
-
Kesepakatan AS-Iran: Gencatan Senjata Dimulai, Selat Hormuz Kembali Dibuka
-
Apa Itu Ghost Murmur? Teknologi Baru yang Digunakan CIA untuk Temukan Pilot AS di Iran
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
-
90 Menit yang Menentukan! Trump Tak Jadi Pakai Senjata Nuklir ke Iran karena Ditekan?
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
Terkini
-
Kuasa Hukum Ungkap Kunjungan Gibran Saat Jenguk Andrie Yunus: Mendadak dan Tak Ada Komunikasi
-
Oposisi Israel Ngamuk! Sebut Netanyahu Gagal Total Usai Sepakati Gencatan Senjata dengan Iran
-
Tak Dibantu NATO saat Perang Iran, Trump Kembali Ingin Caplok Greenland
-
Cerita Prabowo Keliling Banyak Negara untuk Amankan Suplai Minyak Indonesia
-
Prabowo: Kalau Terjadi Perang Dunia III, Indonesia Termasuk Negara Aman
-
Efisiensi Haji, Prabowo Perintahkan Bentuk Perusahaan Patungan Garuda IndonesiaSaudia Arabia
-
Periksa Saksi Kasus Pemerasan TKA, KPK Telusuri Aset Eks Sekjen Kemnaker Heri Sudarmanto
-
Prabowo: Hoaks dan Manipulasi AI Bisa Ganggu Stabilitas Negara, 100 Orang Saja Bisa Bikin Gaduh
-
Kondisi Terkini Andrie Yunus di RSCM: Masih Perawatan Ketat, Jalani Operasi Berulang
-
Gencatan Senjata dengan Iran Disepakati, Netanyahu Dihujani Badai Kritik di Israel