-
China veto resolusi Selat Hormuz untuk cegah legitimasi operasi militer ilegal Amerika Serikat.
-
Beijing sebut konflik Iran penyebab utama krisis energi global dan gangguan jalur laut.
-
Usulan resolusi tandingan diajukan China dan Rusia demi mendorong dialog damai di kawasan.
Suara.com - Ketegangan diplomatik di markas besar PBB kembali memuncak saat China mengambil langkah tegas terhadap usulan aturan navigasi.
Pemerintah China secara resmi mengungkapkan alasan di balik keputusan mereka menggunakan hak veto terhadap draf resolusi Selat Hormuz.
Langkah ini diambil karena Beijing menilai usulan yang diajukan oleh Bahrain tersebut berpotensi memicu ledakan konflik yang lebih luas.
China menganggap bahwa rancangan aturan tersebut tidak menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya terjadi di perairan strategis itu.
Ketidakstabilan yang terjadi saat ini dipandang sebagai konsekuensi langsung dari aktivitas bersenjata pihak asing di wilayah tersebut.
“Penyebab utama gangguan di Selat Hormuz adalah operasi militer ilegal AS dan Israel terhadap Iran. Tindakan Dewan tidak boleh melegitimasi penggunaan kekuatan, apalagi memperkeruh situasi,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Rabu.
Pernyataan tegas tersebut menjadi dasar mengapa China memilih untuk berdiri berseberangan dengan mayoritas anggota Dewan Keamanan PBB.
Pemungutan suara yang berlangsung pada Selasa (7/4) memperlihatkan peta kekuatan politik yang sangat terbelah di antara negara besar.
Dalam voting tersebut tercatat ada sebelas negara anggota yang memberikan dukungan penuh terhadap draf resolusi Bahrain.
Baca Juga: Buktikan Prediksi PBB, Prabowo Ingatkan Menteri: Pangan, Energi, dan Air Masalah Hidup Mati Bangsa
Namun China bersama Rusia memilih untuk menolak mentah-mentah sehingga resolusi tersebut otomatis tidak dapat diberlakukan secara internasional.
Sementara itu terdapat dua negara yang memilih untuk abstain dalam proses pengambilan keputusan yang sangat krusial tersebut.
Pakistan yang selama ini memposisikan diri sebagai penengah antara Washington dan Teheran termasuk dalam daftar negara yang abstain.
Bahrain sendiri mengusulkan draf tersebut dengan sokongan penuh dari negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk.
Meski sudah melewati proses revisi sebanyak lima kali naskah tersebut tetap dianggap bermasalah oleh pihak Beijing dan Moskow.
Isi draf sebenarnya telah dihaluskan dengan mengubah narasi serangan ofensif menjadi sekadar tindakan perlindungan jalur laut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- Promo Superindo Terbaru, Minyak Goreng Cuma Rp20 Ribuan, Susu dan Kecap Diskon Besar
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Listrik Sumatra Utara Sudah Pulih 100 Persen, PLN Minta Warga Waspada Hoaks
-
Penuh Haru! 9 WNI Korban Penyekapan Israel Akhirnya Tiba di Indonesia
-
Tepis Mitos 'Lebih Aman', BPOM: 5 Juta Anak Darurat Merokok Akibat Tipu Daya Vape!
-
KUPI: Kekerasan Seksual di Pesantren Adalah Bentuk Penistaan Agama!
-
Wafat Jelang Puncak Armuzna, Jemaah Haji Asal Pekanbaru Bakal Dibadalhajikan
-
Usut Penyebab Blackout Sumatra, Bareskrim Periksa Bukti Sutet Putus di Jambi
-
Pesantren Dikepung Kekerasan Seksual, KUPI: SOP dan Bu Nyai Jadi Solusi Utama
-
BGN Segera Susun Bank Menu, Pengawas Gizi Kini Tak Pusing Lagi
-
Dedi Mulyadi Dorong Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih
-
Bulog Ajak Mahasiswa dan Kampus untuk Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan