- Amerika Serikat menginisiasi gencatan senjata dengan Iran pada 8 April 2026 yang disetujui oleh pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
- Pemimpin oposisi Israel mengecam keputusan tersebut karena dianggap gagal mencapai target strategis dan merusak keamanan nasional jangka panjang.
- Para politisi oposisi menilai kesepakatan itu memberikan Iran kesempatan untuk berkonsolidasi tanpa adanya jaminan penghentian program militer mereka.
Suara.com - Keputusan menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran yang diinisiasi oleh Amerika Serikat (AS), justru menyulut api politik di dalam negeri Israel.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini dihujani badai kritik dari para pemimpin oposisi yang menuduhnya telah gagal total dalam mencapai tujuan perang dan membahayakan keamanan nasional.
Meskipun kantor Netanyahu menyatakan Israel mendukung langkah Presiden AS Donald Trump untuk menangguhkan serangan, para rival politiknya melihat kesepakatan ini sebagai sebuah bencana.
Pemimpin oposisi utama, Yair Lapid melontarkan kritik paling keras.
"Tidak pernah ada bencana politik seperti ini sepanjang sejarah kita. Israel bahkan tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan mengenai inti keamanan nasional kita," kritik Yair Lapid dalam pernyataan via media sosial X Rabu (8/4/2026).
Lapid menuduh Netanyahu telah gagal di semua lini, meskipun militer dan masyarakat telah menunjukkan kekuatan luar biasa.
"Militer telah melaksanakan semua yang diminta dari mereka, dan masyarakat menunjukkan ketahanan yang luar biasa, tetapi Netanyau telah gagal secara politik, gagal secara strategis, dan tidak mencapai satu pun tujuan yang telah dia tetapkan sendiri," sebutnya.
Tujuan perang yang ditetapkan Netanyahu sendiri memang sangat ambisius, mulai dari pemusnahan program nuklir Iran, netralisasi kemampuan rudal balistik, hingga melemahkan pengaruh regional Teheran.
Semua target ini, menurut oposisi, tidak tercapai.
Baca Juga: Hizbullah Ancam Israel: Jika Langgar Gencatan Senjata, Iran Siap Turun Tangan
"Akan butuh waktu bertahun-tahun bagi kita untuk memperbaiki kerusakan politik dan strategis yang disebabkan Netanyahu karena kesombongan, kelalaian, dan kurangnya perencanaan strategis," kata Lapid.
Kritik tajam juga datang dari ketua Partai Demokrat Israel, Yair Golan yang tanpa ragu menyebut gencatan senjata ini sebagai kegagalan strategis Netanyahu.
"Dia menjanjikan kemenangan bersejarah dan keamanan untuk generasi mendatang, dan dalam praktiknya, kita mendapatkan salah satu kegagalan strategis paling parah yang pernah dialami Israel. Ini adalah kegagalan total yang membahayakan keamanan Israel selama beberapa tahun ke depan," kritik Golan.
Anggota parlemen dan tokoh oposisi lainnya, Avigdor Liberman juga mengecam keras kesepakatan tersebut.
Ia khawatir gencatan senjata ini hanya akan memberikan rezim Iran 'kesempatan untuk melakukan regroup' atau berkonsolidasi kembali.
"Kesepakatan apa pun dengan Iran yang tidak mencakup penolakan penghancuran Iran, pengayaan uranium, produksi rudal balistik, dan dukungan untuk organisasi teroris di kawasan itu, berarti kita harus kembali ke kampanye lainnya dalam kondisi yang lebih sulit dan membayar harga yang lebih mahal," tukasnya.
Berita Terkait
-
Pemberontakan Para Jenderal di Pentagon, Gagalnya Serangan Darat Trump ke Iran
-
Negara Teluk Sambut Gencatan Senjata Iran-AS, Dorong Diplomasi Menuju Perdamaian Permanen
-
Turki Kecam Israel yang Rusak Semua Upaya Akhiri Konflik Timteng
-
Kilang Minyak Iran Diserang Usai Gencatan Senjata Diumumkan
-
Siapa Shehbaz Sharif? Tokoh Kunci di Balik Gencatan Senjata AS-Iran
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- Promo Superindo Terbaru, Minyak Goreng Cuma Rp20 Ribuan, Susu dan Kecap Diskon Besar
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Wafat Jelang Puncak Armuzna, Jemaah Haji Asal Pekanbaru Bakal Dibadalhajikan
-
Usut Penyebab Blackout Sumatra, Bareskrim Periksa Bukti Sutet Putus di Jambi
-
Pesantren Dikepung Kekerasan Seksual, KUPI: SOP dan Bu Nyai Jadi Solusi Utama
-
BGN Segera Susun Bank Menu, Pengawas Gizi Kini Tak Pusing Lagi
-
Dedi Mulyadi Dorong Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih
-
Bulog Ajak Mahasiswa dan Kampus untuk Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan
-
Cuma Gara-gara Saling Pandang! Geng Motor Bacok Remaja di Flyover Cibodas
-
Geger WNA Jepang Ngaku Ditawari Prostitusi Anak 'Perawan' di Lokasari Jakarta Barat
-
Prancis Larang Menteri Israel Masuk Negaranya usai Video Aktivis Flotilla Gaza Viral
-
Setop Pembangunan Top-Down! Saatnya Suara Perempuan Akar Rumput Masuk Kebijakan Nasional